Redaksiku.com – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional atau ATR/BPN mempercepat program sertifikasi tanah gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.
Langkah terbaru tersebut ditandai dengan penandatanganan Surat Edaran Bersama tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Lintas Sektor bagi MBR pada Selasa, 21 Juli 2026.
Surat edaran ditandatangani Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, serta Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti.
Program tersebut bertujuan memastikan masyarakat tidak hanya memperoleh rumah layak, tetapi juga mempunyai kepastian hukum atas tanah yang ditempati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian ATR/BPN memprioritaskan sekitar 1,1 juta rumah penerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS periode 2015–2024 untuk ditelusuri dan diselesaikan proses sertifikasinya.
Ringkasan Kebijakan Terbaru Kementerian Agraria
| Keterangan | Informasi |
|---|---|
| Program | Sertifikasi tanah gratis sektor perumahan untuk MBR |
| Dasar terbaru | Surat Edaran Bersama tiga lembaga |
| Ditandatangani | 21 Juli 2026 |
| Lembaga terlibat | ATR/BPN, Kementerian PKP, dan BPS |
| Prioritas awal | Sekitar 1,1 juta rumah BSPS 2015–2024 |
| Data berikutnya | 45.000 rumah BSPS 2025 |
| Data BSPS 2026 | 400.000 rumah |
| Kelompok penerima | Bantuan pemerintah, FLPP, dan MBR mandiri |
| Verifikasi | Data program perumahan dan DTSEN |
| Pelaksanaan | Melalui Kanwil BPN dan Kantor Pertanahan daerah |
Angka tersebut merupakan cakupan data yang akan diperiksa dan diproses, bukan berarti seluruh rumah otomatis langsung memperoleh sertifikat. Penerima tetap harus memenuhi kriteria MBR, mempunyai data pertanahan yang dapat diproses, dan lolos verifikasi lintas lembaga.
Apa Isi Surat Edaran Bersama?
Surat Edaran Bersama mengatur pembagian tugas antara Kementerian ATR/BPN, Kementerian PKP, dan BPS dalam mempercepat pendaftaran tanah masyarakat berpenghasilan rendah.
Kerja sama mencakup penyediaan data, fasilitasi proses pertanahan, verifikasi penerima manfaat, serta dukungan kantor pertanahan di tingkat provinsi dan kabupaten atau kota.
Kementerian PKP mempunyai data penerima bantuan perumahan dan pembiayaan rumah. BPS membantu memastikan status sosial ekonomi calon penerima, sedangkan Kementerian ATR/BPN menangani proses pemeriksaan, pengukuran, pendaftaran, dan penerbitan hak atas tanah sesuai ketentuan.
Integrasi tersebut diperlukan agar program tidak hanya mengandalkan pengajuan masyarakat secara terpisah, tetapi menggunakan data penerima bantuan pemerintah yang telah tersedia.

Tiga Kelompok Penerima Sertifikasi Gratis
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid menjelaskan bahwa program sertifikasi tanah MBR dibagi menjadi tiga kelompok utama.
1. Penerima Bantuan Pemerintah
Kelompok pertama adalah masyarakat yang menerima program bantuan perumahan pemerintah, termasuk Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau program bedah rumah.
Penerima BSPS akan diarahkan memperoleh sertifikat tanah agar bantuan perbaikan rumah juga disertai kepastian hukum atas lahan yang ditempati.
2. Penerima Pembiayaan FLPP
Kelompok kedua adalah masyarakat yang membeli rumah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau FLPP.
Program ini juga mencakup proses pemecahan sertifikat induk serta perubahan status Hak Guna Bangunan menjadi Sertifikat Hak Milik apabila memenuhi ketentuan.
3. Masyarakat yang Membangun Rumah Mandiri
Kelompok ketiga adalah masyarakat yang membangun rumah secara swadaya atau mandiri, tetapi secara ekonomi memenuhi kategori MBR.
