Novel : Bertahan di Atas Luka Part 31
Amira Dzakiya
Keesokan harinya.
Sha, boleh Mbak masuk? tanyaku sambil mengetuk pintu kamar Sasha. Aku dan Ibu baru saja makan siang tanpa Sasha. Kebetulan gadis 25 tahun itu sedang tidak masuk kantor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak terdengar jawaban. Aku memanggil sekali lagi. Akhirnya pada panggilan kesekian, terdengar langkah kaki dan suara pintu terbuka. Tak lama muncul seraut wajah cantik dengan rambut hitam bergelombang.
Kenapa, Mbak? sahutnya malas dan langsung berbalik ke tempat tidur.
Kamu sakit, Sha? Kok nggak masuk kantor? Nggak makan? Mbak masak sayur ubi tumbuk ikan teri, kamu suka, kan?
Sasha menggeleng. Lagi malas makan, Mbak. Udah izin nggak masuk kantor. Nanti kalau udah lapar Sha pasti makan. Gadis itu meraih ponsel dan mulai sibuk membuka media sosial.
Kalau gitu temenin Mbak cari novel baru, yuk? Aku tak patah semangat, terus membujuk Sasha untuk menemaniku. Kamu nggak kangen curhat sama Mbak? Mumpung Mbak belum pulang ke Riyadh, nih!
Males, ah! Sasha mau tidur aja.
Please, Sayang ¦, nanti Mbak beliin makanan kesukaanmu, deh.
Pasti Mbak mau nasihatin aku soal pulang malam, kan? Nggak perlu repot-repot! Aku udah dewasa, bisa jaga diri dan tahu mana yang baik mana yang buruk. Suara Sasha meninggi.
Aku berusaha bersabar. Perlahan aku mendekat dan duduk di sampingnya.
Nah, kalau udah tahu yang salah dan benar, nggak keberatan dong, cerita kenapa sering pulang malam? Apa Sasha lagi suka sama cowok?
Sasha berhenti bermain ponsel dan menatapku dengan wajah merona.
Kok Mbak bisa tahu? tanyanya tersipu.
Sha ¦ Sha ¦, Mbak kan juga pernah muda kayak kamu, jawabku terkekeh.
Tapi kan Mbak nggak kenal pacaran. Sama Mas Bayu aja langsung nikah. Iya, kan?
Mau tak mau aku mengangguk, membenarkan.
Mbak emang nggak kenal pacaran, tapi naksir cowok, ya pernahlah.
Nah, gimana bisa tahu rasanya pacaran? tanyak Sasha langsung.
Emang Mbak nggak tahu rasanya pacaran, nggak pingin juga, sih, karena nggak boleh. Tapi kalau rasa jatuh cinta, ya tahulah. Mbak kan cinta banget sama Mas Bayu.
Aku emang lagi suka sama cowok, teman satu kantor. Dia juga udah bilang kalau suka aku. Kita sering ngerjain proyek bareng, makanya aku sering pulang malam. Sasha akhirnya mulai bercerita.
Mbak ngerti perasaan Sasha, tapi kalau tiap saat pulang malam kan nggak bagus juga, ya? Kasihan Ibu, khawatir kamu kenapa-napa. Ibu sampai nggak tidur lho, kalau kamu belum pulang. Jangan, ya? Aku membelai rambut Sasha lembut.
Kalau kamu serius sama pemuda itu ¦,Aku mengedipkan sebelah mata, eh siapa namanya? tanyaku menggoda Sasha. Kalau dia juga serius, mending suruh orang tuanya langsung ngelamar.
Ih, Mbak apaan, sih? pekik Sasha tersipu.
Lho, daripada nambah dosa, mending dihalalkan. Nah abis nikah baru pacaran, lebih nikmat, Sha! Percaya, deh!
Kalau nggak pacaran, gimana bisa tahu sifat masing-masing? Nanti kayak Mbak Mira, karena dulu nggak pacaran, sekarang berantem, bahkan mau pisah!
Aku terhenyak. Kata-kata Sasha bagaikan petir di siang bolong. Bagaimana Sasha tahu? Serba salah aku mengambil guling dan memeluknya.
Kamu ngomong apa, Sha? tanyaku berusaha tenang.
Sasha menatapku sambil bersender di kepala tempat tidur.
Mbak nggak usah bohong. Aku nggak sengaja dengar semua pembicaraan Mbak waktu Mas Bayu baru datang malam itu. Maaf, aku nggak bermaksud ikut campur, ujar Sasha ragu-ragu. Matanya memandangku iba.
Aku menarik napas dalam mencoba mengisi paru-paru dengan udara segar. Jantungku berdetak lebih kencang. Sejuknya pendingin ruangan kamar Sasha tidak dapat mendinginkan tubuhku yang tiba-tiba berkeringat.
Mbak ¦, Sasha mendekat dan menyentuh tanganku, benar semua yang aku dengar? Mbak sama Mas Bayu mau pisah? Tapi kenapa, Mbak? Bukankah kalian saling mencintai? Pertanyaan Sasha bertubi-tubi menyerangku tanpa bisa kujawab.
Aku mencoba tersenyum.
Halaman : 1 2 Selanjutnya













Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.