Saat Ratih digotong ke kamar, seperti kataku tadi, pintu depan yang masih terkunci tiba-tiba terbuka. Angin dingin bertiup masuk ke rumah membekukan. Kami seperti beku. Beruntung akal sehat masih berfungsi, kami semua berzikir dan melantunkan ayat-ayat al-Quran tiba-tiba angin berbalik berembus kencang, menghantam dinding-dinding rumah dan pintu tertutup dengan keras.
Yang terakhir tadi sore saat Kangmas sama Mbakyu rawuh, pungkasnya.
Keheningan panjang menyelimuti ruang tamu. Mpek An Cong yang mendengarkan sejak awal, menutup matanya, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Barman. Setelah beberapa saat, dia membuka mata perlahan, mengembuskan napas dengan keras, lalu memandang kedua pria di hadapannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa yang dialami Ratih memang tidak masuk akal. Ini bukan serangan biasa, tapi serangan dari alam gaib. Dari yang aku lihat, serangan ini sangat kuat, kata Mpek An Cong dengan tenang, namun suaranya penuh kewaspadaan.
Ular hitam yang menyerang, angin dingin yang datang tiba-tiba, pintu terbuka sendiri dan tertutup dengan bantingan. Semua itu adalah tanda-tanda dari kekuatan jahat. Kekuatan ilmu gaib tingkat tinggi.
Rangga yang duduk di samping Barman, mendengarkan dengan tatapan kosong. Ia tak pernah menyangka putrinya akan menghadapi teror semengerikan ini. Wajahnya tampak suram, namun terlihat jelas kekhawatiran yang membakar hatinya.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi,” Rangga akhirnya bicara. Suaranya gemetar, tangan kanannya mengepal kuat. “Anakku tersiksa. Ini semua salah ¦ mmm ¦ salah kita, karena membiarkan semua ini terjadi.
Barman seperti tertampar. Andai saja dulu dia tidak meminta Ratih untuk menerima perjodohan, Ratih nggak akan mendapat siksaan lahir dan batin. Dia belum menyampaikan perihal istrinya yang telah menyiksa Ratih di luar kendali. Andai saja mereka menerima perempuan pilihan Toni, ini semua tidak terjadi. Pikirannya penuh dengan andai-andai yang lain. Mpek An Cong, yang sudah berpengalaman dalam menghadapi dunia gaib, menatap keduanya dengan pandangan tenang namun serius.
Ini bukan hanya perkara dunia manusia, Nak Rangga, Barman. Serangan seperti ini tidak akan berhenti sampai kita membasmi akar dari semua masalahnya.
Rangga menggigit bibirnya, merasa tak berdaya. Apa yang harus kita lakukan, Mpek? Kedua anakku menderita ¦.
Mpek An Cong mengangguk perlahan. Aku sudah memagari rumah ini, tapi aku juga harus segera memagari rumahmu, Nak Rangga. Serangan ini tampaknya belum akan berhenti, terutama karena kekuatan di baliknya sangat besar. Ini bukan hanya soal teror biasa, ada niat jahat yang jelas mengincar Ratih.
Bukankah dukun yang dibayar Erlika sudah Mpek kalahkan? kata Rangga.
Di dunia hitam, kekalahan memantik api dendam. Bisa jadi dukun itu dendam padaku. Jadi bukan hanya Ratih tapi juga Toni dan keluarganya juga terancam!
Barman dan Rangga berjengit merinding dan ketakutan. Keduanya mendengarkan dengan saksama sambil menatap Mpek An Cong. Mpek yakin ini semua ulah Erlika?
Mpek An Cong mengangguk tegas. Bisa jadi ulah dukunnya secara individu, untuk membalas kekalahan dariku. Dukun itu tau persis target kesaktiannya. Sedang Erlika juga tidak akan berhenti di sini. Dia tidak bisa menerima kegagalan untuk menguasai Toni, saat pertama kali berhadapan denganku. Dan sekarang, dia pasti sedang mencari bantuan kekuatan yang lebih besar. Dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






