Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 6)
Upacara akad nikah sudah selesai hanya dihadiri oleh kerabat kedua belah pihak dan beberapa sahabat dekat Toni. Tepat pukul 11.00 seperti yang tertulis di undangan, acara temu pengantin secara adat jawa komplit dilaksanakan, dengan penuh kesakralan. lalu Kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.
Menjelang pukul 11.00, tetamu mulai berdatangan. Meja tamu terlihat sangat sibuk dengan antrian tamu yang mengular. Para tamu sengaja datang lebih awal, karena ingin menyaksikan temu pengantin adat jawa gaya solo, yang sudah jarang ditemui.
Papan-papan bunga ucapan selamat berjajar memenuhi kiri kanan jalan masuk hingga meluber sepanjang tembok pagar halaman. Bunga kiriman dari pejabat pemerintah maupun perusahaan. Pesta yang digelar merupakan pesta pernikahan putra-putri pengusaha besar yang terbilang beken.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di luar gedung, seorang wanita muda memakai busana muslim, berusaha untuk tidak menarik perhatian. Wanìta itu berdiri di balik deretan papan bunga ucapan selamat. Beberapa kali dia benar-benar bersembunyi saat orang-orang yang dikenalnya melintas. Dia tampak mengintip mengawasi situasi dengan waspada.
Saat melintas serombongan tamu, dengan sigap dia bergabung. Diperhatikannya rombongan tersebut, sepertinya tidak saling kenal. Mereka hanya kebetulan masuk bersama-sama. Rombongan terhenti di depan teras tempat meja penerima tamu. Mereka menunggu upacara temu berlangsung. Ruang pesta terlihat penuh.
Lihat Yul, kau selalu membuang waktu. Kita terlambat mengikuti upacara temu pengantin! bisik seorang lelaki dengan nada kesal kepada pasangannya.
Maaf, aku tadi terlambat bangun.
Kebiasaan! Ini upacara adat jawa komplit yang dah jarang dilakuin. Pengantin juga berbusana paes ageng.
Baju apaan sih? tanya si wanita.
Lihat aja nanti! jawab si pria ketus. Wajahnya sangat kentara kalau dia sangat kecewa.
Wanita penyusup itu mendengarkan dengan cermat pembicaraan mereka. Matanya merebak merah. Penyusup itu tak lain dan tak bukan adalah tunangan pengantin pria.
Seharusnya aku, pengantin wanitanya! Aku penasaran sekali! Seperti apa dia sampai orang tua mas Toni memilihnya. Erlika berdesah lirih dengan kewaspadaan tinggi. Dia berusaha mengatur napas dan menenangkan jantungnya yang makin tidak bisa diatur.
Saat berangkat Erlika tidak merasa cemburu barang sedikit pun. Dia sangat yakin akan cinta Toni padanya. Dengan keangkuhannya dia ingin menyaksikan tunangannya menikah. Mendengar sanjung puji para tamu kepada kedua pengantin dan keluarganya, rasa cemburu mulai bersemi. Ada goresan tajam yang dia rasakan di hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Terdengar gelak tawa para tamu dari dalam gedung. Entah kelucuan apa yang sedang terjadi. Tidak lama kemudian, ruangan kembali hening menarik perhatian pengunjung di luar. Para tamu di luar pintu berusaha menatap pelaminan dengan serius, bahkan ada yang jinjit-jinjit untuk dapat melihat.
Acara sungkeman sedang berlangsung. Narasi pembawa acara yang sendu dengan kalimat-kalimat puitis, diiringi gending yang mendayu menyentuh hati, mampu mengaduk sukma setiap orang yang mendengarnya. Beberapa orang mulai repot dengan cairan hidung yang tidak diundang.
Erlika perlahan-lahan beringsut mendekati pintu masuk. Dia penasaran dengan apa yang terjadi di dalam gedung. Acara temu pengantin ternyata sudah selesai. Kedua pengantin duduk di pelaminan diapit kedua orang tuanya.
Erlika melongo terkesima menatap panggung pelaminan. Sepasang pengantin yang anggun memesona seperti dewa dewi yang turun mengejawantah dì bumi. Dia hampir saja tidak mengenali tunangannya. Di depan netranya yang membulat, Toni seperti titisan dewa Kamajaya yang tercipta untuk dewi Kamaratih.
Menyaksikan dua pasang orang tua yang duduk mengapit pengantin dengan anggun dan elegan, nyalinya langsung menciut. Erlika mulai merasa tidak berharga. Dia membandingkan orang tuanya yang ndeso dengan mertua Toni.
Kenapa aku tidak kepo terhadap orang yang dijodohkan dengan mas Toni? bisiknya lirih. Desahnya membuat seorang tamu wanita sebelahnya menoleh. Erlika buru-buru terbatuk. Dia tersenyum sambil menganggungguk. Beruntung orang disebelah wanita itu mengajak bicara. Erlika buru-buru bergeser menjauh.
Senyum manis kedua pengantin, sempat mengusik hatinya. Namun, janji Toni menguatkannya. Toni mencintaiku. Sangat, malah. Buktinya ¦, desahnya dalam hati sambil memandang sebentuk cincin tunangan cantik yang melingkar di jari manisnya.
Erlika tersadar mendengar suara gending yang mengentak. Acara dilanjutkan persembahan tarian Gatotkaca Gandrung. Banyak tamu yang menerobos masuk setelah mengisi buku tamu. Mereka ingin menyaksikan dari dekat pertunjukan tari yang didatangkan dari Sriwedari, Solo.
Para tamu menikmati tarian yang dibawakan dengan sangat apik penuh penjiwaan. Penonton dibuat terhanyut dengan suasana hati Gatotkaca yang sedang kasmaran. Gamelan mengiringi tarian dengan irama berganti-ganti sesuai perasaan hati si tokoh. Penari dan gending pengiring seperti menyatu, sangat indah dan merepresentasikan kisahnya. Suatu pertunjukan yang sangat menawan dan sarat akan makna.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






