Redaksiku.com – Sebuah bencana tambang emas al-Zaraa yang berlokasi di dekat kota al-Nuhud, Kordofan Barat, Sudan, telah menelan banyak korban jiwa pada Selasa, 15 September 2026. Sedikitnya 82 orang dikonfirmasi tewas dan 50 lainnya mengalami luka-luka akibat runtuhnya lubang-lubang galian yang berdekatan. Hingga kini, proses pencarian masih terus dilakukan oleh warga setempat di tengah ketidakpastian mengenai jumlah pasti penambang yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Kelompok pemantau Observatorium Kordofan melaporkan bahwa insiden ini dipicu oleh keruntuhan beruntun pada sejumlah lubang tambang yang letaknya saling berdekatan. Struktur tanah yang gembur dan berpasir membuat area galian tersebut sangat labil dan rawan ambruk. Upaya evakuasi yang dilakukan oleh warga menghadapi berbagai kendala besar, terutama karena ketiadaan alat berat dan minimnya peralatan penyelamatan modern di lokasi kejadian.
Seorang sumber dari Pasukan Pendukung Cepat (RSF) yang menguasai wilayah tersebut mengungkapkan bahwa metode pencarian korban masih sangat konvensional. “Ada sejumlah orang yang tidak diketahui jumlahnya masih terjebak di bawah reruntuhan dan upaya penyelamatan sedang dilakukan dengan metode yang masih sangat sederhana,” ujar sumber anonim tersebut kepada media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi geografis dan metode penambangan tradisional yang berisiko tinggi di Kordofan Barat memperparah dampak dari runtuhnya struktur tanah di area galian emas al-Zaraa.
Kondisi Penyelamatan dan Tantangan di Lapangan
Proses evakuasi korban yang tertimbun material tambang berjalan sangat lambat karena tidak ada tim penyelamat khusus yang diterjunkan ke lokasi terpencil tersebut. Para penyintas dan warga sekitar terpaksa mengandalkan peralatan seadanya untuk menggali tumpukan tanah demi mencari rekan mereka yang hilang.
Khair al-Sayyed Jabara, salah seorang korban selamat dari insiden maut tersebut, menuturkan bahwa ia bersama para penambang lainnya harus bekerja sepanjang malam untuk membersihkan reruntuhan. Mereka menggunakan alat apa pun yang tersedia di sekitar lokasi karena bantuan alat berat belum kunjung tiba di area tambang.
Tragedi di Kordofan Barat ini mencatat sedikitnya 82 orang meninggal dunia dan 50 lainnya terluka akibat runtuhnya struktur galian tambang emas ilegal tersebut.
Penambang lain bernama Amin Suleiman menjelaskan bahwa jarak antar lubang tambang yang terlalu dekat menjadi faktor pemicu utama bencana susulan. Ketika satu lubang mengalami keruntuhan, tekanan dan getaran tersebut langsung merembet serta memengaruhi kestabilan lubang tambang di sekitarnya.
Standar Keselamatan Kerja yang Dipertanyakan
Jaringan Dokter Sudan yang berbasis di Khartoum mengeluarkan peringatan keras bahwa jumlah korban tewas masih berpotensi meningkat seiring berlanjutnya proses pencarian. Mereka menyoroti tidak adanya perlindungan dasar bagi para pekerja yang menggantungkan hidup di sektor pertambangan tradisional.
- Pencarian korban terus dilanjutkan oleh warga meski menghadapi keterbatasan alat keselamatan kerja.
- Bantuan medis dan logistik darurat didesak segera dikirimkan ke lokasi bencana untuk membantu masyarakat terdampak.
- Aktivitas penambangan ilegal di wilayah konflik tersebut mendapat sorotan tajam karena mengabaikan standar keselamatan minimum.
Organisasi kesehatan tersebut juga mendesak agar aktivitas penambangan tanpa izin dihentikan sementara waktu guna mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang. Kondisi kerja yang berbahaya di sektor pertambangan informal telah lama menjadi ancaman nyata bagi keselamatan para pekerja di berbagai wilayah Sudan.
Latar Belakang Wilayah dan Sektor Pertambangan
Kordofan Barat berada di bawah kendali Pasukan Pendukung Cepat (RSF), sebuah kelompok paramiliter yang terlibat dalam konfik bersenjata melawan tentara reguler Sudan sejak April 2023. Sektor pertambangan emas, termasuk kegiatan penyelundupan hasilnya, diketahui menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi kelompok paramiliter tersebut.
Sebagian besar produksi emas di Sudan bersumber dari pertambangan informal yang beroperasi tanpa regulasi ketat maupun perlengkapan keselamatan kerja yang memadai.
Sebagai salah satu negara produsen emas terbesar di benua Afrika, Sudan menghadapi tantangan besar dalam mengelola sektor pertambangan rakyat yang kerap diabaikan oleh pengawasan negara. Sebagian besar aktivitas pencarian logam mulia dilakukan secara tradisional di lokasi-lokasi terpencil yang luput dari standar keamanan industri.
Bencana yang terjadi di al-Zaraa kembali membuka mata publik mengenai tingginya risiko yang harus dihadapi oleh para penambang tradisional setiap hari. Operasi pencarian dan evakuasi di lokasi runtuhnya tambang tersebut masih terus berlanjut di tengah duka mendalam keluarga korban.
Pertanyaan Umum
Berapa jumlah korban dalam insiden runtuhnya tambang di Sudan?
Sedikitnya 82 orang dilaporkan tewas dan 50 lainnya mengalami luka-luka akibat runtuhnya tambang emas al-Zaraa di Kordofan Barat, Sudan.
Kapan peristiwa runtuhnya tambang emas tersebut terjadi?
Insiden tragis tersebut terjadi pada hari Selasa, 15 September 2026, di dekat kota al-Nuhud.
Apa penyebab utama tingginya korban jiwa dalam kecelakaan tambang ini?
Tingginya korban jiwa disebabkan oleh runtuhnya sejumlah lubang tambang yang saling berdekatan, minimnya prosedur keselamatan kerja, serta lambatnya proses evakuasi akibat ketiadaan alat berat.
Ringkasan
Tragedi runtuhnya tambang emas tradisional al-Zaraa di Kordofan Barat, Sudan, pada 15 September 2026, menyebabkan 82 orang tewas dan 50 lainnya mengalami luka-luka. Bencana ini dipicu oleh struktur tanah berpasir yang labil serta jarak antar lubang galian yang terlalu dekat.
Proses evakuasi korban yang masih terjebak berjalan sangat lambat dan konvensional karena warga setempat harus menggunakan peralatan seadanya akibat ketiadaan alat berat dan minimnya standar keselamatan kerja di wilayah konflik tersebut.