Status penerima dalam kelompok ini akan diverifikasi berdasarkan kriteria pendapatan dan data sosial ekonomi yang digunakan pemerintah.
Kementerian Agraria Bidik 1,1 Juta Rumah
Prioritas pertama Kementerian ATR/BPN adalah sekitar 1,1 juta rumah penerima program BSPS sejak 2015 sampai 2024.
Setelah itu, pemerintah akan memeriksa data sekitar 45.000 penerima BSPS pada 2025 dan 400.000 penerima pada 2026. Apabila dijumlahkan, keseluruhan basis data tersebut mencakup sekitar 1,545 juta rumah, meskipun realisasi akhirnya tetap bergantung pada hasil verifikasi dan kelengkapan status setiap bidang tanah.
Besarnya jumlah rumah yang harus ditangani menunjukkan bahwa proses sertifikasi tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelayanan biasa di loket kantor pertanahan.
Kementerian membutuhkan integrasi data, pemetaan bidang tanah, pemeriksaan dokumen, koordinasi pemerintah daerah, dan penyelesaian apabila ditemukan tumpang tindih hak.
Bagaimana Penerima Diverifikasi?
BPS akan membantu melakukan sinkronisasi data berdasarkan kriteria MBR dalam Peraturan Menteri PKP Nomor 5 Tahun 2025 dan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN.
Masyarakat yang mempunyai slip gaji dapat diverifikasi berdasarkan ketentuan pendapatan. Untuk pekerja sektor informal, proses penentuan penerima dapat menggunakan posisi desil kesejahteraan dalam DTSEN.
Sumber data calon penerima juga berasal dari sejumlah program pemerintah, di antaranya:
- BSPS periode 2015–2026;
- Program pembiayaan FLPP;
- Rumah Harapan dan Rumah Singgah;
- Program Rumah Sejahtera Terpadu;
- Program bantuan perumahan pemerintah lainnya.
Penggunaan beberapa sumber data bertujuan mengurangi risiko penerima ganda, data yang tidak sesuai, atau pemberian layanan kepada masyarakat yang tidak memenuhi kriteria.
Sertifikasi Gratis Tidak Otomatis Berlaku untuk Semua Tanah
Istilah sertifikasi gratis tidak berarti seluruh pemilik tanah di Indonesia dapat langsung mengajukan layanan tanpa biaya.
Program terbaru diarahkan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dalam tiga klaster yang telah ditentukan pemerintah.
Status tanah juga harus memungkinkan untuk didaftarkan. Proses dapat membutuhkan penyelesaian terlebih dahulu apabila terdapat sengketa, batas tidak jelas, perbedaan nama pemilik, dokumen alas hak tidak lengkap, atau klaim dari pihak lain.
Masyarakat perlu menunggu informasi teknis dari Kantor Pertanahan setempat mengenai daftar penerima, persyaratan, jadwal pengukuran, dan tahapan yang harus dijalani.
Agenda Awal Disiapkan di Sidoarjo
Pemerintah merencanakan pelaksanaan sertifikasi gratis rumah MBR dan KUR Perumahan di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 10 Agustus 2026.
Kementerian ATR/BPN menyatakan dapat menyiapkan sekitar 5.000 calon penerima sertifikat gratis dalam agenda tersebut. Rencana tersebut masih memerlukan verifikasi data dan persiapan teknis sebelum pelaksanaan.
Sebelumnya, pemerintah juga menjadwalkan akad massal sekitar 62.000 KPR rumah subsidi dan KUR Perumahan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 30 Juli 2026.
Agenda tersebut menjadi bagian dari percepatan program perumahan nasional dan perluasan akses pembiayaan bagi masyarakat.
Mengapa Sertifikat Tanah Penting bagi MBR?
Sertifikat tanah memberikan bukti hukum yang lebih kuat atas kepemilikan atau hak seseorang terhadap suatu bidang tanah.
