Marisa tersenyum dan mengangguk. Meskipun Marisa sudah berusaha menyadarkanku, tapi aku masih menolak untuk mengikuti kata-katanya. Aku masih ingin bersama Pras. Aku juga tidak mengatakan pada sahabatku ini bahwa saat ini Mas Bayu ada di Jakarta. Aku tidak mau Marisa semakin memojokkanku.
Beberapa hari setelah pergi dengan Marisa, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Pagi ini, aku masih bermalas-malasan di tempat tidur. Tubuhku terasa kurang sehat, mungkin karena terlalu banyak pikiran. Aku menarik kembali selimut untuk menghilangkan rasa dingin. Ibu masih di rumah Tante Yeni dan si kembar pasti sudah berangkat kerja. Sebulan sudah Mas Bayu di rumah Depok dan hanya beberapa kali saja ia menghubungiku. Aku tidak menyalahkannya. Memang ini keinginan kami berdua, agar bisa berpikir dengan tenang.
Setelah peristiwa Mas Bayu memergoki aku dan Pras pergi bersama, hubunganku dengan Pras menjadi agak renggang. Meskipun kami tidak pernah lagi jalan berdua karena Pras selalu sibuk, ia masih rajin mengirim pesan dan menelepon untuk menanyakan kabarku. Namun, seiring berjalannya waktu, Pras makin jarang mengirim pesan, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Kalau dulu tiap hari ia bisa mengirimkan dua sampai tiga pesan dan dibarengi dengan ngobrol di telepon, lama-kelamaan hanya tinggal pesan di pagi hari. Ia juga sudah jarang menghubungiku. Setiap aku tanya, jawabannya selalu sibuk bekerja dan menemani ibunya yang sudah tua. Ia seperti menghindariku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terus terang, ada rasa hampa yang hadir di hatiku. Kekosongan yang menyakitkan. Aku kehilangan teman bicara dan tempat bertukar pikiran. Ada apa denganmu, Pras? Mungkinkah Pras merasa sangat bersalah karena pergi berdua denganku? Apakah ia sakit? Apakah ia mulai belajar untuk melupakanku? Astaghfirullah. Aku mengucap istighfar berkali-kali. Pras bukan siapa-siapa, untuk apa aku memikirkannya? Mungkinkah ini cara Allah untuk menyelamatkanku dari perbuatan dosa yang semakin dalam?
Tiba-tiba ponselku bergetar, tanda ada notifikasi pesan masuk. Saat membukanya, aku tertegun membaca nama si pengirim. Prasetya! Lelaki yang sedang kupikirkan, mengatakan kalau akan berkunjung ke rumah. Aku mendadak gemetar. Membayangkan kehadiran Pras, membuat dadaku berdesir. Namun, aku juga takut karena di rumah tidak ada orang. Aku khawatir menjadi lupa diri nantinya. Sambil berjalan mondar-mandir aku terus berpikir, apa yang harus kulakukan.
Sejujurnya, rasa rindu pada Pras begitu besar. Beberapa minggu tidak bertemu membuat akal sehatku seolah menghilang. Aku ingin sekali bertemu, tapi kesadaranku masih bekerja dengan baik. Akan tetapi pada akhirnya, perasaan rindulah yang menang dan kuputuskan untuk menerima Pras. Untuk menghilangkan rasa berdosa, aku berdalih bahwa kami hanya akan berbincang-bincang sebentar.
Sambil menunggu Pras, aku segera mandi dan berdandan supaya tidak terlihat pucat. Kupilih gamis ungu muda dengan jilbab warna gradasi. Rasa gelisah menyergap, seolah menanti pujaan hati. Hati kecilku mengingatkan lagi kalau perbuatanku salah, tapi kembali akal sehatku kalah oleh emosi dan cinta yang menguasai hati. Saat ini yang ingin kurasakan hanya bahagia. Hatiku seolah tertutup, sehingga tidak mendengar nasihat Ibu dan Marisa. Semua kuanggap angin lalu.
Satu jam kemudian Pras tiba di rumah. Rinduku begitu membuncah. Pesona seorang Prasetya benar-benar membuatku lupa diri. Kami lalu berbincang hangat sambil sesekali saling menatap. Aku lupa akan sakitku. Tubuhku mendadak sembuh dan sehat seperti biasa. Begitu kuat pengaruh cinta pada seorang perempuan. Aku juga melupakan sejenak persoalan rumah tanggaku.
Pras banyak bercerita soal Safira dan bagaimana ia akhirnya bisa mencintai gadis pilihan ibunya itu.
Aku akhirnya belajar untuk mencintai Safira, Mir. Ia perempuan yang salihah, penurut dan tidak pernah membantah apa kata suami. Safira juga pintar memasak dan mengurus rumah. Ia juga tidak pernah protes soal uang. Aku memang tidak pernah memberikan gajiku padanya. Aku hanya memberikan jatah untuk hidup sebulan, selebihnya tetap aku pegang. Aku tidak mau ia boros menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu.
Aku tertegun. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak nyaman karena teringat Mas Bayu yang selalu memberikan seluruh gajinya untuk aku kelola. Aku memberikan seperlunya untuk suamiku.
Kok, gaji kamu yang pegang, Pras? Kasihan istrimu kalau tiba-tiba dia butuh uang. Jatah yang kamu kasih kan untuk masak, untuk Safira sendiri kamu kasih nggak? tanyaku kurang senang. Safira nggak protes?
Lho, Safira nggak pernah minta macam-macam, kok. Semuanya kan udah aku sediakan di rumah. Kalau mau jalan-jalan ya sama aku, jadi untuk apa lagi ia pegang uang?
Lidahku kelu. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku jadi Safira serta kehidupan yang ia jalani. Tanpa sadar, aku jadi membandingkan Pras dan Mas Bayu. Walaupun suamiku itu tidak seromantis Pras, ia tidak pernah perhitungan dengan uang. Aku bebas belanja apa yang aku suka, bahkan Mas Bayu sesekali juga membelikan hadiah kejutan untukku. Terakhir saat ulang tahun pernikahan, ia membelikanku sebuah jam tangan mewah yang mahal harganya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






