Redaksiku.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada pertengahan Mei 2026.
Seiring meningkatnya tekanan dari berbagai faktor eksternal dan domestik, rupiah bahkan diproyeksikan berpotensi menyentuh level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026 sekitar pukul 14.27 WIB, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.671 per dolar AS. Angka ini mencerminkan tren depresiasi yang terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir, sekaligus memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan investor.
Tekanan Berlapis dari Faktor Global
Berdasarkan pengamatan wartawan Redaksiku, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika global yang tengah bergejolak. Ketidakpastian ekonomi dunia mendorong investor internasional untuk mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dolar AS dan emas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini terlihat dari maraknya aksi jual (sell-off) di berbagai instrumen investasi, mulai dari saham, obligasi, mata uang negara berkembang, hingga aset kripto. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan sentimen investor yang cenderung menghindari risiko tinggi.
Situasi global semakin diperkeruh oleh minimnya hasil konkret dari pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump, yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, pertemuan tersebut dinilai belum memberikan solusi yang jelas, sehingga pasar merespons secara negatif.
Konflik Geopolitik Dorong Harga Minyak Melonjak
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait jalur strategis Selat Hormuz, turut menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasar global. Konflik ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga minyak Brent untuk kontrak Juli telah menembus angka di atas 111 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh kisaran 107 dolar AS per barel.
Dalam kurun waktu sekitar satu pekan, harga minyak Brent tercatat naik lebih dari 11 persen. Kenaikan ini menjadi indikator kuat bahwa pasar energi global sedang berada dalam tekanan akibat ketidakpastian geopolitik.
Lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi global, yang pada akhirnya berdampak pada kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Sentimen Domestik Ikut Membebani Rupiah
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri juga turut memperlemah posisi rupiah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah dinilai tidak memberikan sinyal positif bagi pasar.
Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo disebut menilai bahwa pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat di pedesaan yang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Namun, pandangan tersebut justru memicu respons negatif dari investor.
Menurut pengamatan wartawan Redaksiku, pernyataan tersebut dianggap kurang mencerminkan urgensi stabilitas nilai tukar dalam konteks ekonomi makro. Investor cenderung menginginkan sinyal kebijakan yang kuat dan responsif terhadap dinamika pasar global.

Perpindahan Aset ke Safe Haven
Di tengah ketidakpastian yang meningkat, investor global menunjukkan kecenderungan untuk memindahkan dana mereka ke aset yang lebih aman. Dolar AS kembali menjadi pilihan utama sebagai mata uang cadangan dunia.
Selain dolar, emas juga mengalami peningkatan permintaan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan volatilitas pasar. Perpindahan aset ini semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, mengingat ketergantungan terhadap aliran modal asing dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Risiko Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Melihat tren pelemahan yang terjadi secara konsisten, rupiah dinilai memiliki potensi untuk terus terdepresiasi hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Jika tekanan global dan domestik tidak mereda, skenario ini menjadi semakin realistis.
Pelemahan yang terjadi bukan hanya bersifat sementara, melainkan mencerminkan akumulasi berbagai risiko yang sedang dihadapi pasar. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap perekonomian.
Pentingnya Menjaga Kepercayaan Pasar
Dalam situasi seperti ini, kepercayaan pasar menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pemerintah dan otoritas moneter, termasuk Bank Indonesia, diharapkan mampu memberikan respons yang tepat dan terukur.
Menurut wartawan Redaksiku, langkah utama yang perlu dilakukan adalah memastikan komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten. Hal ini penting untuk menghindari kepanikan di pasar yang dapat mempercepat pelemahan rupiah.
Selain itu, intervensi di pasar valuta asing serta kebijakan suku bunga juga dapat menjadi instrumen yang digunakan untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
Penulis : redaksiku
Editor : redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






