Di pelaminan, sepasang pengantin dibalut busana Paes Ageng gaya solo, duduk dengan anggun. Untuk menyenangkan hati orang tuanya, kedua mempelai memasang mode bahagia di wajahnya. Bibirnya menyungging senyum manis yang tak ada habisnya. Layaknya sepasang dewa dewi yang sedang mengejawantah di Arcapada, menjadi sepasang pengantin yang mengagumkan.
Jeng, pengantinnya bener-bener serasi ya, seperti Kamajaya dan Kamaratih, kata ibu-ibu tengah baya kepada wanita di sampingnya.
Inggih, Bu. Perkawinan yang benar-benar cocok. Keduanya dari keluarga pengusaha besar. Bisnis mereka bisa semakin berkembang, jawabnya sambil menelan ludah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Memang kenapa kalau nggak setara? Huh, mereka tidak tau, mas Toni tidak mencintai istrinya. Menikah itu karena cinta. Bukan perhitungan dagang. Tapi cinta! gerutu Erlika dalam hati, mendengar percakapan kedua wanita itu.
Hatinya mulai terasa nyeri, melihat kebahagiaan yang memancar dari wajah-wajah di panggung pelaminan. Tanpa diminta kilau bening terbit di kedua matanya. Erlika buru-buru mengeringkan mata sambil berusaha mengelak mengakui kecemburuannya.
Dia mendengkus, lalu menggumam dalam hati, mereka tidak tau, nanti malam mas Toni akan membicarakan ulang rencana pernikahan kami. Dia sudah mengatur waktunya bersama Bapake karo Mboke.
Tiba-tiba Erlika terkejut, ternyata wanita yang dipanggil Jeng, adalah bu Rani, atasan langsungnya. Secara perlahan dia mundur, kemudian mlipir ke arah pintu.
Tepuk tangan membahana menimpali gending yang mengentak dan rancak mengiringi kepergian Gatotkaca. Pertunjukan berakhir. Acara dilanjutkan dengan ucapan dan doa selamat buat pengantin. Antrian untuk memberi selamat mengular dan berlapis. Mata Erlika menyapu seluruh ruangan pesta.
Beberapa saat kemudian, meja prasmanan dan gubuk-gubuk hidangan mulai diserbu para tamu. Erlika menuju gubuk yang tadi diincarnya. Terlanjur sudah di sini, mumpung tamunya banyak, aku akan menikmati makanan mahal! batinnya sambil tersenyum miring, ikut mengantri.
Wajah cantiknya mulai menarik kaum muda yang masih jomblo. Beberapa ada yang menyapa. Kemudian ngobrol ngalor ngidul gak jelas. Berakhir dengan minta tukeran nomor HP. Akhirnya, Erlika pamit ke toilet dan sukses menghilang. Dengan segera nomor-nomor tadi diblokir.
Pesta akhirnya usai. Pasangan Ratih dan Toni berhasil melewati semua tahapan pernikahan dengan mulus. Wajah murung dan kesal kembali meronai kedua wajah tampan dan ayu yang memesona para tamu.
Pah, desis Ninit kelelahan. Wajah manisnya mulai memucat, napas sedikit memburu.
Mah! seru Barman panik.
Bagas yang berada di dekatnya segera mendekat, Mamah kenapa? tanyanya khawatir.
Mungkin kelelahan. Obatnya tadi dimakan, kan? tanya Barman cemas. Ninit mengangguk lemah.
Mamah nggak papa, Gas, cuma lelah, bisiknya lirih pada Bagas.
Biar aku panggilkan pak Nono! kata Bagas langsung melesat memanggil sopir keluarga Sumbogo. Kedua orang tua Toni pulang. Ninit bersikeras tidak mau ke dokter.
Ratih minta kepada perias agar mereka ganti busana di ruang terpisah. Dia memenangkan argumentasi dengan bundanya. Toni ganti busana di ruang rias keluarga, bersama pager bagus dan petugas penerima tamu pria. Ratih, bersama para pager ayu dan penunggu buku tamu, ganti busana di ruang rias pengantin.
Semua orang kelelahan. Perias dan seluruh stafnya sudah kembali ke hotel. Sorenya akan langsung kembali ke Solo. Baju-baju seragam sewaan sudah dikembalikan. Mobil pengantin siap di pintu lobby.
Ratih ngotot mau pulang ke rumah. Dia tidak mau pulang ke vila keluarga Barman untuk bulan madu. Bundanya kesal sekali. Ratih, kau ini bagaimana sih? Mamah Ninit sudah menyiapkan semuanya?
Kalau Bunda nggak mau lagi terima Ratih, ngga papa kok, Bun. Ratih dah menikah. Mas Toni yang bertanggung jawab atas diri Ratih! Begitu, kan, kata Bunda? ĵawab Ratih membalikkan kata.
Kau ¦. seru Arum dengan mata melebar, lalu diam.
Arum melepas napas dengan kasar untuk melegakan dada. Terdengar dehaman dari pintu. Keduanya menoleh. Rangga berdiri di pintu, termangu sedih memandang istri dan putri kesayangannya sedang beradu mulut.
Bun, sudahlah. Ratri belum terbiasa. Mereka terpisah cukup lama. Waktu kecil mereka juga kurang akrab. Nak Toni selalu bermain dengan Bagas dan Yayo. Sedang Ratih malah nginep di rumahnya. Beri mereka ruang dan waktu untuk saling mengenal.
Tapi, bagaimana perasaan Ninit, Yah?
Dia akan baik-baik saja. Ingat! Awalnya Ratih dan nak Toni kan, cuma mau ditunangkan. Sudah, ayo kita pulang. Ayah lelah sekali.
Ketiganya keluar ruangan menuju pintu lobby. Mobil mereka sudah siap menunggu.
Lho, mobil pengantin mana? tanya Arum.
Mas Toni dah pulang duluan. Tadi mau pamit, Ayah ma Bunda lagi ribut. Nggak enak Dia, sahut Ratih santai, bibirnya tersenyum penuh kemenangan.
Wajah bundanya memerah menahan marah. Ada perasaan tersinggung yang memicu kemarahannya. Hatinya dongkol sekali. Namun, melihat suaminya tenang-tenang saja berjalan sambil memeluk Ratih, kemarahannya pun pupus.
Anak jaman sekarang bener-bener memprihatinkan. Nggak ngerti unggah ungguh. Nggak ada sopan santunnya! sungut Arum dalam hati.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






