Mereka duduk di ruang makan, sambil berbincang, menyantap bakmi godog buatan Isah. Saking enak dan laparnya, Toni dan Mpek An Cong sampai minta tambah. Semuanya lega, akhirnya semua kegaduhan, kehawatiran yang mencengkam kini berakhir.
Namun, belum lama kelegaan yang mereka rasakan, di tengah perbincangan, terdengar deru angin kencang menderu-deru. Mpek An Cong segera berlari ke ruang tamu. Barman dan Rangga menyusul. Sebelum pergi, Barman melarang Toni ikut. Toni yang sudah berdiri, kembali duduk.
Di luar rumah, angin malam berembus kencang, menyapu halaman. Menerpa dinding pembatas berbalik berputar lalu pergi. Susul menyusul tiada henti. Tanaman pot kecil dan anggrek porak poranda. Sekuriti terbengong di gardunya, dengan tubuh gemetar melihat halaman rumah lalu beralih ke jalanan. Di jalanan tidak ada pohon bahkan selembar daun pun yang bergoyang ditiup angin. Para pejalan kaki tidak mendengar deru angin kencang di halaman rumah itu. Mereka berjalan tenang seperti biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nono segera menutup rolling door, lalu menutup pintu masuk di sampingnya. Dia tidak melihat situasi jalan raya di depan rumah, yang dia tahu rumah itu sedang diserang kekuatan jahat. Mbok Isah menyeret Nono untuk segera salat sunnah dua rokaat dilanjutkan zikir dan tadarus.
Nyong ora teyeng tadarus, Yu, bisiknya.
Ya uwis, zikir sebisane! Maca ayat kursi apal, mbok? perintahnya tegas, dijawab Nono dengan anggukan.
Mpek An Cong berdiri di ambang pintu, pandangannya tajam mengarah ke kejauhan. Dia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang masih mengintai dalam bayang-bayang gelap. Pertarungan ini baru saja dimulai. Keluarga Sumbogo dan Danusaputra sama sekali tidak menyangka seberapa dalam dendam kesumat Erlika pada kegagalannya kali ini.
Niat awal Erlika dibantu keluarganya, hanya untuk menjerat dan menguasai Toni. Usahanya berhasil membuat Toni meninggalkan istrinya dan membawanya menikah siri. Tapi keserakahan Erlika dan keluarganya, telah membawanya menemui dukun sakti perempuan dari pesisir utara. Ternyata hasilnya kegagalan.
Sedikit banyak Erlika sudah mempelajari mantra-mantra waktu itu, tapi justru sekarang makin menghitamkan hatinya, membutakan nuraninya. Erlika dan keluarganya mulai kasak-kusuk mencari dukun yang lebih sakti dari Nyai Bang Lor.
Mpek An Cong yang berdiri di ambang pintu, mengerahkan akal budinya, merasakan kehadiran sesuatu yang masih mengintai dalam bayang-bayang gelap. Pertarungan dengan entah siapa lagi, baru saja dimulai.
Malam itu, rumah Barman terasa lebih sunyi dari biasanya. Aura kecemasan dan ketegangan yang mencekam tak hendak menyingkir. Barman duduk di ruang tamu bersama Mpek An Cong dan Rangga, ayah Ratih. Sementara Ninit, istrinya, bersama Arum, ibunda Ratih, menemani Ratih di kamar. Ratih tertidur setelah mendapat gangguan menakutkan. Arum, berusaha tenang meski di hatinya tertekan berat. Berdua Ninit sahabatnya, sedang tadarus al-Quran.
Toni beristirahat di ruang tidur utama. Saat Toni terlelap karena rasa lelah lahir dan batin, tiba-tiba dia terbangun oleh suara-suara di telinganya. Dia membuka mata, tubuhnya gemetar, matanya melebar. Di sudut kamar, sebuah bayangan gelap melintas cepat, hanya terlihat sekilas. Seketika, udara kamar menjadi dingin membeku, bulu-bulu halus lengan dan kuduk meremang. Debaran jantung Toni meningkat, keringat dingin mulai mengembun. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Toni mendengar bisikan pelan yang sangat familiar.
Aku akan kembali untukmu, Toni ¦ Aku akan kembali! Tunggulah, aku pasti kembali!
Suaranya menusuk dan menggaung di telinga. Toni terdiam, menahan napas, merasakan jantungnya berdetak cepat. Dia menyadari … ini belum berakhir.
Malam makin larut, ketika Barman duduk dengan gelisah di ruang tamu rumahnya. Dia merasakan gangguan belum berakhir dan makin menajam. Di sebelahnya, Rangga, ayah Ratih, terlihat tidak tenang. Dia memandang kosong ke arah meja di depannya. Mpek An Cong duduk bersila di lantai dekat pintu, dengan tenang namun penuh kewaspadaan, memandangi kedua pria itu. Rangga memecah kesunyian.
Mas Barman, aku tidak habis pikir ¦ Anakku diserang ular hitam, pintu rumah terbuka sendiri, dan angin dingin menerpa tanpa tau asalnya. Seakan-akan rumah ini dikepung makhluk halus. Bagaimana ini bisa terjadi? Rangga bicara dengan suara bergetar, tangannya mengepal di atas pahanya.
Barman menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara. Aku sendiri tidak tahu, Mas. Tapi ini sudah lebih dari sekadar gangguan biasa. Sejak kembali dari Turki, Ratih banyak mengalami mimpi buruk. Hingga kemaren ada kejadian yang paling tidak masuk akal, saat dia melihat kran air dan shower di kamar mandi mengalir darah.
Rangga menatap Barman dengan mata terbelalak, tak percaya apa yang didengarnya. Dan¦ setelah itu? tanya Rangga minta penjelasan.
Saat kami sarapan, Ratih melihat teh di cangkirnya berubah menjadi cairan keruh yang bau, membuatnya mual dan muntah, jelas Barman.
Barman melanjutkan, kemudian piringnya dipenuhi cacing dan belatung. Ratih ketakutan sampai pingsan.
Rangga terkejut bukan main, matanya membelalak, mulut menganga tak bisa bicara. Lidah terasa kelu. Seketika Rangga membekap mulutnya. Barman melanjutkan bicaranya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






