Mir, kita makan di luar, yuk? Suara Pras membuatku memandangnya.
Yuk, kamu bawa mobil, kan? sahutku datar.
Pras mengangguk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku bergegas mengambil tas dan mengunci pintu.
˜Biarlah, toh aku hanya pergi untuk makan siang, tidak lebih. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.™ Aku berkata dalam hati.
Kami memilih sebuah rumah makan khas Indonesia dengan beragam menu dari berbagai daerah di tanah air. Rumah makan dengan nuansa Sunda di timur kota Jakarta. Setelah memesan makanan, kami lanjut berbincang masalah rumah tangga.
Gimana kabar suamimu, Mir? tanya Pras sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
Lagi sibuk kerja. Mas Bayu belum menghubungiku, jadi aku juga nggak nelepon, takut ganggu. Ia bilang, kalau aku udah siap untuk bicara, datang aja ke Depok.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh dengan pengunjung. Para pelayan hilir mudik mengambil pensanan dan membawa hidangan ke meja-meja. Restoran ini cukup luas dengan kursi kayu yang disusun seperti di warung. Walau sederhana, tetap tampak bersih dan terawat. Di tengah ruangan ada meja besar berisi bermacam hidangan yang siap disajikan. Pengunjung bisa memesan atau langsung mengambil di meja prasmanan.
Sebaiknya kamu selesaikan masalahmu sama Bayu, Mir. Ia suami yang baik. Bertengkar dan kecewa itu justru bisa menjadi pelajaran untuk saling mengerti.
Aku memandang Pras dengan kening berkerut. Untuk apa ia memintaku supaya berdamai dengan Mas Bayu? Bukankah ia mencintaiku? Harusnya ia senang aku akan berpisah dengan suamiku, sehingga ia bisa mendekatiku.
Kamu mau aku dan Mas Bayu baikan?
Iya, jawabnya singkat.
Kenapa? Bukannya kamu ingin kita bersama? tanyaku lirih.
Pras membisu. Ia sibuk memainkan ponsel di tangannya.
Maaf, Mir. Sejak kejadian Bayu memergoki kita pergi berdua, aku merasa bersalah. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tanggamu. Aku bisa merasakan hancurnya perasaan Bayu saat itu. Mata Pras menerawang.
Aku terperangah, tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.
Maksud kamu?
Aku sengaja ketemu kamu hari ini untuk pamitan. Aku dapat tawaran kerja di luar negeri. Mungkin ini jawaban atas doa-doaku supaya Allah menjauhkan kita dari perbuatan dosa. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dari Bayu. Aku nggak berhak ngerebut kamu, bisiknya.
Aku menahan air mata yang akan menetes. Kenapa jadi begini?
Kamu sayang sama aku, kan Pras? tanyaku bergetar.
Pras mengangguk.
Aku udah mikirin semuanya, Mir. Makanya aku lama nggak nelepon kamu. Aku ingin menguji perasaanku, ternyata aku belum juga bisa melupakan Safira. Maafkan aku, ujar Pras sambil memandangku lekat.
Hatiku seperti terbakar. Jadi apa artinya selama ini ia mendekatiku? Memberikan perhatian padaku? Selalu hadir saat aku membutuhkannya? Apakah ia hanya ingin mempermainkanku, mengulang cinta lama? Aku ingin bertanya, tapi harga diriku melarangnya. Kalau Pras sudah memutuskan untuk pergi, aku pun harus bisa melupakannya.
Selama ini rasa sayangku padamu tidak seperti dulu, aku sayang sebagai sahabat. Aku hanya ingin menghibur saat kamu sedih. Maafkan, aku baru menyadarinya ketika melihat Bayu begitu marah, imbuhnya sambil memandangku, seperti bisa membaca pikiranku.
Kami makan dalam diam. Aku kehilangan selera makan. Hatiku terlanjur sakit. Aku benci lelaki di depanku ini, tapi aku tidak mau meneteskan air mata sia-sia untuk orang seperti Pras. Apalagi setelah mendengarkan ceritanya mengenai uang. Meski sakit, tapi aku percaya ini jalan terbaik yang Allah pilihkan.
Kamu mau kerja di mana? tanyaku tenang setelah berhasil menguasai diri.
Di Jerman.
Selesai makan siang, kami bergegas pulang. Aku sengaja tidak mau membayar makanan hari itu karena setiap kali pergi bersama, Pras tidak pernah mau mengeluarkan uang. Selalu aku yang membayar. Oleh sebab itu, siang ini aku pura-pura tidak tahu dan bergegas ke luar dari restoran. Kulihat Pras berjalan ke kasir sambil melirikku.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






