Redaksiku.com – Langit di sebagian wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan kini berubah warna menjadi oranye pekat akibat kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti daerah tersebut. Kondisi kualitas udara yang memburuk hingga mencapai level berbahaya memaksa otoritas setempat mengeluarkan peringatan keras bagi warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan agar terhindar dari dampak buruk paparan polusi asap yang ekstrem.
Kabut asap pekat kekuningan menyelimuti wilayah sekitar Pos Lapangan Siaga Karhutla Pulang Pisau, Kecamatan Jabieren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Selatan, Senin (21/9/2026) pukul 14.00 WIB. (BNPB)
Status Kualitas Udara dalam Kondisi Berbahaya
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara resmi mengonfirmasi penurunan drastis kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan hingga menyentuh level berbahaya pada Selasa, 22 September 2026. Pemantauan yang dilakukan hingga pukul 14.00 WIB menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di udara telah melampaui ambang batas aman bagi kesehatan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH, Edward Nixon Pakpahan, menyatakan bahwa kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh lapisan masyarakat. Selain kedua provinsi tersebut, perhatian khusus juga diarahkan pada lima wilayah lain yang mengalami tren serupa, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Terdapat tujuh provinsi yang saat ini sedang dipantau ketat oleh otoritas terkait karena kualitas udaranya berada dalam rentang tidak sehat hingga berbahaya.
Secara keseluruhan, wilayah-wilayah tersebut mayoritas mencatatkan status kualitas udara yang memprihatinkan. Status ini mencerminkan tingginya partikel berbahaya hasil pembakaran lahan yang terbawa angin dan terperangkap di atmosfer wilayah tersebut.
Dampak Visual dan Jarak Pandang Terbatas
Kabut asap yang tebal tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga mengubah lanskap visual secara drastis. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang dilaporkan turun hingga hanya tersisa 500 meter, yang sangat membahayakan mobilitas warga, terutama bagi para pengendara di jalan raya.
Fenomena unik namun mengkhawatirkan terjadi ketika bias cahaya matahari menembus kabut asap yang tebal. Langit yang seharusnya berwarna biru berubah menjadi oranye atau kemerahan, menciptakan suasana yang oleh banyak warganet di media sosial disamakan dengan pemandangan di Planet Mars.
Warga di Palangka Raya melaporkan bahwa warna langit cenderung semakin pekat dan berubah menjadi oranye tua menjelang sore hari akibat pembiasan sinar matahari oleh kabut asap.
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kabut asap terasa sangat pekat pada pagi hari, bahkan membuat sinar matahari tampak berwarna lembayung. Kondisi ini biasanya mulai berangsur menipis setelah siang hari ketika hembusan angin mulai membawa sebagian asap menjauh dari pusat kota.
Instruksi Perlindungan Diri bagi Masyarakat
Pemerintah mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara untuk memberikan panduan bagi warga di wilayah terdampak. Aturan ini menetapkan langkah-langkah mitigasi kesehatan saat kualitas udara mencapai kategori hitam atau berbahaya.
Masyarakat yang berada di wilayah dengan status kualitas udara berbahaya sangat disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan dan meminimalisir kegiatan di luar rumah guna mengurangi paparan langsung terhadap partikel asap.
Pihak KLH menegaskan bahwa upaya untuk tetap berada di dalam ruangan merupakan langkah paling krusial saat ini. Dengan membatasi paparan, risiko gangguan pernapasan akut akibat menghirup udara berpolusi tinggi dapat ditekan seminimal mungkin, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kabut asap tebal ini merupakan dampak nyata dari kebakaran hutan dan lahan yang masih terus berupaya dipadamkan oleh tim gabungan di lapangan.
Pertanyaan Umum
Apa yang harus dilakukan warga saat kualitas udara mencapai level berbahaya?
Warga sangat diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan, menutup pintu dan jendela rumah dengan rapat, serta menggunakan masker dengan standar filtrasi yang memadai jika terpaksa harus keluar rumah.
Mengapa langit tampak berwarna oranye saat terjadi kabut asap?
Warna oranye muncul karena partikel asap di udara menyebarkan spektrum cahaya matahari, di mana cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek terhalang, sementara cahaya oranye dan merah lebih dominan diteruskan ke mata manusia.
Berapa lama kondisi udara berbahaya ini diperkirakan bertahan?
Kondisi ini sangat bergantung pada keberhasilan upaya pemadaman karhutla oleh tim di lapangan serta perubahan arah dan kecepatan angin yang berperan dalam mendistribusikan kabut asap di atmosfer.
Ringkasan
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara resmi menyatakan bahwa kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada pada level berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per Selasa, 22 September 2026. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH, Edward Nixon Pakpahan, mengonfirmasi bahwa konsentrasi polutan di wilayah tersebut telah melampaui ambang batas aman, yang juga berdampak pada lima provinsi lainnya termasuk Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Paparan asap pekat ini menyebabkan jarak pandang menurun drastis hingga 500 meter dan fenomena perubahan warna langit menjadi oranye akibat pembiasan cahaya matahari. Merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2020, otoritas mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan guna meminimalisir risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Upaya pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan guna menekan polusi udara yang masih dipantau ketat di tujuh provinsi tersebut.






