Redaksiku.com – Konflik antara Yai Mim, eks dosen UIN Malang, dengan tetangganya Sahara dan suaminya Sofyan ternyata masih terus menarik perhatian publik.
Setelah sempat viral di media sosial dan menuai berbagai reaksi, kini kasus tersebut mulai mendapat perhatian dari pejabat publik.
Salah satunya datang dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang turun langsung menemui Yai Mim di kediamannya di Perumahan Joyogrand Kavling Depag III, RT 09/RW 09, Malang, Jawa Timur.
Kedatangan KDM pada Jumat (4/10/2025) itu bertujuan untuk mendengarkan langsung kronologi masalah dari Yai Mim sekaligus membantu mencari jalan damai agar konflik panjang ini benar-benar berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Disambut Langsung oleh Yai Mim
Begitu tiba di lokasi, KDM langsung disambut oleh Yai Mim yang terlihat antusias namun tetap berhati-hati dalam menjelaskan duduk perkara. Ia segera mengajak KDM melihat batas-batas tanah yang menjadi sumber konflik antara dirinya dan tetangga.
Ini tanah saya, ucap Yai Mim sambil menunjuk lahan di sekitar rumahnya.
Seperti diketahui, konflik ini bermula dari sengketa lahan dan akses jalan antara Yai Mim dan Sahara, pemilik usaha rental mobil di kawasan yang sama. Keributan bahkan sempat memanas di media sosial, terutama setelah muncul tuduhan pelecehan dan penyerobotan tanah yang melibatkan kedua belah pihak.
Namun di hadapan Kang Dedi, Yai Mim menegaskan bahwa dirinya sudah berdamai dengan Sahara dan suaminya.
Kalau dengan Mbak Sahara sudah selesai. Dengan Pak Sofwan juga sudah selesai, ujarnya.
Sudah Saling Memaafkan
Lebih lanjut, Yai Mim menceritakan bahwa ia telah meminta maaf secara langsung kepada Sahara dan Sofyan untuk mengakhiri konflik.
Tadi pagi-pagi aku minta maaf, ˜Pak Sofyan sahabatku, saudaraku yang selalu the king of kong,™ katanya sambil tertawa kecil.
KDM pun menanggapinya dengan bijak, mengingatkan bahwa kedamaian sejati bukan hanya soal menyelesaikan masalah, tapi juga memaafkan sepenuhnya.
Ia kemudian menanyakan kepada Yai Mim apakah masih ada pihak lain yang belum berdamai dengannya.
Belum selesai dengan siapa lagi? Hidup ini harus selesai dengan siapapun, ujar KDM menasihati.
Yai Mim langsung menimpali, Ndak ada, ndak ada, menegaskan bahwa ia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi.
Muncul Ketua RW di Tengah Dialog
Namun suasana yang semula cair mendadak berubah tegang ketika Ketua RW 09, Wahyu, tiba-tiba muncul dan berdiri di samping KDM.
Reaksi Yai Mim pun spontan. Ia tampak kaget sekaligus heran melihat kehadiran sosok yang disebutnya sebagai orang yang pernah mengusir dirinya.
Gak kenal saya dengan ini. Ini siapa iki? Pak Wahyu yah? kata Yai Mim dengan nada tajam.
Lalu tanpa basa-basi, ia menunjuk ke arah Wahyu dan berkata lantang, Pak Wahyu ini yang ngusir saya. Ya, ini yang ngusir saya!
Pernyataan itu membuat suasana sempat menegang. Beberapa warga sekitar yang hadir tampak terdiam menyaksikan perbincangan dua tokoh itu di depan Gubernur.
Tuduhan Soal Identitas Domisili
Yai Mim kemudian menuding bahwa Wahyu menuduhnya bersalah karena identitas kependudukannya tidak sesuai dengan alamat tempat tinggalnya.
Dia yang menyalahkan saya karena katanya saya melakukan kesalahan fatal, gak punya KTP sini, ujar Yai Mim.
Mendengar hal itu, Wahyu berusaha menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud mengusir, melainkan hanya menyarankan agar Yai Mim segera mengurus KTP sesuai domisili.
Saya menyarankan anda untuk segera mengurus KTP. Itu saja, jawab Wahyu dengan tenang.
Namun, Yai Mim tidak tinggal diam. Ia mengatakan bahwa sudah mencoba mengurus dokumen tersebut, tapi gagal karena tanda tangan Ketua RT tidak diberikan.
Tapi kenapa waktu saya urus, gak ditandatangani oleh RT sampean? tanya Yai Mim.
Wahyu mencoba meredam suasana dengan menyarankan agar komunikasi dilakukan secara baik.
Monggo, komunikasi anda, ujarnya singkat.
KDM Minta Soal KTP Segera Diselesaikan
Melihat perdebatan mulai memanas, Kang Dedi Mulyadi langsung turun tangan. Ia meminta agar masalah administrasi kependudukan ini segera diselesaikan secara damai tanpa perlu berlarut-larut.
Sekarang tanda tanganin aja, apa susahnya? kata KDM tegas namun tetap dengan nada bersahabat.
Pernyataan KDM itu disambut tepuk tangan kecil dari warga yang hadir. Banyak yang menilai langkah Gubernur ini tepat untuk mendinginkan suasana sekaligus memberikan solusi konkret di tempat.
Namun, meski KDM berusaha menengahi, Yai Mim mengaku sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah tersebut.
Gak akan, aku sudah gak boleh pindah di sini, katanya pelan namun mantap.
Warga Harap Konflik Benar-Benar Berakhir
Setelah percakapan itu, suasana kembali sedikit tenang. KDM kemudian berbincang singkat dengan warga sekitar, meminta mereka untuk tidak memperpanjang konflik dan menjaga kerukunan antar tetangga.
Ia menegaskan bahwa masalah sosial sekecil apa pun bisa membesar jika tidak diselesaikan dengan komunikasi dan empati.
Hidup bertetangga itu harus penuh toleransi. Jangan biarkan ego mengalahkan rasa kemanusiaan, kata KDM di hadapan warga.
Warga sekitar menyambut baik langkah KDM yang mau turun langsung. Banyak yang berharap kehadiran Gubernur Jabar ini bisa menjadi angin segar untuk mengakhiri ketegangan yang sudah berjalan berbulan-bulan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