Kepastian hukum penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah karena banyak rumah dibangun atau diperbaiki melalui bantuan pemerintah, tetapi tanahnya masih menggunakan dokumen lama, surat keterangan, atau bukti penguasaan yang belum terdaftar.
Tanpa kepastian hukum, pemilik dapat menghadapi masalah saat tanah diwariskan, dialihkan, terkena pembangunan, disengketakan, atau digunakan sebagai dasar memperoleh pembiayaan.
Menteri ATR/Kepala BPN menyatakan percepatan sertifikasi merupakan bentuk perlindungan terhadap aset masyarakat agar manfaat program perumahan dapat diterima secara utuh.
Kementerian Agraria Juga Mengubah Layanan Pertanahan
Selain program sertifikasi MBR, Kementerian ATR/BPN sedang melakukan transformasi pelayanan pertanahan dan tata ruang secara nasional.
Pelayanan akan dikembangkan secara terintegrasi dari awal sampai akhir, dengan memberikan kepastian mengenai waktu, biaya, persyaratan, serta status penyelesaian permohonan.
Transformasi tersebut mencakup:
- Penguatan infrastruktur digital;
- Peningkatan kualitas data bidang tanah;
- Penyederhanaan proses bisnis;
- Penuntasan berkas yang tertunda;
- Peningkatan kemampuan pegawai;
- Penguatan keamanan data spasial;
- Perubahan struktur Kantor Pertanahan;
- Penguatan transparansi dan integritas pelayanan.
Sekretaris Jenderal Kementerian ATR/BPN Dalu Agung Darmawan menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari penyerapan anggaran, tetapi juga ketepatan waktu, kualitas hasil, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Sistem Berkas Masuk Pertama Diselesaikan Pertama
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid meminta kantor pertanahan menjalankan prinsip first in, first out.
Artinya, berkas yang masuk lebih dahulu harus diproses dan diselesaikan lebih dahulu. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mencegah berkas baru didahulukan tanpa alasan yang jelas.
Kementerian juga menerapkan sistem pengukuran terjadwal agar pemohon memperoleh kepastian kapan petugas akan datang melakukan pengukuran lapangan.
Perubahan tersebut diharapkan mengurangi ketidakpastian yang selama ini membuat masyarakat harus berulang kali mendatangi kantor pertanahan untuk menanyakan perkembangan permohonan.
Tujuh Layanan Prioritas ATR/BPN
Kementerian ATR/BPN menetapkan tujuh layanan prioritas yang menangani sebagian besar permohonan masyarakat.
Pada 2025, tujuh layanan tersebut mencapai sekitar 6,48 juta berkas atau 78 persen dari seluruh volume layanan kementerian.
| Layanan prioritas | Standar waktu yang diumumkan |
|---|---|
| Pengecekan sertifikat | 1 hari kerja |
| Surat Keterangan Pendaftaran Tanah | 1 hari kerja |
| Hak Tanggungan Elektronik | Hari ke-7 |
| Roya | 5 hari kerja |
| Peralihan hak | 5 hari kerja |
| Pendaftaran Surat Keputusan | 10 hari kerja |
| Perubahan HGB atau Hak Pakai menjadi Hak Milik | 5 hari kerja |
Standar waktu berlaku setelah berkas dinyatakan memenuhi ketentuan dan tidak terdapat hambatan hukum maupun teknis.
Apabila dokumen belum lengkap, batas tanah bermasalah, data fisik tidak sesuai, atau terdapat sengketa, proses dapat membutuhkan penanganan tambahan.
Layanan Pertanahan Semakin Digital
Transformasi elektronik telah diterapkan pada pengecekan sertifikat, Surat Keterangan Pendaftaran Tanah, Zona Nilai Tanah, hak tanggungan, dan peralihan hak.
