Redaksiku.com – Tekanan di pasar saham domestik kembali terlihat pada perdagangan akhir pekan. IHSG mengalami koreksi tajam hingga 3 persen pada sesi pertama perdagangan Jumat (24/4/2026), seiring dengan derasnya aksi jual yang dilakukan investor asing di berbagai saham unggulan.
Data transaksi menunjukkan bahwa investor asing melakukan penjualan dalam jumlah besar hingga mencapai Rp5 triliun. Di sisi lain, pembelian tercatat sekitar Rp3 triliun, sehingga menghasilkan nilai jual bersih (net sell) sebesar kurang lebih Rp2 triliun.
Tekanan Jual Terpusat di Saham Big Caps
Berdasarkan data dari Indo Premier Sekuritas, tekanan jual paling signifikan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, khususnya di sektor perbankan.
Saham BBCA milik PT Bank Central Asia Tbk menjadi kontributor terbesar aksi jual asing dengan nilai mencapai Rp1,3 triliun. Angka ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup kuat terhadap saham perbankan papan atas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, saham BBRI dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga mencatatkan tekanan jual sebesar Rp287,5 miliar, diikuti oleh BMRI milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang dilepas senilai Rp192,4 miliar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor perbankan menjadi fokus utama aksi profit taking atau pengurangan portofolio oleh investor asing.
Sektor Non-Perbankan Ikut Tertekan
Tidak hanya sektor keuangan, aksi jual asing juga merambah ke sektor lain, termasuk telekomunikasi dan energi. Saham TLKM dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tercatat mengalami net sell sebesar Rp70,4 miliar.
Di sektor energi, tekanan jual juga terlihat pada saham MEDC (PT Medco Energi Internasional Tbk), ENRG (PT Energi Mega Persada Tbk), serta PTRO (PT Petrosea Tbk).
Selain itu, saham ADRO milik PT Alamtri Resources Indonesia Tbk juga ikut terdampak dengan nilai penjualan yang cukup signifikan.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan tidak hanya terfokus pada satu sektor, melainkan menyebar ke berbagai lini industri.

Saham Lain yang Terdampak Aksi Jual
Sejumlah saham lain juga masuk dalam daftar net sell asing, termasuk BFIN (PT BFI Finance Indonesia Tbk) dan PACK (PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk).
Meski nilai penjualannya tidak sebesar saham perbankan, aksi jual ini tetap menunjukkan kecenderungan investor asing untuk mengurangi eksposur di pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
Aksi Beli Terbatas pada Saham Tertentu
Di tengah tekanan jual yang dominan, investor asing masih melakukan akumulasi pada beberapa saham. Saham CUAN milik PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk menjadi yang paling banyak dibeli dengan nilai Rp35,2 miliar.
Selain itu, saham DEWA dari PT Darma Henwa Tbk juga mencatatkan pembelian sebesar Rp33,1 miliar, diikuti oleh BULL (PT Buana Lintas Lautan Tbk) sebesar Rp23,9 miliar.
Aksi beli ini menunjukkan bahwa meskipun pasar sedang terkoreksi, investor asing tetap melihat peluang pada saham-saham tertentu, khususnya di sektor energi dan logistik.
Perbankan Tetap Dilirik di Sisi Beli
Menariknya, meski sektor perbankan mengalami tekanan jual, terdapat juga aksi beli pada beberapa saham bank. Saham BDMN milik PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencatatkan pembelian sebesar Rp21,4 miliar.
Sementara itu, saham BBNI dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk juga masuk dalam daftar net buy dengan nilai Rp20,3 miliar.
Hal ini menunjukkan adanya rotasi sektor atau pergeseran preferensi investor dalam memilih saham perbankan.
Saham Komoditas dan Industri Turut Diburu
Selain sektor perbankan, saham berbasis komoditas juga menarik minat investor asing. Saham ANTM (PT Aneka Tambang Tbk) dan INCO (PT Vale Indonesia Tbk) masing-masing mencatatkan pembelian yang cukup signifikan.
Di sektor otomotif dan konglomerasi, saham ASII milik PT Astra International Tbk juga masuk dalam daftar saham yang diakumulasi.
Selain itu, saham ARCI (PT Archi Indonesia Tbk) turut mencatatkan pembelian oleh investor asing.
Sentimen Pasar dan Faktor Global
Koreksi IHSG tidak lepas dari pengaruh sentimen global yang masih bergejolak. Ketidakpastian ekonomi dunia, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika geopolitik menjadi faktor yang memengaruhi keputusan investor asing.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi risiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Aksi jual besar-besaran pada saham big caps juga dapat diartikan sebagai langkah konsolidasi setelah periode kenaikan sebelumnya.
Implikasi bagi Investor Domestik
Bagi investor domestik, kondisi ini dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, koreksi harga membuka kesempatan untuk masuk ke saham dengan valuasi yang lebih menarik.
Namun di sisi lain, volatilitas pasar yang tinggi menuntut kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi.
Investor disarankan untuk tetap memperhatikan fundamental perusahaan serta kondisi makroekonomi sebelum melakukan transaksi.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






