Redaksiku.com – Daftar Negara Alami Gerhana Matahari Sebagian 21 September 2025
Fenomena Gerhana Matahari Sebagian September 2025
Pada Minggu, 21 September 2025, dunia kembali disuguhkan peristiwa langit yang menakjubkan: gerhana matahari sebagian. Fenomena ini terjadi ketika bulan melintas di antara bumi dan matahari, sehingga sebagian cahaya matahari terhalang. Dari bumi, matahari akan tampak seperti tergigit secara perlahan. Peristiwa ini menjadi bagian dari musim gerhana yang datang setiap enam bulan sekali.
Musim gerhana biasanya berlangsung sekitar 35 hari. Sepanjang September 2025, tercatat dua fenomena besar, yaitu gerhana bulan pada 7 September dan gerhana matahari sebagian pada 21 September yang sekaligus menjadi gerhana terakhir tahun ini.
Apakah Bisa Disaksikan di Indonesia?
Sayangnya, masyarakat Indonesia tidak bisa menyaksikan fenomena gerhana matahari sebagian secara langsung. Lokasi terdekat yang dapat menikmati peristiwa ini adalah Australia. Berdasarkan catatan astronomi, Samudera Selatan akan mengalami gerhana maksimum hingga 80 persen, sementara Semenanjung Antartika hanya sekitar 12 persen menjelang matahari terbenam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Jumlah Penduduk yang Bisa Menyaksikan
Mengutip Time and Date, diperkirakan 16,6 juta orang di berbagai belahan dunia bisa menyaksikan gerhana ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 409 ribu orang berkesempatan melihat cakupan hingga 70 persen atau lebih. Data ini memperlihatkan betapa luas jangkauan fenomena astronomi ini.
Daftar Negara yang Mengalami Gerhana
Fenomena gerhana matahari sebagian akan dapat disaksikan di sejumlah wilayah. Berikut daftar negara dan kota yang dilalui bayangan gerhana beserta durasi dan cakupan maksimumnya:
Kawasan Pasifik
– Funafuti, Tuvalu: 56 menit, 9,04 persen
– Fakaofo, Tokelau: 1 jam 21 menit, 8,95 persen
– Mata Utu, Wallis et Futuna: 1 jam 32 menit, 17,08 persen
– Apia, Samoa: 1 jam 39 menit, 16,87 persen
– Pago Pago, Samoa Amerika: 1 jam 41 menit, 17,29 persen
Kawasan Melanesia
– Lautoka, Fiji: 1 jam 17 menit, 26,47 persen
– Nadi, Fiji: 1 jam 18 menit, 26,87 persen
– Suva, Fiji: 1 jam 23 menit, 27,41 persen
– Neiafu, Tonga: 1 jam 52 menit, 26,58 persen
– Alofi, Niue: 1 jam 55 menit, 25,63 persen
– Pangai, Tonga: 1 jam 59 menit, 28,89 persen
– Nuku™alofa, Tonga: 1 jam 59 menit, 31,66 persen
– Port Vila, Vanuatu: 39 menit, 22,28 persen
– Lunganbille, Vanuatu: 28 menit, 14,09 persen
– Noumea, New Caledonia: 42 menit, 29,77 persen
Kawasan Polinesia
– Vaitape, French Polynesia: 1 jam 35 menit, 8,96 persen
– Papeete, French Polynesia: 1 jam 35 menit, 8,37 persen
– Rarotonga, Cook Islands: 2 jam, 22,69 persen
Australia dan Sekitarnya
– Kingston, Norfolk Island: 1 jam 5 menit, 49,07 persen
– Lord Howe Island, Australia: 33 menit, 27,82 persen
– Macquarie Island, Australia: 1 jam 23 menit, 78,46 persen
– Sydney, Australia: 6 menit, 1,18 persen
– Canberra, Australia: 1 menit, 0,08 persen
– Hobart, Australia: 9 menit, 3,20 persen
Selandia Baru
– Auckland: 1 jam 54 menit, 60,79 persen
– Wellington: 2 jam 4 menit, 66,25 persen
– Christchurch: 2 jam, 69,15 persen
– Chatham Islands: 2 jam 22 menit, 65,33 persen
Antartika
– Zucchelli Station: 2 jam 13 menit, 72,55 persen
– McMurdo Station: 2 jam 12 menit, 69,26 persen
Durasi dan Cakupan Gerhana
Durasi gerhana bervariasi di tiap wilayah, mulai dari beberapa menit hingga lebih dari dua jam. Canberra, Australia, misalnya, hanya mengalami 0,08 persen selama satu menit.
Sebaliknya, Macquarie Island, Australia, mengalami cakupan hingga 78,46 persen dengan durasi lebih dari satu jam. Perbedaan ini ditentukan oleh posisi geografis masing-masing wilayah terhadap lintasan gerhana.
Cara Menyaksikan dari Indonesia
Meski tidak bisa dilihat langsung, masyarakat Indonesia tetap bisa menikmati momen ini secara daring. Beberapa lembaga astronomi dan situs khusus menyediakan siaran langsung.
Salah satunya Time and Date yang menyiarkan fenomena ini secara real-time. Dengan begitu, penikmat langit dari berbagai negara tetap bisa menyaksikan keindahan gerhana meski dari layar perangkat.
Makna Astronomi di Balik Gerhana
Gerhana matahari sebagian bukan hanya tontonan langit, tetapi juga bukti keteraturan kosmik. Ilmuwan mampu memprediksi dengan tepat kapan dan di mana peristiwa ini akan terjadi.
Fenomena ini juga menjadi peluang emas untuk penelitian astronomi, termasuk pengamatan interaksi bumi, bulan, dan matahari.
Kesimpulan: Fenomena Langka yang Mendunia
Gerhana matahari sebagian pada 21 September 2025 menjadi fenomena langit yang ditunggu banyak orang. Meski Indonesia tidak termasuk wilayah yang bisa menyaksikan langsung, masyarakat masih dapat menikmatinya melalui siaran daring.
Dari Australia hingga Antartika, jutaan orang menatap langit bersama-sama untuk menyaksikan salah satu momen astronomi paling memukau tahun ini.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






