Redaksiku.com – Penipuan daring menjadi ancaman serius di tengah meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital, perdagangan elektronik, media sosial, dan aplikasi pesan instan.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat lebih dari 608 ribu kasus penipuan digital berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre hingga Juni 2026.
Dalam penanganannya, lebih dari 557 ribu rekening telah diblokir. Dana sekitar Rp674 miliar berhasil diamankan atau diblokir, sedangkan hampir Rp200 miliar telah dikembalikan kepada korban.
Modus yang digunakan pelaku juga semakin kompleks. Penipuan tidak lagi hanya berupa pesan meminta transfer, tetapi berkembang menjadi telepon palsu, pencurian akun, investasi ilegal, lowongan kerja fiktif, manipulasi hubungan pribadi, hingga penggunaan suara buatan berbasis kecerdasan artifisial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah dan lembaga keuangan meminta masyarakat segera melapor apabila menjadi korban. Kecepatan pelaporan sangat penting karena dana dapat dipindahkan melalui banyak rekening dalam waktu singkat.
Kasus Penipuan Daring Terus Meningkat
OJK menyatakan scam telah berkembang menjadi ancaman terhadap integritas sistem keuangan dan kepercayaan masyarakat.
Pelaku dapat menggunakan rekening penampung, akun dompet elektronik, merchant, aset virtual, dan jaringan lintas negara untuk menyamarkan aliran dana.
Hingga Juni 2026, Indonesia Anti-Scam Centre mencatat lebih dari 608 ribu kasus. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan catatan pertengahan Januari 2026 yang mencapai 432.637 pengaduan dengan nilai kerugian sekitar Rp9,1 triliun.
Data kerugian dapat berbeda antara satu laporan dan laporan lainnya karena periode, metode penghitungan, serta cakupan kasus yang digunakan tidak selalu sama.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyampaikan perkiraan kerugian akibat spam dan scam di Indonesia mencapai sekitar Rp7,5 triliun berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa penipuan digital bukan hanya persoalan individu, tetapi telah menjadi ancaman terhadap keamanan transaksi dan kepercayaan terhadap layanan digital.
Modus Penipuan Daring yang Perlu Diwaspadai
OJK mengidentifikasi beberapa modus yang sering digunakan pelaku, antara lain penipuan transaksi belanja, panggilan palsu, investasi ilegal, pekerjaan fiktif, penipuan melalui media sosial, dan love scam.
Pelaku biasanya menciptakan situasi mendesak agar korban tidak mempunyai cukup waktu untuk memeriksa informasi.
Mereka dapat mengaku sebagai pegawai bank, polisi, petugas pajak, perusahaan ekspedisi, pengelola marketplace, kerabat, atasan, atau perwakilan lembaga pemerintah.
Tujuan akhirnya hampir selalu sama, yaitu memperoleh uang, kode OTP, kata sandi, PIN, data kartu, akses ke perangkat, atau informasi pribadi korban.
Penipuan Mengatasnamakan Bank
Dalam modus ini, pelaku menghubungi korban melalui telepon, WhatsApp, SMS, atau email dengan mengaku sebagai pegawai bank.
Korban biasanya diberi informasi bahwa rekeningnya bermasalah, kartu akan diblokir, terdapat transaksi mencurigakan, atau biaya administrasi akan berubah.
Pelaku kemudian mengirim tautan menuju situs yang menyerupai halaman resmi bank.
Korban diminta memasukkan nomor rekening, nomor kartu, PIN, kata sandi, kode OTP, atau data pribadi lainnya.
Bank tidak meminta PIN, kata sandi, maupun kode OTP melalui telepon atau pesan pribadi. Kode tersebut tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai petugas resmi.

Phishing melalui Tautan Palsu
Phishing dilakukan dengan mengarahkan korban menuju situs atau formulir palsu yang dirancang untuk mencuri data.
Tautan dapat disebarkan melalui pesan mengenai bantuan sosial, hadiah, undangan, tagihan, promosi, pengiriman paket, rekrutmen, atau pembaruan layanan perbankan.
