Redaksiku.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan kini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup orangutan Borneo. Satwa yang terancam kritis ini terpaksa keluar dari habitat alaminya untuk mencari perlindungan dan makanan, dengan setidaknya 18 individu orangutan telah berhasil diselamatkan oleh pihak berwenang di Kalimantan Barat hingga saat ini.
Operasi penyelamatan terbaru dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kabupaten Ketapang. Fokus evakuasi berada di Desa Penjalaan dan Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, di mana aktivitas manusia semakin dekat dengan satwa yang terdesak akibat kepungan api.
Di Desa Penjalaan, tim mengevakuasi seekor induk orangutan bernama Mama Penja beserta anaknya, Penja, yang ditemukan di sebuah kebun kelapa sawit milik warga. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan karena terlihat sangat kurus dan lemas. Menurut tim medis, mereka hampir tidak mampu bergerak dari sarangnya meskipun ada kehadiran manusia di dekat mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas.”
— Dr. Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI
Pemeriksaan medis lebih lanjut mengungkapkan bahwa Mama Penja mengalami dehidrasi berat, anemia, serta luka bakar serius pada kedua kakinya hingga kulitnya terkelupas. Kerusakan gigi yang ditemukan pada satwa tersebut juga menjadi indikator bahwa kelangkaan pakan akibat hutan yang terbakar telah memicu krisis nutrisi yang parah bagi mereka.
Di lokasi lain, yakni Desa Padu Banjar, tim mengevakuasi orangutan jantan dewasa bernama Kumbang. Setelah dilakukan pemindaian microchip, diketahui bahwa Kumbang merupakan individu yang pernah diselamatkan dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya pada tahun 2022. Kembalinya ia ke permukiman warga kali ini menandai betapa luasnya dampak kerusakan habitat yang memaksanya kembali mencari perlindungan.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 17.865 titik panas atau sekitar 78,5 persen dari total titik api di Kalimantan terdeteksi berada langsung di dalam kawasan habitat orangutan.
Dampak Luas Kebakaran terhadap Populasi Orangutan
Ancaman karhutla yang terjadi saat ini diperparah oleh fenomena iklim El Niño yang diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Berdasarkan analisis dari organisasi Geopix, lebih dari 25 juta hektare kawasan habitat orangutan telah terdampak oleh berbagai titik panas selama periode Juni hingga Agustus 2026.
Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) saat ini menghadapi tekanan yang sangat berat. Dengan populasi yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 57.350 individu, hilangnya tutupan hutan akibat api tidak hanya memusnahkan sumber makanan, tetapi juga menghancurkan jalur jelajah dan pohon-pohon yang menjadi tempat bersarang mereka.
Pihak berwenang dan organisasi konservasi menegaskan bahwa situasi ini mencerminkan tantangan besar dalam upaya mitigasi kebakaran yang seharusnya dapat dicegah lebih dini.
Beberapa kawasan yang kini diidentifikasi berada dalam status kritis meliputi:
- Kawasan Muller-Schwaner yang menghadapi intensitas titik panas tinggi.
- Wilayah Schwaner Barat yang memiliki populasi orangutan yang rentan.
- Kawasan Seruyan-Sampit yang membutuhkan perlindungan habitat secara mendesak.
- Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung yang menjadi rumah bagi banyak orangutan terancam.
Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya penyelamatan satwa ini. Warga diimbau untuk segera melaporkan penemuan satwa yang terdampak atau terjerat akibat kebakaran hutan agar tim medis dapat memberikan pertolongan pertama secepat mungkin.
Pihak YIARI dan Geopix juga mendesak dilakukannya survei menyeluruh pasca-kebakaran untuk memetakan kerusakan ekosistem. Langkah ini dianggap krusial guna memastikan bahwa sisa-sisa habitat yang masih ada tetap terlindungi dari ancaman serupa di masa depan, mengingat pemulihan populasi orangutan membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Pertanyaan Umum
Apa yang harus dilakukan jika melihat orangutan di sekitar permukiman?
Masyarakat diminta untuk segera menghubungi BKSDA setempat atau organisasi konservasi satwa liar terdekat. Jangan mencoba menangkap atau memberi makan orangutan tersebut secara mandiri karena dapat membahayakan keselamatan manusia maupun satwa itu sendiri.
Mengapa orangutan sering masuk ke kebun kelapa sawit saat terjadi karhutla?
Orangutan terpaksa keluar dari hutan karena habitat asli mereka terbakar atau kehilangan sumber pakan alami. Kebun kelapa sawit sering menjadi tempat pelarian terakhir bagi mereka untuk mencari sisa-sisa makanan atau tempat berlindung meski lokasi tersebut tidak ideal bagi kelangsungan hidup mereka.
Bagaimana kondisi orangutan yang diselamatkan akibat kebakaran?
Sebagian besar orangutan yang diselamatkan menderita dehidrasi, kelaparan, luka bakar akibat tanah gambut yang panas, hingga gangguan pernapasan akibat menghirup asap tebal dalam waktu lama. Beberapa juga ditemukan dalam kondisi trauma atau mengalami luka akibat konflik dengan manusia.
Ringkasan
Sebanyak 18 orangutan Borneo telah diselamatkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat karena kehilangan habitat dan sumber pangan. Satwa yang dievakuasi, termasuk induk dan anak, umumnya ditemukan dalam kondisi kritis akibat dehidrasi, luka bakar, serta kelaparan.






