IHSG Anjlok ke Level 6.400, Ini Faktor Pemicu Tekanan Pasar

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG Anjlok ke Level 6.400, Ini Faktor Pemicu Tekanan Pasar

IHSG Anjlok ke Level 6.400, Ini Faktor Pemicu Tekanan Pasar

Redaksiku.com – Pergerakan pasar saham domestik kembali mengalami tekanan signifikan. Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot tajam sejak awal sesi hingga menyentuh level 6.400.

Penurunan lebih dari 4 persen ini menjadi salah satu koreksi terdalam dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Tekanan Datang Sejak Pembukaan Pasar

Sejak dibuka pada pagi hari, IHSG langsung berada di zona merah. Tekanan jual yang tinggi membuat indeks terus melemah sepanjang sesi perdagangan awal. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup kuat, baik dari faktor eksternal maupun domestik.

Penurunan tajam tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah katalis global dan regional turut berkontribusi dalam membentuk tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Investor terlihat cenderung berhati-hati dan memilih mengamankan asetnya di tengah ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Efek Penyesuaian Indeks Global

Salah satu pemicu utama pelemahan IHSG berasal dari pengumuman penyesuaian konstituen saham Indonesia dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Kedua lembaga penyedia indeks tersebut sebelumnya mengumumkan perubahan yang berdampak pada sejumlah saham di pasar domestik.

Penyesuaian ini dinilai memiliki implikasi besar, terutama bagi aliran dana asing. Saham-saham yang mengalami perubahan bobot atau bahkan dikeluarkan dari indeks berpotensi mengalami tekanan jual, khususnya dari investor institusi dan dana pasif yang mengikuti indeks tersebut.

Selain itu, keputusan FTSE Russell untuk mengeluarkan saham dengan kategori high shareholding concentration (HSC) turut memperburuk sentimen. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan likuiditas serta distribusi kepemilikan saham yang dianggap kurang ideal oleh investor global.

Bursa Regional Ikut Melemah

Tekanan terhadap IHSG juga tidak terlepas dari kondisi bursa saham di kawasan Asia yang bergerak melemah secara serentak. Sejumlah indeks utama di Asia menunjukkan tren penurunan, mencerminkan sentimen global yang sedang kurang kondusif.

Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat mengalami pelemahan, begitu pula dengan Hang Seng di Hong Kong. Sementara itu, indeks Shanghai Composite di China dan Straits Times di Singapura juga bergerak di zona negatif, meskipun dengan penurunan yang relatif lebih terbatas.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan IHSG bukan fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan pasar yang lebih luas di tingkat regional.

IHSG Anjlok ke Level 6.400, Ini Faktor Pemicu Tekanan Pasar
IHSG Anjlok ke Level 6.400, Ini Faktor Pemicu Tekanan Pasar

Faktor Geopolitik Menambah Ketidakpastian

Dari sisi global, ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali memanas, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah yang menembus level di atas 100 dolar AS per barel memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi global. Situasi ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati, karena kenaikan harga energi dapat menekan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Ketidakpastian geopolitik seperti ini sering kali memicu pergeseran investasi ke aset yang lebih aman, sehingga pasar saham cenderung mengalami tekanan.

Pelemahan Rupiah Jadi Beban Tambahan

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah turut memberikan tekanan terhadap IHSG. Pada saat yang sama, rupiah dilaporkan melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.676 per dolar AS.

Pelemahan mata uang ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik, khususnya terkait inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, depresiasi rupiah juga dapat meningkatkan beban biaya bagi perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung bersikap defensif dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham.

Kekhawatiran Inflasi dan Perlambatan Ekonomi

Akumulasi berbagai sentimen negatif, mulai dari faktor global hingga domestik, pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi ke depan. Investor mulai mengantisipasi kemungkinan tekanan inflasi yang lebih tinggi serta perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dalam situasi seperti ini, pasar saham biasanya mengalami koreksi sebagai bentuk penyesuaian terhadap risiko yang meningkat. Pelaku pasar cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi maupun stabilitas global sebelum kembali meningkatkan investasi.

Investor Lakukan Penyesuaian Portofolio

Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, investor dilaporkan mulai melakukan penyesuaian portofolio. Langkah ini merupakan respons terhadap perubahan indeks global serta dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Penyesuaian tersebut tidak dilakukan secara instan, melainkan bertahap sesuai dengan strategi dan profil risiko masing-masing investor. Proses rebalancing ini diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan.

Investor institusi, khususnya yang mengikuti indeks global, biasanya akan menyesuaikan komposisi investasinya agar tetap selaras dengan perubahan yang terjadi. Hal ini dapat memicu volatilitas tambahan di pasar saham dalam jangka pendek.

Penulis : redaksiku

Editor : redaksiku

Sumber Berita: Berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lodewyk Pusung, Terbaru 7 Fakta Eks Wakil Kepala BGN Ajukan Praperadilan
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, Wajib Tahu 7 Hal Penting soal PPPK
Waspada 7 Hal Pajak Marketplace Mulai 1 Juli 2026
Wajib Tahu! 7 Cara Cek SLIK OJK Online Lewat HP
Prabowo Tegaskan Terbuka pada Usulan Rakyat, Termasuk dari TikTok
Heboh! 5 Fakta Prabowo Beri Alat Drumben SDN Sukabumi
Penting! 5 Fakta Menkes Kaget Dokter Kena Bullying
Ribuan Massa TMI Gelar Aksi Damai Dukung Program Kerakyatan Presiden Prabowo

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:05 WIB

Lodewyk Pusung, Terbaru 7 Fakta Eks Wakil Kepala BGN Ajukan Praperadilan

Kamis, 2 Juli 2026 - 11:55 WIB

Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, Wajib Tahu 7 Hal Penting soal PPPK

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:23 WIB

Waspada 7 Hal Pajak Marketplace Mulai 1 Juli 2026

Senin, 29 Juni 2026 - 12:30 WIB

Wajib Tahu! 7 Cara Cek SLIK OJK Online Lewat HP

Minggu, 28 Juni 2026 - 19:46 WIB

Prabowo Tegaskan Terbuka pada Usulan Rakyat, Termasuk dari TikTok

Berita Terbaru

iPhone 16e, Wajib Tahu 7 Fakta HP Apple dengan Chip A18

Teknologi

iPhone 16e, Wajib Tahu 7 Fakta HP Apple dengan Chip A18

Kamis, 2 Jul 2026 - 13:19 WIB

Belgia vs Senegal, Terbaru 6 Fakta Comeback Dramatis 3-2

Olahraga

Belgia vs Senegal, Terbaru 6 Fakta Comeback Dramatis 3-2

Kamis, 2 Jul 2026 - 12:19 WIB