Komdigi beberapa kali menemukan tautan palsu yang mengatasnamakan pendaftaran bantuan sosial, rekrutmen instansi pemerintah, dan layanan publik. Tautan tersebut dapat berakhir pada permintaan data pribadi atau halaman phishing.
Masyarakat perlu memeriksa nama domain, ejaan, alamat pengirim, dan kanal resmi lembaga sebelum membuka atau mengisi formulir.
Modus Paket Tertukar
Salah satu modus yang sedang diingatkan Komdigi adalah penipuan berkedok paket tertukar.
Pelaku menghubungi calon korban dan mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi. Korban diberi tahu bahwa terdapat paket salah alamat, paket bermasalah, atau pengiriman yang harus dikonfirmasi.
Pelaku kemudian mengirimkan tautan atau meminta korban menyerahkan informasi pribadi untuk proses pengecekan.
Informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk mengambil alih akun, melakukan pencurian identitas, atau menyusun penipuan berikutnya yang lebih meyakinkan.
Apabila tidak merasa melakukan pemesanan, jangan memberikan data. Hubungi perusahaan ekspedisi melalui aplikasi atau nomor layanan pelanggan resminya.
Penipuan Investasi dan Tugas Berbayar
Pelaku menawarkan keuntungan tinggi dengan risiko yang disebut sangat rendah atau bahkan tanpa risiko.
Korban biasanya diminta menyetor dana awal dalam jumlah kecil. Pada tahap pertama, pelaku dapat memberikan keuntungan agar korban percaya.
Setelah kepercayaan terbentuk, korban diarahkan menyetor dana yang lebih besar. Ketika ingin menarik uang, korban diminta membayar pajak, biaya administrasi, deposit tambahan, atau biaya pembukaan akun.
Skema serupa juga digunakan dalam penipuan tugas berbayar melalui WhatsApp dan Telegram.
Korban diberi tugas sederhana, seperti menyukai unggahan, mengikuti akun, memberikan ulasan, atau melakukan transaksi palsu. Setelah beberapa pembayaran kecil diberikan, korban diminta menyetorkan dana lebih besar untuk memperoleh komisi yang dijanjikan.
Lowongan Kerja Palsu
Penipuan pekerjaan biasanya menggunakan nama perusahaan terkenal agar terlihat meyakinkan.
Pelaku dapat menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi, proses cepat, dan persyaratan sangat mudah.
Calon korban kemudian diminta membayar biaya administrasi, pelatihan, seragam, tiket perjalanan, penginapan, pemeriksaan kesehatan, atau deposit perangkat kerja.
Perusahaan yang sah pada umumnya tidak meminta pelamar mentransfer uang ke rekening pribadi sebagai syarat mengikuti proses rekrutmen.
Informasi lowongan perlu diperiksa melalui situs perusahaan, akun media sosial terverifikasi, atau bagian sumber daya manusia yang resmi.
Love Scam dan Pig Butchering
Love scam dilakukan dengan membangun hubungan emosional bersama korban dalam waktu tertentu.
Pelaku dapat mengaku sebagai pengusaha, anggota militer, tenaga profesional, pekerja di luar negeri, atau seseorang yang sedang mencari pasangan serius.
Setelah memperoleh kepercayaan, pelaku mulai meminta uang dengan alasan keadaan darurat, biaya pengobatan, pengiriman hadiah, masalah perjalanan, atau kebutuhan bisnis.
Dalam skema yang lebih panjang, korban dapat diarahkan menuju investasi palsu. Pelaku memperlihatkan keuntungan semu agar korban terus menambah dana.
OJK memasukkan love scam sebagai salah satu modus yang sering digunakan dalam penipuan digital di Indonesia dan berbagai negara.
Penipuan Menggunakan Suara AI
Teknologi kecerdasan artifisial memungkinkan pelaku meniru suara seseorang berdasarkan rekaman yang tersedia di internet.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






