Emang kamu dengar apa? Mbak sama Mas Bayu nggak apa-apa kok. Kami baik-baik aja. Kamu salah dengar aja, kali. Mungkin waktu itu Mas Bayu lagi ceritain soal temannya. Aku masih berusaha menutupi keadaan.
Serius, Mbak? Sasha berdiri menuju meja belajarnya untuk mengisi daya ponsel, Masih nganggap aku adik kecil yang bisa dibohongin?
Beneran, kok. Mbak nggak ada masalah apa-apa¦, Aku mencoba tersenyum, udah ah, kan tadi lagi ngomongin cowok kamu. Siapa namanya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gadis bermata bulat itu duduk kembali di sampingku dan menghela napas.
Namanya Bintang Pratama, Mbak. Anak baru di kantorku, bagian Purchasing, ujar Sasha dengan wajah merona.
Wah, namanya bagus, Bintang. Kenalin dong sama Ibu, sama Mbak juga. Aku bersyukur akhirnya Sasha melupakan masalahku dan Mas Bayu.
Nggak ah. Malu! Lagian ngapain sih pake dikenalin segala, ntar disangkanya aku serius mau ngajak nikah, gerutu Sasha cemberut.
Lho, ya haruslah! Mbak nggak mau kamu cuman dimainin aja. Kamu serius nggak sama dia?
Malu-malu Sasha mengangguk.
Nah, apa lagi? Kalau udah serius, kamu nggak perlu curi-curi waktu kerja sampai malam padahal cuman mau berduaan aja. Kalau dia juga serius, dia nggak akan nolak kamu ajak ke rumah. Aku membelai rambut tebalnya.
Nggak terlalu cepat, ya Mbak?
Nggak ada kata terlalu cepat untuk masalah cinta. Jangan sampai kamu terjerumus pada pergaulan bebas yang menganggap pacaran itu hal biasa, lumrah untuk anak muda. Kalau terjadi apa-apa ¦, duh jangan sampai, aku bergidik membayangkan hal yang tidak-tidak, kamu yang rugi. Selalu perempuan yang dirugikan.
Astaghfirullah! Jangan sampai, Mbak! Aku juga tahu batas-batasnya. Sasha mendelik.
Sekarang kamu bisa ngomong kayak gini, tapi coba kalau sudah berdua Bintang, di kantor yang sepi karena sudah malam, nah setan pasti ikut campur. Belum tentu kamu bisa bertahan sama godaan, kataku penuh tekanan.
Sasha bergeming.
Mbak percaya kok kamu bisa jaga diri, tapi apa Bintang bisa?
Perlahan Sasha menoleh dan menatapku lekat.
Iya, Mbak benar. Kalau udah dekat Bintang, jantungku bisa berdebar berkali lipat, duh apalagi nanti kalau dia macam-macam, belum tentu aku bisa kuat. Mata adikku itu menerawang. Tapi kalau ternyata Bintang belum mau serius nikah, gimana, Mbak? tanyanya penuh kekhawatiran.
Ya, berarti memang dia maunya main-main aja. Berarti dia masih takut untuk terikat, itu bukan jodohmu. Aku berhenti sejenak, ingin melihat reaksi Sasha.
Nah, kecuali dia bilang alasannya apa dan selama belum bisa menikah, dia nggak mau ketemu kalau cuman berduaan, itu masih bisa diterima. Mungkin dia masih punya tanggungan yang kita nggak tahu. Intinya, kamu harus tanya, Sha. Kalian sudah dewasa, sudah waktunya berumah tangga. Minta dia untuk serius, ujarku panjang lebar.
Sasha mengangguk perlahan.
Paling nggak, kamu cerita sama Ibu. Ajak Bintang ke rumah, kenalan sama Ibu.
Iya, Mbak. Semoga Bintang mau, deh!
Ayo, jadi pergi, nggak? tanyaku sambil berdiri dan berjalan ke luar kamar. Tiba-tiba aku teringat pertanyaan Sasha. Sambil berbalik aku berkata, “Oya, tadi kamu tanya, kalau nggak pacaran, gimana bisa tahu sifat masing-masing? Justru saat awal menikah itu kita saling mengenal. Udah halal, jadi nggak perlu ada yang ditutupi. Kalau pacaran juga nggak akan kenal pasanganmu seutuhnya karena yang ditunjukkan pasti hanya yang bagus-bagus aja. Memang, awal menikah akan terasa sangat berat karena proses saling menyesuaikan, tapi kalau semuanya kita lakukan karena Allah, insyaallah akan jadi lebih mudah.”
Adikku itu termenung, lalu perlahan ia mengangguk sambil menarik ujung bibirnya.
“Oya, mau cari novel apa sih, Mbak? Sasha ikut berdiri.
Novel barunya Kimmy Berliana.
Sekalian jemput Shanaz aja, jadi kita pergi bertiga. Jalan abis asar, Mbak, pas Shanaz pulang.
Nah, good idea! Ayo siap-siap! Mbak tidur dulu deh sebentar, ngantuk banget!
Aku melangkah meninggalkan kamar Sasha. Sampai di kamar, aku segera merebahkan diri, menikmati empuknya kasur yang seolah memanggil untuk merasakan enaknya tidur siang. Sepulang dari mengantar Mas Bayu tadi malam, aku memang memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu. Aku masih ingin melepas rindu pada Ibu dan si kembar, sebelum kembali ke Riyadh.
Sambil berbaring aku tersenyum sendiri. Adikku ternyata sudah dewasa, sudah waktunya berumah tangga. Masih terbayang saat mereka kecil dulu. Sebagai kakak tertua, seringkali Ibu memintaku untuk menjaga si kembar. Perbedaan usia yang cukup jauh, membuat aku mampu untuk merawat mereka.Tak jarang aku menyiapkan makanan saat Ibu sibuk dengan kateringnya. Aku pun ikut membiayai kuliah mereka sejak Ayah meninggal dunia.
Sekarang, Sasha dan Shanaz sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Tak lama lagi mereka akan menikah. Air mata haru menitik di pipi saat aku memejamkan mata. Tak lama kemudian aku pun terlelap.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.