Novel : Room for Two Bab 22: Hancur dan Melebur

Maaf, tapi dengar dulu penjelasanku.
Aku berusaha menggapai tangan Reivan, tapi Reivan terus menepis sentuhanku. Saat itu kami sudah berdua saja di kamarnyaperlu kemampuan sandiwara di atas rata-rata untuk membuat Bu Nawang percaya bahwa kami bahagia setelah mendengar kabar bahwa aku sedang berbadan dua.
Kudekati Reivan. Saat kami berhadapan, kulihat otot-otot di tepi keningnya berkedut-kedut. Matanya memerah, napasnya sedikit terengah-engah. Kedua tangannya mengepal erat, menjelaskan kepadaku betapa marahnya Reivan saat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya enggak pernah nyentuh kamu, katanya sambil menunjuk wajahku.
Aku tidak membantah. Itu memang benar.
Benar kamu hamil?
Reivan aku mau jelasin
Benar kamu hamil?!
Iya, aku hamil.
Setelah mengatakan itu, aku merasa sempoyongan. Pandanganku berputar. Supaya tidak jatuh aku bergegas mundur lalu duduk di tepi kasur. Di sanalah air mataku membanjir. Kubiarkan saja, aku tak berusaha membendung atau menyembunyikannya. Biarlah mereka tumpah dan meruah sepuasnya karena aku tidak sanggup lagi menahannya. Namun, berbeda dengan sore tadi, kali itu Reivan sama sekali tidak mengindahkanku, padahal saat itu aku sangat menginginkan pengertian dan perhatiannya.
Itu bukan anak saya.
Aku mengangguk mengiyakan.
Cepat bilang itu bukan anak saya!
Tangisanku menderas. Dadaku penuh sesak oleh perasaan bersalah.
Ini bukan anak kamu.
Lalu anak siapa? Siapa yang ngehamilin kamu? Sebut namanya.
Sejujurnya lidahku kelu, sulit rasanya untuk menyebut nama itu.
Sebut siapa nama bapaknya, Ishana!
Sambil terisak-isak kukatakan bahwa anak dalam perutku itu anak siapa. ¦ anak Alston.
Aku tersentak dan spontan menghindar ketika tiba-tiba Reivan melempar ponselnya. Ponsel itu jatuh tepat ke sampingku. Layarnya yang masih menyala menghadap ke atas sehingga aku bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata Reivan merekam percakapan kami malam itu dalam bentuk video.
Sadar rekaman tersebut dapat merugikanku, aku langsung mengulurkan jari hendak menghapusnya. Namun, Reivan yang lebih gesit segera mengambil kembali ponselnya lalu memasukkannya ke saku celana.
Saya udah punya cukup bukti untuk mengajukan gugatan cerai.
Enggak! Jangan Reivan, please! Aku minta maaf, aku salah, tolong jangan ceraikan aku dulu.
Reivan menggeleng. Saya enggak mau tanggung jawab karena itu bukan perbuatan saya.
Maaf, Reivan ¦.
Setop! Jangan minta maaf! Kamu ¦ keterlaluan. Jangan harap saya bisa kasih maaf.
… aku minta maaf. Aku minta maaf! Aku tahu aku salah
Ya, kamu memang salah!
Reivan melangkah lebar ke arahku kemudian mencengkeram kedua bahuku. Sambil mengguncang-guncangkan tubuhku ia berteriak, Apa yang kamu pikirkan saat ngelakuin itu?! Kamu ngelarang saya, suami kamu yang sah, untuk nyentuh tubuh kamu, tapi kamu malah ¦ kamu malah dihamili laki-laki lain! Astaga, Ishana!
Jelas sekali di pendengaranku, Reivan bicara dengan suara bergetar. Melihatnya terluka dan kecewa seperti itu benar-benar melukai perasaanku. Aku ingin memeluknya, tetapi di saat yang bersamaan aku takut untuk melakukannya.
Kamu menjijikan, gumamnya kemudian sembari mengusap-usap wajah. Bisa-bisanya kamu begitu.
Maaf, aku khilaf. Aku nyesel. Waktu itu aku terlalu marah sama kamu karena kamu ngusir aku ¦.
Jangan timpakan kesalahan kamu sama saya
Ya menurutmu aku harus gimana? Waktu itu kamu memang ngusir aku, kan? Dan menurutmu aku harus pulang ke mana kalau di rumah ini aku enggak diterima?
Demi Tuhan, Ishana, saya ngajak kamu pulang!
Aku tahu, aku tahu! Tapi ini semua sudah terjadi, Reivan, please! Aku khilaf, waktu itu aku benar-benar enggak berpikir panjang. Kamu marah, kamu ngusir aku, saat itu cuma Alston yang paham perasaanku. Aku pasti terbawa suasana, aku enggak nyangka akan jadi begini
Ya memangnya apa lagi selain kehamilan yang bisa kalian harapkan setelah berhubungan badan, hah?! iPhone seri terbaru?!
Aku tidak menjawab pertanyaan penuh retorika itu. Alih-alih menimpali kata-katanya, aku hanya lanjut menangis tanpa suara.
Sekarang kita harus gimana?
Enggak ada kita, kata Reivan sembari berjalan menjauhiku. Cuma ada saya tanpa kamu. Besok saya akan ke rumah orang tuamu dan bilang bahwa saya akan menceraikan kamu
Enggak, Reivan, please! Aku menghambur ke arah Reivan lalu berlutut sembari memeluk kakinya. Jangan ceraikan aku, please! Jangan sekarang, Reivan, kumohon!
Sambil menarik tanganku agar terlepas dari kakinya, Reivan berkata, Bukannya kamu yang selalu minta supaya kita bercerai?
Setelah satu tahun!
Setelah kamu ngelakuin ini? Dengar, Ishana, saya sudah banyak bersabar sama kamu, tapi yang ini ¦ yang ini saya enggak bisa. Ini sudah keterlaluan. Silakan kamu pergi dari sini, Ishana.
Reivan, please ¦. Air mataku tumpah tak terkendali. Aku enggak tahu harus pergi ke mana kalau kamu ngusir aku lagi. Papa Mama pasti bakalan bunuh aku kalau tahu aku hamil
Kamu bisa hubungi pacarmu dan datangi rumahnya
Dia enggak bisa dihubungi. Dia ngilang. Tadi pagi aku sudah ke kosannya, tapi dia enggak ada di sana. Aku enggak tahu dia ada di mana sekarang.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






