Redaksiku.com – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akhirnya buka suara terkait operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Gubernur Riau, Abdul Wahid, yang diketahui merupakan kader partai tersebut.
Ketua Harian DPP PKB, Ais Syafiyah Asfar, menegaskan bahwa partainya menghormati sepenuhnya proses hukum yang tengah berjalan dan menyerahkan sepenuhnya kepada KPK untuk mengusut kasus ini secara profesional.
Sebagai anggota DPP PKB, tentu kami menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan, kata Ais saat dihubungi wartawan, Selasa (4/11/2025). Ia menambahkan, PKB memiliki komitmen kuat dalam mendukung pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, termasuk jika hal itu menyangkut kader sendiri.
PKB Tegaskan Komitmen Antikorupsi
Dalam pernyataannya, Ais menegaskan bahwa PKB sejak awal berdiri menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan tanggung jawab publik. Partai, katanya, tidak akan mencampuri proses hukum yang tengah dijalankan KPK terhadap Abdul Wahid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Prinsip PKB jelas: pemberantasan korupsi harus ditegakkan tanpa pandang bulu, tegas Ais.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar asas praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi selama proses hukum berlangsung. Kami percaya KPK bekerja secara profesional dan transparan. Biarlah hukum berjalan sebagaimana mestinya, ujarnya.
Lebih lanjut, Ais berharap kasus ini dapat menjadi refleksi bagi seluruh pejabat publik, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar terus memperkuat integritas dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah rakyat.
Peristiwa ini harus dijadikan pelajaran bersama untuk memperbaiki sistem dan perilaku agar tidak menyimpang dari nilai-nilai kejujuran, tambahnya.
Dorong Pemerintahan Bersih dan Transparan
Ais menegaskan, partainya akan tetap konsisten dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berpihak pada masyarakat.
PKB berdiri di atas semangat perubahan yang berorientasi pada kemaslahatan publik. Kami akan terus memperjuangkan pemerintahan yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa partai akan melakukan evaluasi internal untuk memastikan kader di berbagai tingkatan memahami etika dan aturan dalam menjalankan jabatan publik. Kami akan memperkuat pendidikan politik agar seluruh kader memahami tanggung jawab moral yang melekat pada posisi publik, kata Ais.
Gubernur Riau Abdul Wahid Terjaring OTT KPK
Sebelumnya, KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Abdul Wahid, Gubernur Riau dari PKB, bersama sembilan orang lainnya. Operasi tersebut dilakukan di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Riau, pada Senin (3/11/2025) malam.
Menurut keterangan sumber di KPK, operasi ini diduga berkaitan dengan pemberian dan penerimaan suap terkait proyek infrastruktur. Beberapa dokumen dan barang bukti diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Benar, tim KPK melakukan kegiatan tangkap tangan di wilayah Riau dan Jakarta. Ada sejumlah pejabat yang diamankan, termasuk kepala daerah, ujar sumber internal KPK.
Saat ini, KPK masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para pihak yang diamankan guna menentukan status hukum mereka. Jika ditemukan bukti kuat, KPK akan segera mengumumkan hasilnya secara resmi kepada publik melalui konferensi pers.

Profil Singkat Abdul Wahid: Gubernur yang Baru Delapan Bulan Menjabat
Abdul Wahid baru menjabat sebagai Gubernur Riau selama delapan bulan. Ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada 20 Februari 2025, bersama wakilnya SF Harianto.
Pasangan Abdul WahidSF Harianto memenangkan Pilkada Riau 2024 setelah mengalahkan dua pasangan lain, yakni SyamsuarMawardi Saleh dan NasirWardan.
Sebelum menjabat sebagai gubernur, Abdul Wahid dikenal sebagai politisi muda PKB yang aktif di parlemen daerah. Karier politiknya cukup cepat menanjak berkat kedekatannya dengan sejumlah tokoh pesantren dan basis dukungan kuat dari masyarakat pedesaan di Riau.
