Redaksiku.com – Istilah dasarian kembali sering muncul dalam informasi cuaca dan iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Pada pertengahan Juli 2026, misalnya, BMKG menerbitkan prediksi curah hujan, perkembangan musim kemarau, hingga peringatan dini kekeringan dengan menggunakan periode Dasarian II Juli.
Bagi masyarakat umum, istilah tersebut mungkin terdengar seperti nama fenomena cuaca. Padahal, arti dasarian BMKG adalah satuan waktu sepuluh harian yang digunakan untuk mengamati perubahan kondisi iklim secara lebih rinci daripada laporan bulanan.
Informasi dasarian membantu BMKG melihat apakah curah hujan mulai berkurang, musim kemarau semakin meluas, suatu wilayah mengalami hujan di bawah normal, atau terdapat potensi kekeringan meteorologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penggunaan periode ini semakin relevan pada Juli 2026 karena sebagian besar wilayah Indonesia sedang memasuki musim kemarau. BMKG memperkirakan sekitar 91,45 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada Dasarian II Juli 2026.
Apa Itu Dasarian?
Dasarian adalah rentang waktu selama sepuluh hari yang digunakan dalam analisis meteorologi dan klimatologi.
Dalam satu bulan, periode tersebut dibagi menjadi tiga bagian:
| Periode | Rentang tanggal |
|---|---|
| Dasarian I | Tanggal 1–10 |
| Dasarian II | Tanggal 11–20 |
| Dasarian III | Tanggal 21 hingga akhir bulan |
Dasarian III dapat berlangsung lebih dari sepuluh hari karena mengikuti jumlah hari dalam bulan tersebut. Pada bulan dengan 31 hari, misalnya, Dasarian III mencakup tanggal 21–31.
BMKG menggunakan dasarian sebagai interval operasional untuk menyusun, menganalisis, dan menyampaikan informasi iklim jangka pendek. Skala ini dinilai lebih rinci daripada analisis bulanan, tetapi lebih stabil daripada perubahan cuaca harian.
Mengapa Tidak Menggunakan Mingguan?
Periode dasarian berbeda dengan pekan. Satu pekan selalu terdiri atas tujuh hari, sedangkan satu dasarian umumnya terdiri atas sepuluh hari.
Pembagian sepuluh harian memudahkan perbandingan antarbagiannya dalam satu bulan. Petugas dapat membandingkan Dasarian I, II, dan III tanpa bergantung pada hari apa suatu bulan dimulai.
Data sepuluh harian juga dapat mengurangi pengaruh kejadian cuaca yang sangat singkat. Hujan lebat selama satu hari, misalnya, belum tentu menggambarkan kondisi iklim seluruh bulan.
Melalui dasarian, BMKG dapat melihat kecenderungan yang lebih stabil, seperti berkurangnya hujan selama beberapa periode berturut-turut, bertambahnya hari tanpa hujan, atau mulai terbentuknya pola musim tertentu.
Apa Perbedaan Cuaca Harian dan Prakiraan Dasarian?
Prakiraan cuaca harian menjelaskan kondisi atmosfer dalam waktu pendek. Informasinya dapat mencakup potensi hujan, suhu, angin, kelembapan, dan keadaan langit pada hari tertentu.
Prakiraan dasarian lebih berfokus pada kondisi iklim selama sepuluh hari. Informasi yang disampaikan umumnya berupa akumulasi curah hujan, perbandingan terhadap kondisi normal, perkembangan musim, hari tanpa hujan, dan potensi kekeringan.
Karena itu, prakiraan dasarian tidak dimaksudkan untuk menjawab apakah hujan akan turun pada pukul tertentu. Informasi ini lebih tepat digunakan untuk melihat apakah suatu wilayah cenderung basah, normal, atau kering dalam satu periode.
BMKG menyediakan prediksi curah hujan dan sifat hujan hingga tiga dasarian ke depan. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk deterministik maupun probabilistik.

Dasarian II Juli 2026 Didominasi Hujan Rendah
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada Dasarian II Juli 2026.
Dari keseluruhan wilayah Indonesia, sekitar 91,45 persen diperkirakan berada dalam kategori curah hujan rendah. Sebanyak 8,52 persen masuk kategori menengah dan sekitar 0,03 persen masuk kategori tinggi. Tidak ada wilayah yang secara umum diprediksi masuk kategori sangat tinggi.
Curah hujan rendah dalam laporan dasarian berarti akumulasi hujan berada pada kisaran 0–50 milimeter selama sepuluh hari.
Kondisi tersebut diperkirakan mendominasi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Prediksi itu menunjukkan bahwa musim kemarau semakin kuat di banyak wilayah. Namun, curah hujan rendah tidak berarti seluruh daerah akan sepenuhnya bebas hujan.
Hujan lokal dengan durasi pendek masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer regional. Karena itu, masyarakat tetap perlu mengikuti prakiraan cuaca harian selain membaca informasi dasarian.
Sebanyak 88,36 Persen Wilayah Diprediksi Bawah Normal
Selain jumlah hujan, BMKG juga menerbitkan informasi sifat hujan.
Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 88,36 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal. Sebanyak 9 persen berada pada kategori normal, 1,62 persen di atas normal, dan 1,02 persen jauh di atas normal.
Istilah bawah normal tidak selalu berarti tidak ada hujan. Kategori tersebut menunjukkan bahwa jumlah hujan diperkirakan kurang dari 85 persen dibandingkan rata-rata klimatologis selama sekitar 30 tahun.
Sebaliknya, suatu wilayah dapat masuk kategori atas normal meskipun jumlah hujannya tidak terlalu besar. Hal itu dapat terjadi ketika daerah tersebut secara klimatologis memang biasanya sangat kering pada periode yang sama.
Perbedaan antara curah hujan dan sifat hujan penting dipahami agar masyarakat tidak keliru membaca peta BMKG.
Perbedaan Curah Hujan dan Sifat Hujan
Curah hujan menunjukkan jumlah air hujan yang turun dalam periode tertentu. Pada informasi dasarian, satuannya menggunakan milimeter per dasarian.
Sifat hujan membandingkan curah hujan aktual atau prediksi dengan nilai normal pada wilayah dan periode yang sama.
Sebagai contoh, dua wilayah sama-sama menerima hujan 40 milimeter dalam sepuluh hari. Namun, sifat hujannya dapat berbeda apabila kondisi normal kedua wilayah tidak sama.
Di daerah yang biasanya menerima 100 milimeter, angka 40 milimeter dapat masuk kategori bawah normal. Di wilayah yang rata-ratanya hanya 25 milimeter, jumlah yang sama dapat dikategorikan atas normal.
Karena itu, peta curah hujan digunakan untuk melihat besarnya akumulasi, sedangkan peta sifat hujan menunjukkan apakah jumlah tersebut lebih basah atau lebih kering dibandingkan kebiasaan jangka panjang.
Musim Kemarau Meluas pada Dasarian I Juli
Hasil analisis Dasarian I Juli 2026 memperlihatkan bahwa musim kemarau telah terjadi di sekitar 60,5 persen Zona Musim Indonesia.
Wilayah yang telah memasuki musim kemarau mencakup DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hampir seluruh Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta berbagai bagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pada periode 1–10 Juli tersebut, sekitar 72,38 persen wilayah Indonesia tercatat mengalami curah hujan rendah. Sebanyak 70,08 persen juga memiliki sifat hujan bawah normal.
Data itu memperlihatkan perubahan yang cukup cepat menuju kondisi lebih kering. BMKG menyebut proporsi wilayah yang memasuki musim kemarau meningkat 11,6 persen dibandingkan dasarian sebelumnya.
Peringatan Kekeringan Mulai Diterbitkan
Menguatnya musim kemarau mendorong BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian II Juli 2026.
Status waspada berlaku di sejumlah kabupaten atau kota di Bali, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, NTB, NTT, Papua Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Status siaga diterbitkan untuk sejumlah wilayah di Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, NTB, dan NTT. BMKG tidak menetapkan kategori awas dalam laporan tersebut.
Peringatan kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi curah hujan dan panjangnya periode tanpa hujan. Status tersebut belum selalu berarti sumber air di seluruh wilayah sudah habis.
Namun, informasi itu dapat digunakan pemerintah daerah untuk mengantisipasi berkurangnya air baku, gangguan pertanian, meningkatnya risiko kebakaran lahan, dan kebutuhan distribusi air bersih.
Kemarau Tidak Menghilangkan Risiko Hujan Lebat
Meskipun sebagian besar wilayah sedang mengalami kondisi kering, hujan sedang hingga lebat masih dapat muncul secara lokal.
BMKG memperkirakan Papua berstatus siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada periode 14–17 Juli 2026. Hujan sedang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa Barat, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Pegunungan.
Kondisi tersebut terjadi karena iklim musiman bukan satu-satunya faktor pembentuk hujan. Gelombang atmosfer, pertemuan angin, suhu muka laut, dan sirkulasi lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.
Artinya, musim kemarau tidak selalu identik dengan cuaca cerah setiap hari. Suatu wilayah dapat mengalami hujan lebat sesaat meskipun akumulasi selama sepuluh hari tetap berada pada kategori rendah.
Dasarian Membantu Menentukan Awal Musim
BMKG menggunakan akumulasi curah hujan dasarian dalam pemantauan awal musim hujan dan musim kemarau.
Pemantauan dilakukan dengan melihat jumlah hujan serta keberlanjutan kondisi tersebut selama beberapa dasarian. Pendekatan ini mencegah satu kejadian hujan besar dianggap sebagai awal musim hujan apabila periode setelahnya kembali kering.
Penggunaan interval sepuluh hari juga memungkinkan BMKG membandingkan awal musim dengan kondisi normal. Dari analisis itu dapat diketahui apakah musim datang lebih awal, sama, atau lebih lambat daripada biasanya.
Dalam pemutakhiran Juni 2026, BMKG memprediksi sebagian besar puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Sebagian besar musim kemarau juga diperkirakan berlangsung selama 10–21 dasarian di 388 Zona Musim.
