Aku harus segera memberitahu Mpek Cong! desis Barman tegas.
Namun, sebelum Barman sempat menghubungi Mpek An Cong, tiba-tiba pintu rumah berderit terbuka. Sah! Pintu depan dah kamu buka kuncinya? kata Barman dengan nada tinggi. Rombongan yang membawa Ratih baru sampai di ujung tangga sontak berhenti.
Belum Ndoro! jawab Mbok Isah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagaimana pintu itu bisa terbuka? Barman membatin. Di dalam pikirannya berkecamuk segala macam kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dia sudah mantap untuk menghubungi Mpek An Cong. Ini sudah bukan main-main. Nyawa taruhannya! gumamnya lirih dalam hati.
Mereka merasakan angin dingin yang membekukan menyusup masuk, menggoyangkan tirai jendela dan lampu-lampu di dalam rumah. Suasana berubah menjadi tegang, seolah-olah ada bayangan gelap yang melayang-layang di sekitar mereka.
Isah dan Ndoro Putrinya segera berselawat tiga kali lalu membaca ayat kursi keras-keras bersahutan, disambung Al Fatihah tujuh kali dilanjutkan qulhu, falaq dan annas. Begitu juga pak Min dan Nono. Barman melafalkan dalam bisikan. Tiba-tiba dari arah berlawanan bertiup angin kencang sampai tirai tersibak, dan lampu kristal bergoyang keras seperti ada gempa besar. Disusul bunyi bantingan pintu depan.
Ratih tersadar oleh suara bantingan pintu. Dia membuka mata, menajamkan penglihatan, lalu bergumam lemah, aku di mana?
Ratih, kau sudah sadar? tanya Ninit senang.
Ratih diturunkan, masih dipegangi oleh kedua sopir. Ratih sedikit limbung. Ninit segera mengambil alih menantunya, memeluknya erat-erat. Berdua Isah, keduanya memapah Ratih ke kamar. Pak Min dan Nono kembali ke garasi.
No, pak Min, tolong banyak berzikir, ya? Saya mohon kalau bisa, baca Quran di rumah ini. Mobil juga harus ada Quran dan tasbih. Saat ini sedang ada yang mengganggu keluarga saya. No, kasih tau sekuriti juga!
Siap, Pak, jawab keduanya bersamaan.
Oh, iya jangan katakan kepada yang lain. Ini sangat bahaya! Katakan pada sekuriti, pastikan kepentingan dan siapanya sebelum menjawab pertanyaan.
Baik. Keduanya membungkuk hormat, kemudian berlalu untuk melanjutkan tugasnya mengurus mobil yang dipercayakan kepada mereka.
Sementara itu, di tempat lain, Toni masih berada di bawah pengaruh sihir dukun wanita suruhan Erlika. Mpek An Cong terus berusaha menarik kesadaran Toni kembali. Namun, jalan menuju keberadaan Toni penuh dengan halangan dan rintangan. Setiap kali Mpek mendekat, ada bayangan gelap yang mencoba menahan dan melawan kekuatan batinnya.
Di kamar tamu vila, Erlika dengan senyum mengejek masih memandang permukaan air di dalam baskom. Dia tahu persis Mpek An Cong sedang berusaha mencari Toni untuk memutus kendali sihir atas Toni. Erlika tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.
Toni sendiri mulai merasakan pergulatan batin yang hebat. Sebagian dari dirinya ingin pulang, ingin melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Namun, kekuatan itu begitu kuat, menguasai pikirannya, membuatnya merasa lemah dan tak berdaya. Setiap kali dia mencoba melawan, bayangan Erlika muncul, mengganggu pikirannya dan memanggilnya kembali ke dalam kegelapan
“Jangan pergi, Toni … Kau milikku, selamanya ¦,” bisik manja Erlika dalam benaknya. Dia terbayang manisnya hidup bersama Erlika. Akal sehatnya terhenti.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






