223 Siswa dan Guru Keracunan Makanan MBG dari Dapur SPPG Bina Insani, Wali Kota Bogor Angkat Bicara

- Penulis

Rabu, 14 Mei 2025 - 20:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Bogor tanggapi kasus MBG yang sebabkan keracunan siswa. Investigasi dapur dan sampel makanan dilakukan. (Foto: Dok. Pemkot Bogor)

Wali Kota Bogor tanggapi kasus MBG yang sebabkan keracunan siswa. Investigasi dapur dan sampel makanan dilakukan. (Foto: Dok. Pemkot Bogor)

Kasus keracunan massal yang diduga berasal dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor menggemparkan publik dan memicu reaksi cepat dari berbagai pihak.

Peristiwa ini melibatkan siswa dan guru dari lembaga pendidikan Bosowa Bina Insani yang mendapatkan suplai makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Tak butuh waktu lama, kasus keracunan massal di Bogor ini pun ramai diperbincangkan di media sosial.

Wali Kota Bogor Angkat Bicara

Wali Kota Bogor tanggapi kasus MBG yang sebabkan keracunan siswa. Investigasi dapur dan sampel makanan dilakukan. (Foto: Dok. Pemkot Bogor)
223 Siswa dan Guru Keracunan Makanan MBG dari Dapur SPPG Bina Insani, Wali Kota Bogor Angkat Bicara

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim langsung merespons insiden ini dengan meminta Kepala Dinas Kesehatan untuk memantau pemeriksaan sampel makanan secara menyeluruh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menekankan pentingnya proses pengolahan makanan yang aman dan higienis, mulai dari bahan baku hingga alat saji.

Dedie juga menginstruksikan agar SPPG Bina Insani lebih berhati-hati dan menjaga standar kualitas makanan yang disajikan untuk siswa dan guru.

Dalam keterangannya pada Rabu, 7 Mei 2025, Dedie menyebut pentingnya transparansi dan evaluasi total terhadap dapur penyedia makanan.

Menurutnya, pencegahan kejadian serupa dapat dilakukan dengan memastikan sistem kerja dapur tidak lalai terhadap aspek kebersihan.

36 Orang Jadi Korban, Termasuk Murid dan Guru dari TK dan SMP Bina Insani

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, total korban mencapai 36 orang dengan keluhan klinis mulai dari mencret, mual, muntah, demam, sakit kepala, hingga nyeri perut.

Korban terdiri dari siswa, guru, dan satu tenaga kebersihan sekolah yang tersebar di dua unit pendidikan yaitu TK dan SMP Bina Insani.

Sebanyak lima orang menjalani rawat inap, terdiri dari dua siswa dan tiga guru TK Bina Insani.

Tujuh lainnya menjalani rawat jalan, termasuk dua siswa dan lima guru dari institusi yang sama.

Sementara itu, sebanyak 24 korban mengalami keluhan ringan dan tidak memerlukan perawatan intensif.

Kelompok ini mencakup lima murid dan 18 guru dari SMP Bina Insani, serta satu petugas kebersihan sekolah.

Berdasarkan data terbaru, total korban keracunan telah mencapai 223 orang sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Dapur MBG Bina Insani Layani Hampir 3.000 Porsi Makanan Setiap Hari

Dapur SPPG Bina Insani diketahui melayani penyediaan makanan MBG bagi 13 sekolah di Kota Bogor dengan total 2.977 porsi setiap harinya.

Besarnya tanggung jawab ini menjadikan dapur SPPG sebagai titik krusial dalam sistem distribusi makanan bergizi yang aman dan layak konsumsi.

Namun, insiden ini menjadi tamparan keras atas lemahnya pengawasan terhadap dapur penyedia makanan bergizi, meskipun program ini ditujukan untuk meningkatkan kesehatan peserta didik.

Wali Kota Bogor meminta evaluasi menyeluruh terhadap jalur logistik bahan baku, proses masak, kebersihan nampan makan, dan distribusi ke sekolah-sekolah.

BPOM dan BGN Lakukan Investigasi Sistem dan Kualitas Bahan Makanan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi sistemik terhadap dapur MBG yang terlibat.

BPOM akan mendalami potensi kontaminasi bakteri seperti Salmonella, serta mendorong perbaikan prosedur kebersihan di dapur.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hamidah Rachmayanti Ceritakan Putri dan Suami Nyaris Terseret Ombak di Bali
Ternyata Ini Alasan Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Deyang Mengundurkan Diri
Berita Terbaru BGN: Kepala Mundur di Tengah Pemangkasan Anggaran dan Evaluasi Program MBG
Irigasi Rusak, Petani di Barru Terancam Gagal Panen, Firdaus Permadi: Jangan Cuma Janji!
Penipuan Daring Makin Marak, OJK Catat Lebih dari 608 Ribu Kasus
Aturan Baru! WNA yang Ingin Jadi WNI Wajib Bayar Rp75 Juta untuk Naturalisasi
Wah, Ternyata! Penimbunan Solar Subsidi di Barru Berujung Penjara
Contoh Laporan MPLS Terbaru 2026 yang Lengkap dan Praktis, Bisa Dijadikan Referensi
Diskusi Pembaca

Jadilah yang pertama berkomentar

Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:40 WIB

Hamidah Rachmayanti Ceritakan Putri dan Suami Nyaris Terseret Ombak di Bali

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:38 WIB

Ternyata Ini Alasan Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Deyang Mengundurkan Diri

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:31 WIB

Irigasi Rusak, Petani di Barru Terancam Gagal Panen, Firdaus Permadi: Jangan Cuma Janji!

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:15 WIB

Penipuan Daring Makin Marak, OJK Catat Lebih dari 608 Ribu Kasus

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:30 WIB

Aturan Baru! WNA yang Ingin Jadi WNI Wajib Bayar Rp75 Juta untuk Naturalisasi

Berita Terbaru