Hingga pertengahan 2026, layanan pengecekan elektronik tercatat mencapai sekitar 17,82 juta permohonan. SKPT elektronik mencapai sekitar 936 ribu layanan, sedangkan Zona Nilai Tanah elektronik mencapai sekitar 1,51 juta layanan.
Pada layanan Hak Tanggungan Elektronik, telah terbit sekitar 5,72 juta dokumen dengan nilai keseluruhan Rp5.792 triliun dan melibatkan 4.540 mitra kreditur hingga Juni 2026.
Kementerian menilai layanan elektronik tersebut tidak hanya mempersingkat proses, tetapi juga membantu memberikan kepastian jaminan bagi perbankan dan masyarakat.
Tantangan Transformasi Layanan Pertanahan
Digitalisasi tidak otomatis menghilangkan seluruh persoalan pertanahan.
Kualitas layanan masih bergantung pada akurasi data, kemampuan petugas, keamanan sistem, ketersediaan peta, kepastian batas bidang, serta koordinasi antara Kantor Pertanahan, pemerintah desa, PPAT, dan pemilik tanah.
Data digital yang tidak sesuai dengan keadaan lapangan juga dapat menimbulkan masalah baru. Karena itu, pemutakhiran data fisik dan data yuridis perlu berjalan bersamaan dengan pengembangan aplikasi.
Kementerian menyatakan peningkatan kualitas data, manajemen risiko, tata kelola, dan kemampuan sumber daya manusia menjadi bagian dari agenda transformasi.
Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan
Kementerian ATR/BPN juga masih menghadapi ribuan kasus pertanahan di berbagai daerah.
Hingga akhir Maret 2026, kementerian mencatat menerima 557 kasus dan menyelesaikan 219 kasus. Kasus yang masuk terdiri atas konflik, sengketa, dan perkara pertanahan.
Sebanyak 54 kasus diselesaikan di tingkat pusat dan 165 kasus di daerah. Pemerintah menargetkan penanganan efektif terhadap 2.151 kasus pertanahan sepanjang 2026.
Penyelesaian konflik tetap menjadi pekerjaan yang kompleks karena dapat melibatkan masyarakat, perusahaan, pemerintah, tanah adat, kawasan hutan, aset negara, dan putusan pengadilan yang berbeda.
Program sertifikasi harus disertai pemeriksaan yang ketat agar tidak menerbitkan hak baru di atas bidang yang masih disengketakan.
Apa Tugas Kementerian Agraria?
Kementerian Agraria dan Tata Ruang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanahan dan suburusan tata ruang.
Fungsinya meliputi penyusunan serta pelaksanaan kebijakan tata ruang, survei dan pemetaan, penetapan hak, pendaftaran tanah, penataan agraria, pengadaan tanah, pengendalian pemanfaatan ruang, serta penanganan sengketa pertanahan.
Badan Pertanahan Nasional menjalankan pelayanan pertanahan melalui kantor wilayah di tingkat provinsi dan Kantor Pertanahan di tingkat kabupaten atau kota.
Kementerian ATR/BPN saat ini dipimpin Nusron Wahid sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala BPN.
Cara Memeriksa Informasi Sertifikasi Gratis
Masyarakat perlu berhati-hati terhadap pesan yang mengatasnamakan program sertifikat gratis.
Informasi calon penerima sebaiknya diperiksa melalui Kantor Pertanahan, pemerintah daerah, pemerintah desa atau kelurahan, serta kanal resmi kementerian.
Jangan memberikan kode OTP, PIN, kata sandi, atau data perbankan kepada pihak yang menjanjikan sertifikat selesai dengan cepat.
Program resmi juga tidak membenarkan pembayaran kepada rekening pribadi petugas atau perantara. Masyarakat sebaiknya meminta rincian resmi apabila terdapat komponen biaya yang tidak termasuk dalam pembiayaan program.
