Mah, tanya Ratih mau sarapan di mana!
Tadi masih tidur, aku ndak tego nggugah.
Di kamar tidurnya, Ratih sedang berusaha bangkit dari tempat tidur. Dengan terhuyung-huyung melangkah menuju kamar mandi. Saat memutar kran wastafel untuk mencuci wajahnya, sebuah pemandangan yang tak masuk akal muncul di hadapannya. Bukan air yang keluar dari kran itu, melainkan darah merah pekat mengalir deras. Ratih terkejut, mundur dengan cepat dan hampir terjatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini tidak mungkin!” teriaknya panik, memegangi kepalanya yang berdenyut. Dia melihat ke cermin, matanya terbelalak ketakutan. Wajahnya tampak memudar, seolah-olah kehidupannya tersedot oleh sesuatu yang tak terlihat. Shower di sebelahnya juga mulai meneteskan cairan merah, dengan suara monoton menakutkan, seperti darah yang mengucur dari luka besar.
Ratih menjerit, suaranya menggema di seluruh rumah. “Tolong! Tolong!” teriaknya histeris.
Di ruang makan, kedua mertuanya mendengar teriakan putus asa yang memecah keheningan pagi, segera tersadar dari keterkejutannya. Keduanya, diikuti Isah bergegas menuju kamar Ratih.
Ninit mendahului yang lain, mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. “Ratih! Apa yang terjadi? Buka pintunya, Sayang!”
Namun, Ratih tidak mampu menjawab. Tubuhnya lemas, terkulai duduk di lantai. Air kran wastafel mengucur deras, lubang pembuangan masih tertutup. Air melimpah membasahi lantai. Membanjir menuju ke saluran pembuangan air di bawah shower. Baju Ratih basah kuyup.
Barman, dibantu Nono, dan pak Min, berhasil mendobrak pintu kamar mandi. Air mengalir jernih, dan tidak ada setetes air pun keluar dari kepala shower. Ratih segera dievakuasi ke tempat tidur. Isah masuk membawa baskom berisi air hangat dan waslap. Semua keluar kamar kecuali Ninit yang sedang menyiapkan baju ganti.
Isah mencopot baju tidur Ratih yang basah oleh keringat dan air wastafel. Ratih gemetar kedinginan. Dengan cepat Isah menyeka badan Ratih lalu mengeringkan dengan handuk. Ninit memakaikan baju ganti. Sprei basah diganti baru. Isah membawa baskom, sprei, dan baju basah ke belakang.
Sayang, ada apa di kamar mandi? Apakah ada kecoa? Ratih menggeleng.
Mah, Ratih takut. Tadi ¦ tadi, dari kran wastafel mengalir darah. Kepala Shower juga keluar darah segar menetes-netes. Ratih takut, Mah, katanya dengan tubuh gemetar.
Ninit memeluknya erat, sambil menenangkan. Setelah Ratih tenang, pelukan diurai. Sayang, mau sarapan di kamar atau mau turun?
Turun aja, Mah. Ratih takut di sini sendirian.
Digandeng mertuanya, Ratih turun menuju meja makan. Barman memandang prihatin. Isah datang dari dapur membawa secangkir teh manis hangat. Ratih menerima dengan mengucapkan terima kasih. Cangkir diangkat ke wajahnya berniat untuk minum, tapi isi cangkir berubah menjadi cairan hitam kotor dan berbau busuk.
Ratih terkesima ketakutan, sontak membuang cangkir dan tatakannya. Isi cangkir yang menjijikkan itu tumpah ke lantai, membuatnya merasa mual. Semua panik.
Ada apa, Sayang? tanya Ninit yang urung duduk segera mendekat. Ratih mulai muntah, tapi tak ada yang keluar dari perutnya. Isah segera membersihkan beling dan mengeringkan lantai. Dibantu mertua perempuannya Ratih duduk untuk sarapan.
Ternyata, tak cukup sampai di situ. Saat dia melihat ke piring sarapan yang ada di depannya, dia tertegun. Makanan di piring itu, yang seharusnya berupa roti sandwich isi daging dan keju, serta irisan apel malang, telah berubah menjadi gumpalan cacing yang menggeliat-geliat hidup di sela-sela roti. Sedang potongan apel tertutup belatung yang melenting-lenting memenuhi piring.
Ratih berteriak histeris, tubuhnya lemas dan akhirnya terguling ke lantai. Beruntung Barman bisa menangkap tangannya hingga Ratih tidak jadi terguling. Ratih sudah tak sadarkan diri. Matanya terpejam, wajahnya pucat pasi seperti mayat.
“Ratih! Ya Allah, apa yang terjadi?” teriak Ninit bangkit terburu-buru berlari mendekat, lalu memeluk tubuh menantunya yang pingsan. Sementara Mbok Isah menangis panik, memanggil kedua supir.
Oalah, Den, ada apa to ini? Kenapa ada kejadian begini? Apa yang den Ratih lihat sebenarnya?
Ndoro, sebaiknya keluarga ndoro Rangga dipun aturi pirso biar ndak ditutuh kalau terjadi sesuatu, kata Isah sambil memandang ndoro kakungnya.
Barman hanya manggut-manggut bingung, perasaannya campur aduk. Dia berpikir keras bagaimana menyampaikan permasalahan ini. Di samping bekas penganiayaan istrinya masih sangat jelas, penglihatan Ratih juga tidak masuk akal. Masih ditambah lagi, keberadaan Toni yang entah di mana. Namun kalau sampai ada apa-apa dengan Ratih, mereka pasti menyalahkannya.
Ratih digotong ke kamarnya oleh pak Min, sopir khusus melayani Ratih, dibantu Nono, sopir Barman. Barman sendiri terpaku diam di kursinya menghadapi piring sarapan yang baru separuh dimakan. Dia masih belum mengerti bagaimana Toni bisa terjerat wanita itu. Meski cantik, seharusnya Toni tahu siapa dia. Lucunya sudah berkali-kali wanita itu berbuat jahat, Toni masih memaafkannya.
Barman masih diam mematung, tak mampu berkata apa-apa. Matanya mengikuti Ratih yang digotong naik ke kamarnya, diikuti istri dan pembantunya. Kejadian di kamar mandi dan yang barusan, menambah kecemasan yang sudah menggelayuti hatinya sejak semalam. Dia merasa bahwa ini semua lebih dari sekadar teror biasa. Ada kekuatan jahat yang berusaha menghancurkan mereka.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






