Redaksiku.com – Ketika Ruveena D Souza memutuskan memperpanjang kunjungannya di China selama dua pekan, ia tidak hanya menyambangi destinasi ikonis seperti Beijing atau Xi’an. Wisatawan asal India ini memilih menghabiskan waktu di Xingping, kota kecil di Guilin yang terkenal dengan bentang alam karst dan pemandangan di uang kertas 20 yuan, demi mencari suasana yang lebih santai.
Langkah D Souza mencerminkan tren yang kian berkembang di kalangan pelancong global. Alih-alih hanya berdesakan di kota metropolitan, semakin banyak turis asing mulai melirik keindahan tersembunyi di pedesaan China untuk merasakan ritme perjalanan yang lebih lambat.
Para wisatawan yang mengunjungi Desa Xitou di Kota Longquan, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. (Foto: Longquan Wangou Taoxichuan)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan kunjungan ini didorong oleh infrastruktur yang semakin matang dan kemudahan akses transportasi. Data Administrasi Imigrasi Nasional (NIA) mencatat China menerima hampir 23 juta wisatawan asing pada paruh pertama 2026, yang menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 20,4 persen dibanding periode sebelumnya.
Laporan dari agen perjalanan Trip.com pada 2025 juga mencatat kenaikan pemesanan penginapan pedesaan oleh wisatawan asing hingga 50 persen secara tahunan. Turis dari berbagai negara seperti Australia, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat kini aktif mencari pengalaman autentik di luar pusat wisata konvensional.
Daya Tarik Budaya Lokal dan Wisata Lambat
Pedesaan China kini menjadi sensasi di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Xiaohongshu. Kreator konten internasional banyak yang beralih dari Tembok Besar Beijing menuju sawah terasering terpencil dan desa-desa berusia ratusan tahun.
Wu Maoying, profesor manajemen pariwisata dan perhotelan di Zhejiang University, menjelaskan bahwa program revitalisasi pedesaan telah memperluas jaringan kereta cepat. Hal ini membuat desa-desa terpencil kini dapat dijangkau dalam waktu beberapa jam saja dari kota besar.
Selain lanskap yang memukau, keterlibatan langsung dalam tradisi lokal menjadi magnet utama. Wisatawan tidak hanya bertindak sebagai pengamat, melainkan ikut serta dalam kegiatan seperti belajar membuat kerajinan keramik, memasak hidangan tradisional, hingga menghadiri festival rakyat.
Warga Singapura Chleo Lee, bersama keluarganya, mengikuti tur berpemandu selama 10 hari untuk menjelajahi desa-desa di Shangri-La, Dali, dan Lijiang pada April 2026. (Foto: Chleo Lee)
Chleo Lee, seorang pelancong asal Singapura, merasakan sendiri kehangatan budaya lokal ketika mengikuti jamuan malam yang diselenggarakan oleh suku Mosuo di Danau Lugu. Pengalaman berinteraksi langsung dengan warga desa memberikan kenangan mendalam yang sulit ditemukan di hotel-hotel modern perkotaan.
Pemesanan penginapan di pedesaan China oleh wisatawan asing melonjak hingga lima puluh persen berdasarkan laporan industri perjalanan.

Tantangan Bahasa dan Kendala Aksesibilitas
Di balik pesonanya, perjalanan ke daerah pedesaan menyimpan sejumlah tantangan praktis bagi pelancong internasional. Kendala bahasa menjadi hambatan utama karena sebagian besar penduduk lokal tidak menggunakan bahasa Inggris.
Pelancong harus mengandalkan aplikasi penerjemah digital serta mengunduh berbagai perangkat lunak penunjang seperti Alipay, WeChat, dan layanan pemetaan lokal. Sebagian dari aplikasi tersebut terkadang tidak tersedia di toko aplikasi standar negara asal wisatawan.
Lok Li Wen, seorang wisatawan asal Singapura, menikmati suasana santai di Dali, Provinsi Yunnan. (Foto: Lok Li Wen)
Quan Na, profesor madya di Guilin Tourism University, mengingatkan bahwa kurangnya fasilitas pendukung bagi turis asing berisiko mengubah rasa ingin tahu menjadi kekecewaan. Produk wisata lokal sering kali masih dirancang eksklusif untuk pelancong domestik.
Pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata didorong untuk segera meningkatkan fasilitas pendukung, termasuk penyediaan papan petunjuk dwibahasa dan perluasan penerimaan pembayaran kartu kredit internasional di tingkat desa.
Pertanyaan Umum
Mengapa turis asing mulai beralih ke pedesaan China?
Wisatawan asing mencari pengalaman perjalanan yang lebih lambat, suasana yang tenang, dan interaksi budaya yang lebih autentik dibandingkan hiruk-pikuk kota besar.
Apa saja kendala utama saat mengunjungi pedesaan China?
Kendala utama meliputi hambatan bahasa, keterbatasan akses pembayaran non-tunai yang ramah turis asing, serta kesulitan menjangkau daerah terpencil tanpa pemandu.
Bagaimana cara mengatasi kendala bahasa di pedesaan China?
Pelancong umumnya menggunakan aplikasi penerjemah waktu nyata di ponsel pintar serta memanfaatkan layanan tur berpemandu lokal untuk mempermudah komunikasi.
Ringkasan
Wisatawan asing kini semakin meminati pedesaan China karena mencari pengalaman wisata yang lebih santai, autentik, dan jauh dari keramaian kota besar. Tren ini didukung oleh peningkatan infrastruktur kereta cepat serta kemudahan akses yang memungkinkan turis menjelajahi keindahan budaya lokal secara lebih mendalam.






