Redaksiku.com – Sebanyak 78 pelajar di Jayapura, Papua, diamankan oleh aparat kepolisian pada Selasa (15/9) karena diduga hendak mengikuti aksi unjuk rasa yang diinisiasi oleh Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP). Para pelajar ini terpantau berada di beberapa titik strategis, seperti kawasan Pos 7 Sentani dan BTN Matoa Sentani, saat jam pelajaran sekolah masih berlangsung.
Aksi unjuk rasa yang direncanakan para pelajar tersebut diketahui membawa narasi penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digulirkan pemerintah. Selain isu tersebut, mereka juga menyuarakan tuntutan terkait pendidikan gratis di wilayah Papua. Kepolisian bergerak cepat untuk memastikan para siswa ini tidak terjebak dalam situasi yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan.
Dalam operasi pengamanan yang berlangsung humanis tersebut, pihak kepolisian berhasil mengamankan 78 pelajar yang kedapatan membawa spanduk dan pamflet berisi materi unjuk rasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendekatan Persuasif Kepolisian
Kepala Kepolisian Resor Jayapura, AKBP Dionisius Vox Dei Paron Helan, membantah adanya tindakan represif dalam pengamanan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan dengan cara yang santun dan humanis guna menjaga psikologis para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah.
“Kami tidak melakukan penangkapan atau pemukulan. Kami amankan para pelajar secara baik-baik ke Polsek Sentani Kota. Kemudian, kami berikan minum dan kami hubungi guru-guru mereka untuk menjemput mereka di Polsek.”
— AKBP Dionisius Vox Dei Paron Helan
Setelah tiba di Mapolsek Sentani Kota, para pelajar didata sesuai dengan asal sekolah masing-masing. Petugas kepolisian kemudian memfasilitasi komunikasi dengan pihak sekolah dan orang tua agar para siswa dapat segera kembali ke lingkungan pendidikan. Langkah ini diambil bukan sebagai bentuk penghukuman, melainkan sebagai tindakan preventif agar masa depan pendidikan mereka tidak terganggu oleh aktivitas di luar sekolah.
Menjaga Fokus Pendidikan di Jayapura
Kepolisian menyoroti kekhawatiran adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan ketidaktahuan pelajar untuk agenda yang lebih besar. Menurut AKBP Vox Dei, peran orang tua dan guru sangat krusial dalam mengawasi anak-anak agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang kontraproduktif terhadap ketertiban umum.
Kepolisian Resor Jayapura menekankan bahwa prioritas utama dari pengamanan ini adalah memastikan hak pendidikan para pelajar tetap terpenuhi dan mereka tidak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu.
Proses pengamanan ini melibatkan jajaran pimpinan Polres Jayapura, di antaranya:
- Wakapolres Jayapura Kompol Suheriyono bersama Kabag Ops AKP Frengki Rumbiak memimpin koordinasi di lapangan.
- Kapolsek Sentani Kota AKP Bernadus Yunus Ick memastikan situasi di kantor polisi tetap kondusif selama proses pendataan.
- Satuan Samapta, Intelkam, dan Kasi Propam turut serta memastikan seluruh prosedur pengamanan berjalan sesuai dengan standar operasional yang berlaku.
Ke depan, pihak Polres Jayapura akan menjalin koordinasi lebih intensif dengan pihak sekolah. Langkah pembinaan akan dilakukan agar para pelajar dapat menyalurkan aspirasi melalui jalur yang tepat tanpa harus meninggalkan ruang kelas. Fokus utama kepolisian tetap pada menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Kabupaten Jayapura agar tetap kondusif bagi seluruh lapisan warga, termasuk pelajar.
Pihak sekolah dan orang tua diimbau untuk lebih proaktif memantau keberadaan siswa selama jam sekolah berlangsung guna mencegah keterlibatan mereka dalam aksi yang tidak terkoordinasi.
Pertanyaan Umum
Mengapa polisi mengamankan para pelajar tersebut?
Pengamanan dilakukan karena para pelajar tersebut berada di luar sekolah saat jam pelajaran berlangsung untuk mengikuti aksi unjuk rasa. Polisi khawatir mereka disusupi oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Bagaimana nasib para pelajar setelah dibawa ke Polsek?
Para pelajar tidak ditahan; mereka didata oleh petugas, diberikan konsumsi, dan pihak sekolah atau guru dihubungi untuk menjemput mereka agar bisa kembali ke lingkungan pendidikan dengan aman.
Apakah ada tindakan kekerasan saat pengamanan berlangsung?
Tidak ada. Kepolisian menegaskan bahwa proses pengamanan dilakukan secara humanis dan persuasif, tanpa ada penangkapan fisik atau kekerasan terhadap para pelajar tersebut.
Ringkasan
Sebanyak 78 pelajar di Jayapura diamankan kepolisian pada Selasa (15/9) karena kedapatan hendak mengikuti aksi unjuk rasa saat jam sekolah berlangsung. Polisi melakukan tindakan persuasif dengan mendata siswa dan mengembalikan mereka ke pihak sekolah untuk memastikan hak pendidikan tetap terjaga.






