Enggak. Kamu mau saya menghancurkan nama baik ibu dan keluarga saya? Kalau kamu mau batal, kamu dan keluargamu yang harus membatalkan, bukan saya.
Bahkan kudengar Bu Nawang itu bukan ibu kandungmu
Ibu kandung atau bukan, dia tetap ibu saya. Kamu enggak berhak mempermalukan ibu saya di depan orang-orang hanya karena kamu enggak mau nikah sama saya. Sekarang, keputusan ada di tanganmu. Kalau sudah enggak ada yang mau disampaikan, silakan keluar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski Reivan sudah mengusir, tapi aku bergeming. Tidak, saat itu aku tidak mau pergi sebelum aku bisa mendapatkan kepastian.
Gini aja ¦ oke kita tetap nikah, tapi cuma satu tahun. Selama itu, kamu dan aku enggak boleh bersentuhan apalagi berhubungan suami istri. Aku akan mengizinkan kamu kembali ke pacarmu, kamu juga harus mengizinkan aku tetap dengan pacarku. Setelah satu tahun, kita cerai. Itu pilihan terbaik agar aku dan kamu sama-sama senang.
Akhirnya seperti apa, aku sudah tahu semuanya. Kami menikah, dan baru beberapa hari menjadi suamiku, Reivan telah bertindak sesukanya. Dia pikir dia bisa mengaturku karena aku adalah istrinya. Oh, iya. Aku memang istrinya, tapi aku bukan istri yang mau seenaknya diatur oleh suami yang tak berperasaan seperti dirinya!
Dan seperti yang sudah bisa ditebak, makin aku memikirkannya, makin membara amarah dalam dadaku. Bersama Reivan tiga hari bisa membuatku terkena penuaan dini!
Dewi?
Aku baru saja keluar kamar ketika menemukan Dewi berdiri sambil menempelkan kuping kirinya di daun pintu kamar Reivan. Mendapati kemunculanku yang pastinya tidak ia sadari, Dewi pun langsung memperbaiki posisi tubuhnya dengan gerak-gerik yang salah tingkah.
Ibu ¦ Itu, tadi pagi sebelum berangkat Bapak nyuruh saya bersihin kamar, katanya ada bekas gelas jus yang pecah.
Terus ngapain kamu nguping di situ?
Bapak suruh saya tunggu Ibu bangun sebelum beres-beres. Dari pagi saya ketuk-ketuk pintunya Ibu enggak bangun-bangun, saya takut Ibu kenapa-kenapa. Saya enggak tahu kalau Ibu tidur di kamar sebelah.
Ketika aku sedang bertanya-tanya mengapa Reivan menyuruh ART-nya menungguku bangun sebelum kamarnya dibereskan, Bu Lia muncul dari tangga. Dari belakang punggung Dewi yang menghadap ke arahku, Bu Lia memberikan kode melalui lambaian tangannya. Tidak satu pun dari semua kode itu yang kupahami apa artinya, hingga akhirnya Dewi menyadari ada kehadiran orang ketiga di antara kami.
Ih! Kamu tuh lupa, ya, Wi? Tadi pagi, kan, Bapak udah bilang kalau kamarnya kotor, jadi Bapak sama Ibu pindah dulu ke kamar sebelahnya. Udah cepet, beresin kamar Bapak.
Dewi mengangguk lalu meminta izin dariku untuk membuka pintu kamar Reivan. Aku langsung mengiyakan tanpa berpikir. Ketika Dewi sudah sibuk dengan pekerjaannya, kudengar Bu Lia berbisik, Dewi itu enggak tahu kalau Neng Hana belum tidur sekamar sama Mas Reivan. Tapi tenang, Neng, semuanya aman. Bu Lia enggak cerita apa-apa. []
Terima kasih sudah membaca cerita ini ^^
Jangan lupa baca bab sebelumnya di https://redaksiku.com/room-for-two-bab-5-perkara-rumah-saya/
Halaman : 1 2