Dokumen Tanah Tetap Perlu Dipersiapkan
Walaupun proses sertifikasi masuk dalam program gratis, calon penerima tetap perlu mempersiapkan bukti yang berhubungan dengan penguasaan tanah.
Dokumen yang dibutuhkan dapat berbeda berdasarkan riwayat dan status bidang tanah. Pemeriksaan biasanya berkaitan dengan identitas pemohon, dokumen asal penguasaan tanah, batas bidang, riwayat peralihan, serta persetujuan pihak terkait.
Daftar persyaratan final harus mengikuti pemberitahuan dari Kantor Pertanahan yang menangani lokasi tersebut. Jangan menyerahkan dokumen asli tanpa tanda terima resmi.
Kesimpulan
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN mempercepat sertifikasi tanah gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui Surat Edaran Bersama yang ditandatangani pada 21 Juli 2026.
Program tersebut melibatkan Kementerian ATR/BPN, Kementerian PKP, dan BPS untuk mengintegrasikan data, memverifikasi penerima, serta mempercepat proses pendaftaran tanah.
Sekitar 1,1 juta rumah penerima BSPS periode 2015–2024 menjadi prioritas awal. Pemerintah juga akan memeriksa data 45.000 rumah penerima BSPS 2025 dan 400.000 rumah pada 2026.
Program dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu penerima bantuan pemerintah, penerima pembiayaan FLPP, dan masyarakat yang membangun rumah secara mandiri tetapi memenuhi kriteria MBR.
Pada saat bersamaan, Kementerian ATR/BPN melakukan transformasi layanan melalui digitalisasi, pengukuran terjadwal, prinsip berkas masuk pertama diselesaikan pertama, serta tujuh layanan prioritas dengan standar waktu yang lebih terukur.
Realisasi program sertifikasi gratis tetap bergantung pada verifikasi penerima, status hukum tanah, kelengkapan data, pengukuran, dan kemampuan kantor pertanahan menyelesaikan setiap permohonan.
FAQ Kementerian Agraria
Apa berita terbaru Kementerian Agraria?
Kementerian ATR/BPN mempercepat sertifikasi tanah gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui Surat Edaran Bersama dengan Kementerian PKP dan BPS.
Berapa rumah yang menjadi prioritas?
Sekitar 1,1 juta rumah penerima BSPS periode 2015–2024 menjadi prioritas pertama.
Apakah semua masyarakat bisa memperoleh sertifikat gratis?
Tidak otomatis. Program ditujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang masuk kelompok penerima dan lolos verifikasi.
Siapa saja kelompok penerimanya?
Kelompoknya meliputi penerima bantuan perumahan pemerintah, penerima pembiayaan FLPP, dan MBR yang membangun rumah secara mandiri.
Apakah penerima bedah rumah mendapat sertifikat gratis?
Penerima BSPS atau bedah rumah menjadi salah satu kelompok yang diprioritaskan untuk memperoleh sertifikat tanah gratis.
Bagaimana status pekerja informal?
Pekerja informal dapat diverifikasi menggunakan data sosial ekonomi dan posisi desil kesejahteraan dalam DTSEN.
Kapan pelaksanaan awal program dilakukan?
Pemerintah merencanakan agenda sertifikasi gratis bagi sekitar 5.000 penerima di Sidoarjo pada 10 Agustus 2026.
Siapa Menteri Agraria saat ini?
Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala BPN adalah Nusron Wahid.
Apa saja tujuh layanan prioritas ATR/BPN?
Layanannya meliputi pengecekan sertifikat, SKPT, Hak Tanggungan Elektronik, roya, peralihan hak, pendaftaran SK, serta perubahan HGB atau Hak Pakai menjadi Hak Milik.
Di mana informasi penerima dapat diperiksa?
Informasi dapat diperiksa melalui Kantor Pertanahan, pemerintah daerah, pemerintah desa atau kelurahan, serta kanal resmi Kementerian ATR/BPN.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