Gaya Kepemimpinan dan Kebijakan Populis
Sejak awal masa jabatannya, Abdul Wahid dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang populis. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk meninjau proyek infrastruktur, sekolah, dan area pertanian. Langkah tersebut membuatnya sempat mendapat apresiasi publik, terutama karena dianggap dekat dengan masyarakat akar rumput.
Salah satu kebijakan yang sempat menarik perhatian publik adalah kewajiban bagi kendaraan perusahaan yang beroperasi di Riau untuk menggunakan pelat nomor BMkode wilayah Riau.
Kebijakan itu lahir karena banyak kendaraan berat dari luar daerah yang beroperasi di Riau, namun membayar pajak kendaraan di provinsi lain. Kondisi tersebut, menurut Abdul Wahid, telah mengakibatkan kerusakan jalan parah di beberapa wilayah, sementara potensi pajak justru tidak masuk ke kas daerah.
Kita ingin keadilan fiskal. Kendaraan yang beroperasi di Riau harus berkontribusi bagi daerah ini, katanya dalam salah satu kesempatan. Ia menilai, kebijakan tersebut dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD) yang kemudian digunakan untuk memperbaiki infrastruktur jalan.
Respons Publik dan Reaksi Masyarakat
Kabar penangkapan Abdul Wahid sontak menggemparkan masyarakat Riau. Sebagian warga mengaku kecewa, mengingat sang gubernur baru saja menunjukkan komitmen dalam pembangunan daerah.
Namun, sebagian lain menilai langkah KPK patut diapresiasi sebagai bentuk penegakan hukum yang tegas terhadap siapa pun yang terlibat dalam praktik korupsi.
Kalau memang bersalah, harus diproses. Tapi kalau belum terbukti, jangan buru-buru menyalahkan. Kita tunggu hasil penyelidikan KPK, kata Fahri, warga Pekanbaru.
Pakar hukum dari Universitas Riau, Dr. Rini Hidayat, menilai bahwa kasus ini menjadi ujian serius bagi partai politik dalam menjaga integritas kader. Partai harus berani menegakkan disiplin internal dan tidak hanya berhenti di pernyataan publik, ujarnya.
PKB Dorong Transparansi dan Evaluasi Internal
Sebagai respons atas kasus ini, PKB menyatakan akan melakukan pendalaman internal terhadap seluruh kader yang menjabat di eksekutif maupun legislatif. Ais menekankan pentingnya transparansi dalam partai politik untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Ini saatnya partai politik memperkuat sistem pengawasan internal agar kasus serupa tidak terulang. Kami di PKB akan mengambil langkah konkret, katanya.
Ia juga menilai, peristiwa ini menjadi momentum refleksi politik bagi semua pihak. Korupsi tidak hanya merusak keuangan negara, tapi juga kepercayaan publik. Ketika kepercayaan itu hilang, demokrasi akan kehilangan maknanya, tutur Ais.
Penutup: Ujian Integritas bagi Kader dan Partai
Kasus OTT yang menjerat Gubernur Riau Abdul Wahid menjadi ujian serius bagi integritas kader PKB dan komitmen partai terhadap agenda pemberantasan korupsi.
Meski belum ada kepastian status hukum Abdul Wahid hingga kini, PKB menyatakan tidak akan mengintervensi proses hukum. Partai lebih memilih fokus memperkuat pendidikan politik dan memastikan agar semua pejabat publiknya bekerja sesuai prinsip transparansi.
Setiap pejabat publik harus belajar dari kasus ini. Amanah rakyat tidak boleh disalahgunakan. PKB tetap berkomitmen memperjuangkan pemerintahan bersih dan berintegritas, pungkas Ais.
Kini, publik menanti hasil penyelidikan resmi KPK. Apakah kasus ini hanya bagian dari praktik suap proyek atau memiliki dimensi politik yang lebih luaswaktu dan proses hukum yang akan menjawabnya.
Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






