Redaksiku.com – Jenazah Surakman alias Sukarman, yang berusia 60 tahun dan bertugas sebagai anak buah kapal Arupadatu I, akhirnya berhasil diidentifikasi setelah ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Penemuan ini menjadi titik terang duka dalam tragedi hilangnya kapal yang membawa rombongan jurnalis penjelajah aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Sukarman, 60, anak buah kapal yang membawa lima jurnalis yang hilang ketika meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Foto: Basarnas)
Proses Identifikasi Melalui Tes DNA
Tim Disaster Victim Investigation (DVI) memerlukan waktu sekitar 10 hari untuk memastikan identitas jenazah laki-laki tanpa identitas tersebut. Pemeriksaan DNA yang rampung pada Selasa memberikan kecocokan genetik langsung dengan anak kandung korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jenazah tersebut sebelumnya ditemukan pada Sabtu di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano. Jarak penemuan ini terhitung sangat jauh dari titik awal keberangkatan, yakni sekitar 360 kilometer secara garis lurus dari kawasan Gunung Anak Krakatau.
Hasil pemeriksaan DNA memastikan jenazah di Pulau Enggano adalah Sukarman, ABK kapal Arupadatu I yang hilang sejak awal September.
Kronologi Pelayaran Menuju Gunung Anak Krakatau
Kapal Arupadatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin sore pukul 14.00 WIB. Tujuannya adalah mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau guna mendokumentasikan aktivitas erupsi gunung berapi aktif tersebut.
Berdasarkan catatan perjalanan, rombongan sempat mengirimkan titik lokasi terakhir pada pukul 14.42 WIB. Namun, komunikasi mendadak terputus kurang dari setengah jam kemudian di perairan antara pesisir Carita dan gunung.
Jenazah Sukarman, ABK kapal yang membawa 5 jurnalis, dievakuasi dari Pulau Enggano, Bengkulu. (Foto: Basarnas)
Rincian Penumpang dan Kru Kapal
Kapal motor tersebut membawa total delapan orang yang terdiri dari jurnalis profesional serta pengawak kapal berpengalaman. Sampai saat ini, pencarian terhadap kapal beserta tujuh orang lainnya masih menemui jalan buntu.
- Lima jurnalis dari berbagai media nasional dan kantor berita internasional yang turut dalam rombongan.
- Tiga kru kapal yang bertanggung jawab atas operasional pelayaran di Selat Sunda.
- Pihak berwenang belum dapat memastikan apakah kapal mengalami tenggelam total atau terbawa arus ekstrem.
Lima orang jurnalis foto yang saat ini masih hilang terlihat berfoto sebelum berangkat menuju gunung anak Krakatau pada Senin (7/9/2026). (Dokumentasi Keluarga)
Status Operasi Pencarian dan Penyelamatan
Operasi SAR gabungan telah dikerahkan secara masif selama 10 hari dengan melibatkan ratusan personel. Penyisiran bahkan mencakup area seluas ribuan mil laut persegi sebelum akhirnya operasi dinyatakan dihentikan sementara.
Kepolisian Daerah Banten melalui Irjen Hengki menyampaikan bahwa keberadaan fisik kapal Arupadatu I masih misterius. Aparat penegak hukum terus memantau perkembangan informasi di lapangan guna menemukan petunjuk baru.
Pertanyaan Umum
Kapan kapal Arupadatu I dilaporkan mulai hilang kontak?
Kapal kehilangan kontak pada Senin, 7 September, sekitar pukul 15.04 WIB di perairan antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.
Di mana jenazah Sukarman ditemukan oleh Tim SAR?
Jenazah ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Bengkulu.
Berapa banyak orang yang masih dalam pencarian pihak berwenang?
Masih ada tujuh orang yang belum ditemukan, terdiri dari lima jurnalis dan dua kru kapal.
Ringkasan
Tim Disaster Victim Investigation (DVI) secara resmi mengonfirmasi melalui tes DNA bahwa jenazah yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, adalah Sukarman (60), seorang anak buah kapal (ABK) Kapal Arupadatu I. Kapal tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026, setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, untuk mendokumentasikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Jenazah Sukarman ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, yang berjarak sekitar 360 kilometer secara garis lurus dari Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan catatan resmi, kapal motor ini membawa total delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dari berbagai media serta tiga kru kapal.
Hingga saat ini, operasi SAR gabungan yang melibatkan ratusan personel masih menyisakan ketidakpastian terkait keberadaan tujuh korban lainnya serta bangkai kapal Arupadatu I. Pihak berwenang bersama aparat kepolisian terus memantau perkembangan di lapangan untuk mencari petunjuk lanjutan mengenai tragedi pelayaran tersebut.