Manfaat Informasi Dasarian untuk Pertanian
Bagi sektor pertanian, informasi dasarian dapat digunakan untuk menentukan waktu tanam, mengelola irigasi, dan memperkirakan kebutuhan air.
Petani tidak hanya membutuhkan informasi apakah besok akan hujan. Mereka juga perlu mengetahui apakah hujan diperkirakan cukup konsisten selama beberapa pekan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Ketika beberapa dasarian diprediksi kering, jadwal penanaman dapat disesuaikan dengan ketersediaan air. Pemerintah daerah juga dapat menentukan prioritas distribusi air untuk wilayah pertanian yang paling rentan.
BMKG menyebut penggunaan dasarian relevan untuk penilaian awal musim tanam, pengelolaan pengairan, ketahanan pangan, dan pertanian presisi.
Manfaat untuk Pengelolaan Air dan Bencana
Informasi dasarian juga dibutuhkan dalam pengelolaan waduk, embung, jaringan irigasi, dan sumber air baku.
Apabila curah hujan rendah diprediksi berlangsung selama beberapa dasarian, pengelola dapat menyesuaikan pelepasan air dan meningkatkan pengawasan terhadap cadangan.
Pada periode hujan, data dasarian membantu melihat apakah suatu wilayah terus-menerus mengalami akumulasi tinggi. Kondisi itu dapat menjadi salah satu dasar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir, tanah longsor, dan gangguan pertanian.
Untuk kebakaran hutan dan lahan, kombinasi hari tanpa hujan, curah hujan rendah, suhu tinggi, dan kondisi vegetasi kering dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan api ketika kondisi kering semakin kuat.
Cara Membaca Informasi Dasarian BMKG
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah periode berlakunya informasi. Dasarian II Juli, misalnya, berarti kondisi tanggal 11–20 Juli.
Selanjutnya, bedakan antara analisis dan prediksi. Analisis menjelaskan kondisi yang sudah terjadi, sedangkan prediksi menggambarkan kemungkinan pada periode berikutnya.
Periksa pula apakah peta menunjukkan curah hujan atau sifat hujan. Curah hujan menjelaskan jumlah milimeter, sementara sifat hujan membandingkannya dengan nilai normal.
Informasi nasional juga tidak selalu menggambarkan kondisi setiap kecamatan. Indonesia memiliki variasi topografi dan cuaca lokal yang besar sehingga kondisi antarwilayah dapat berbeda.
Untuk kegiatan harian, masyarakat tetap perlu melihat prakiraan cuaca jangka pendek dan peringatan dini setempat. Informasi dasarian digunakan sebagai gambaran kecenderungan iklim, bukan pengganti prakiraan per jam.
Kesimpulan
Arti dasarian BMKG adalah periode sepuluh harian yang digunakan untuk menganalisis dan memprediksi kondisi iklim.
Dasarian I berlangsung tanggal 1–10, Dasarian II tanggal 11–20, dan Dasarian III mulai tanggal 21 hingga akhir bulan. Pembagian tersebut membantu BMKG memantau curah hujan, sifat hujan, perkembangan musim, hari tanpa hujan, dan potensi kekeringan.
Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 91,45 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan rendah. Sebanyak 88,36 persen wilayah juga diperkirakan memiliki sifat hujan bawah normal.
Walaupun musim kemarau semakin dominan, hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi secara lokal. Masyarakat perlu membaca informasi dasarian bersama prakiraan harian dan peringatan dini daerah masing-masing.
FAQ Dasarian BMKG
Apa arti dasarian?
Dasarian adalah rentang waktu sepuluh hari yang digunakan dalam analisis meteorologi dan klimatologi.
Dasarian I tanggal berapa?
Dasarian I berlangsung mulai tanggal 1 hingga 10 setiap bulan.
Dasarian II tanggal berapa?
Dasarian II mencakup tanggal 11 hingga 20.
Dasarian III tanggal berapa?
Dasarian III berlangsung mulai tanggal 21 hingga akhir bulan.
Apakah dasarian sama dengan mingguan?
Tidak. Satu pekan terdiri atas tujuh hari, sedangkan satu dasarian umumnya berlangsung sepuluh hari.
Apa fungsi prediksi hujan dasarian?
Prediksi tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan curah hujan dan sifat hujan selama sepuluh hari serta membantu pemantauan musim dan peringatan kekeringan.
Apa arti hujan bawah normal?
Hujan bawah normal berarti jumlah hujan kurang dari 85 persen dibandingkan rata-rata klimatologis pada wilayah dan periode yang sama.
Apakah curah hujan rendah berarti tidak akan hujan?
Tidak. Hujan masih dapat terjadi secara lokal, tetapi jumlah akumulasinya selama satu dasarian diperkirakan berada pada kategori rendah.
Berapa prediksi curah hujan rendah pada Dasarian II Juli 2026?
BMKG memperkirakan 91,45 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori curah hujan rendah.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber












