Redaksiku.com – Keberadaan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Negara, Nusron Wahid, kini tengah menjadi sorotan tajam menyusul operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Bogor. Sejak pengungkapan kasus suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon tersebut, sang menteri belum pernah lagi menampakkan diri di ruang publik.
Hingga Jumat, 18 September 2026, Nusron Wahid dilaporkan mangkir dari kantornya serta melewatkan dua agenda penting rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Publik dan penegak hukum kini menanti kejelasan langkah politik serta hukum dari politisi senior Partai Golkar tersebut di tengah pengembangan kasus yang terus bergulir.
Respons Partai Golkar Menghadapi Kasus Hukum Kader
Situasi pelik ini praktis memicu reaksi keras dari jajaran pimpinan pusat Partai Golkar. Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia secara terbuka menyatakan rasa malu sekaligus keterpukauan partainya atas skandal rasuah yang mencatut nama petinggi partai berlambang pohon beringin itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Partai Golkar menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada lembaga antirasuah dan meminta para kadernya untuk kooperatif.
Kritik senada juga dilontarkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung. Ia mendesak agar sahabatnya segera menghentikan sikap menutup diri dan segera memberikan keterangan yang transparan kepada masyarakat luas.
“Sudahlah, kalau memang saudara Nusron merasa tidak terlibat, tidak melakukan apa-apa, tidak terkait apa pun dengan orang-orang yang disebutkan itu, klarifikasi saja.”
— Ahmad Doli Kurnia Tandjung
Jaringan Orang Kepercayaan dalam Kasus Suap HGB
Penyelidikan KPK mengarah pada dugaan keterlibatan lingkaran dekat menteri yang bertindak sebagai perantara negosiasi proyek pertanahan. Empat orang kepercayaan yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka memiliki latar belakang dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan partai politik.
- Politisi Golkar sekaligus orang kepercayaan menteri, Fadh El Fouz.
- Kader Nahdlatul Ulama yang juga orang kepercayaan menteri, Arif Sugianto.
- Pihak swasta yang bertindak sebagai perantara, Muhammad Fakhry.
- Pihak swasta lainnya yang turut menjadi orang kepercayaan, Erwin.
Peran para perantara ini dinilai sangat vital dalam mengatur aliran dana suap dari korporasi properti kepada pihak-pihak pengambil kebijakan di kementerian. Skala aliran dana yang ditemukan penyidik pun mencatatkan angka yang luar biasa besar dalam catatan penegakan hukum.
Tim penyidik KPK berhasil menyita barang bukti uang tunai senilai Rp106,3 miliar yang disimpan di dalam puluhan koper di kediaman salah satu tersangka.

Arif Sugianto atau yang dikenal sebagai Gus Arif, mantan Wakil Bupati Kebumen, turut mendekam di tahanan KPK setelah kediamannya digeledah aparat.
Keterlibatan Pejabat Kementerian dan Korporasi Swasta
Selain orang-orang dekat menteri, lingkaran hitam korupsi pertanahan ini juga menyeret sejumlah pejabat birokrasi karier di lingkungan Kementerian ATR/BPN serta petinggi perusahaan pengembang swasta besar di Indonesia.
- Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN, Lampri.
- Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, Sontang Coin Manurung.
- Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitoyo Adhi.
- Petinggi PT Summarecon lainnya, Rizal Pahlefi.
Pemeriksaan intensif secara marathon masih terus dilakukan oleh penyidik KPK untuk mendalami dokumen-dokumen perizinan serta aliran dana lanjutan. Keterangan dari kedelapan tersangka yang sudah ditahan diyakini menjadi kunci utama untuk membuka tabir kegelapan birokrasi pertanahan nasional.
Pertanyaan Umum
Mengapa Menteri Nusron Wahid belum diperiksa oleh KPK?
KPK saat ini masih fokus melakukan pengembangan penyidikan dan pemeriksaan terhadap delapan tersangka yang telah terjaring dalam operasi tangkap tangan serta penahanan sebelumnya.
Berapa total nilai uang suap yang diamankan oleh penyidik KPK?
Penyidik berhasil menyita barang bukti uang tunai mencapai Rp106,3 miliar yang ditemukan tersimpan di dalam puluhan koper di rumah salah satu tersangka kepercayaan menteri.
Siapa saja pejabat Kementerian ATR yang sudah ditahan?
Pejabat tinggi kementerian yang telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan meliputi Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Lampri serta Kepala Kantah Kabupaten Bogor Sontang Coin Manurung.
Ringkasan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Negara, Nusron Wahid, belum menampakkan diri di ruang publik dan mangkir dari kantor serta agenda DPR sejak Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terkait kasus suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon di Bogor hingga Jumat, 18 September 2026. Keberadaannya yang misterius ini memicu sorotan tajam di tengah pengembangan kasus rasuah yang menyeret lingkaran dekatnya.
Dalam penyidikan kasus ini, KPK telah menetapkan delapan tersangka, termasuk Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Lampri, Kepala Kantah Kabupaten Bogor Sontang Coin Manurung, petinggi PT Summarecon Agung Tbk, serta sejumlah orang kepercayaan menteri seperti Fadh El Fouz dan Arif Sugianto. Tim penyidik juga berhasil menyita barang bukti uang tunai senilai Rp106,3 miliar yang disimpan dalam puluhan koper.
Menanggapi skandal ini, pimpinan Partai Golkar seperti Bahlil Lahadalia dan Ahmad Doli Kurnia Tandjung menyatakan rasa malu serta mendesak agar Nusron Wahid segera menghentikan sikap menutup diri dan memberikan klarifikasi secara transparan kepada publik, sementara partai menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada lembaga antirasuah.






