Redaksiku.com – Museum Mega Science Center dan Budaya di Jawa Timur Park 1 Kota Batu resmi hadir sebagai destinasi edukasi baru yang terinspirasi dari pusat sains di berbagai negara maju. Kehadiran fasilitas megah ini digagas langsung oleh Jatim Park Group untuk memperkaya khazanah wisata berbasis pengetahuan di Indonesia.
Gagasan besar di balik pembangunan museum ini berawal dari kegiatan peninjauan atau benchmarking rutin yang dilakukan pengelola ke luar negeri. Dari pengamatan tersebut, terungkap bahwa fasilitas pusat sains merupakan sarana edukasi yang sangat lazim dan penting di negara-negara maju.
Direktur Jawa Timur Park Group Rio Imam Sendjojo menjelaskan bahwa kondisi di tanah air masih sangat membatasi keberadaan fasilitas sains berskala besar. Hal inilah yang memotivasi manajemen untuk menghadirkan wahana edukatif dengan standar internasional di Kota Batu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum mendirikan museum terpadu ini, kawasan Jawa Timur Park 1 sebenarnya telah memiliki zona sains tersendiri. Namun, fasilitas lama tersebut memiliki ukuran dan cakupan yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kompleks Museum Mega Science Center dan Budaya yang baru.
Museum Mega Science Center dan Budaya di JTP 1 Kota Batu menghadirkan total 617 alat peraga interaktif untuk pengunjung.
Dalam proses perancangannya, manajemen memutuskan untuk memadukan konsep sains modern dengan pelestarian unsur budaya lokal. Pendekatan tematik ganda ini dinilai mampu memberikan daya tarik tersendiri sekaligus memperluas wawasan pengunjung dari berbagai kalangan usia.
Peresmian fasilitas prestisius ini turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif dunia pariwisata dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan non-formal di daerah.
Kolaborasi Strategis dengan Perguruan Tinggi
Guna memastikan kualitas materi dan alat peraga yang edukatif, pihak pengelola tidak berjalan sendiri. Pembangunan Museum Mega Science Center dan Budaya melibatkan sinergi erat dengan dunia akademik melalui pelibatan sejumlah universitas terkemuka.
Beberapa institusi pendidikan tinggi yang turut ambil bagian dalam proyek pengembangan ini meliputi:
- Universitas Brawijaya Malang yang memberikan masukan akademis terkait materi sains terapan.
- Universitas Negeri Malang yang membantu merumuskan metode penyampaian edukasi yang ramah anak dan pelajar.
- BINUS University yang mendukung integrasi teknologi dalam berbagai sarana peraga di dalam museum.
Menurut pihak manajemen, sebenarnya ada lebih banyak perguruan tinggi yang menyatakan minat untuk bergabung dan memberikan kontribusi. Kendati demikian, keterbatasan ruang dan area pameran membuat pihak pengelola harus membatasi jumlah mitra tahap awal.
Masa uji coba atau trial opening untuk umum resmi dimulai bertepatan dengan peresmian pada 16 September 2026.
Melalui pelibatan akademisi serta penyediaan ratusan alat peraga canggih, destinasi wisata edukasi ini diharapkan mampu menjadi rujukan utama wisata belajar yang menyenangkan. Pengunjung tidak hanya diajak untuk berekreasi, tetapi juga memahami ilmu pengetahuan secara langsung melalui praktik interaktif.
Pertanyaan Umum
Kapan Museum Mega Science Center dan Budaya mulai dibuka untuk umum?
Museum ini mulai melaksanakan masa uji coba atau trial opening pada 16 September 2026 bersamaan dengan rangkaian persemiannya di Jawa Timur Park 1 Kota Batu.
Apa saja daya tarik utama dari museum baru di JTP 1 ini?
Daya tarik utamanya meliputi 617 alat peraga sains interaktif yang dipadukan dengan unsur budaya, serta dikembangkan melalui kerja sama dengan tiga perguruan tinggi ternama.
Perguruan tinggi mana saja yang dilibatkan dalam proyek ini?
Jatim Park Group menggandeng Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Malang, dan BINUS University untuk memperkuat konten edukasi di dalam museum.
Ringkasan
Museum Mega Science Center dan Budaya di JTP 1 Kota Batu adalah destinasi wisata edukasi standar internasional yang resmi dibuka melalui masa uji coba pada 16 September 2026. Fasilitas baru dari Jatim Park Group ini menghadirkan 617 alat peraga sains interaktif yang dipadukan dengan unsur budaya serta dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan BINUS University.












