Presiden FIFA dilaporkan ke IOC setelah Gianni Infantino menghadapi pengaduan resmi atas dugaan pelanggaran aturan netralitas politik.
Gianni Infantino merupakan Presiden FIFA yang memimpin federasi sepak bola dunia sejak 2016 dan juga menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) sejak 2020.
Selama menjabat, Infantino berperan dalam berbagai kebijakan penting FIFA, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia dan pengawasan kompetisi internasional.
Kini, namanya menjadi sorotan setelah organisasi hak asasi manusia FairSquare mengajukan laporan resmi kepada IOC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Laporan tersebut turut menyinggung dugaan keterkaitan komunikasi antara Infantino dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam salah satu keputusan disipliner FIFA.
Presiden FIFA Dilaporkan ke IOC Karena Ini

Presiden FIFA dilaporkan ke IOC melalui pengaduan yang diajukan FairSquare. Organisasi tersebut menilai Gianni Infantino diduga melanggar ketentuan mengenai netralitas politik yang tercantum dalam Piagam Olimpiade dan kode etik IOC.
Sebagai anggota IOC, Infantino diwajibkan menjalankan tugas secara independen tanpa dipengaruhi kepentingan politik. FairSquare mengklaim terdapat sejumlah tindakan yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip tersebut.
Dalam laporannya, FairSquare menyebut terdapat lima dugaan pelanggaran yang dianggap jelas terhadap aturan netralitas politik IOC. Selain itu, organisasi tersebut juga mengaku memiliki bukti awal mengenai dua dugaan pelanggaran serius lainnya.
Kasus yang paling disorot berkaitan dengan penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun. Pemain tersebut sebelumnya dijatuhi hukuman larangan bermain satu pertandingan dalam ajang Piala Dunia.
Namun, Komite Disipliner FIFA kemudian memutuskan menangguhkan hukuman tersebut sehingga Balogun tetap dapat tampil pada laga babak 16 besar menghadapi Belgia.
Keputusan itulah yang memicu kontroversi. Berdasarkan laporan yang beredar, penangguhan hukuman terjadi setelah adanya percakapan melalui sambungan telepon antara Donald Trump dan Gianni Infantino.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Donald Trump secara langsung memengaruhi keputusan Komite Disipliner FIFA. Dugaan tersebut masih menjadi bagian dari pengaduan yang diajukan FairSquare dan belum menghasilkan kesimpulan resmi.
Sebelumnya, Gianni Infantino juga menegaskan bahwa seluruh komite independen FIFA bekerja secara terpisah dari pimpinan organisasi. Menurutnya, Presiden FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengarahkan keputusan yang diambil komite disipliner.
Laporan media Inggris kemudian menyebut keputusan penangguhan hukuman Balogun diambil oleh Ketua Komite Disipliner FIFA, Mohammad Al Kamali. Hal ini menjadi perhatian karena dalam sejumlah perkara sebelumnya keputusan serupa biasanya tidak diputuskan oleh satu orang saja.
Sampai sekarang FIFA belum memberikan penjelasan mengenai alasan penangguhan hukuman tersebut sehingga memunculkan berbagai pertanyaan dari publik.
Kronologi Presiden FIFA Dilaporkan ke IOC
Presiden FIFA dilaporkan ke IOC setelah FairSquare sebelumnya juga mengirimkan pengaduan kepada Komite Etik FIFA pada Desember lalu. Organisasi tersebut menyatakan laporannya telah diterima, tetapi tidak memperoleh perkembangan lebih lanjut mengenai proses penanganannya.
Kasus ini kemudian mendapat perhatian lebih luas. Federasi Sepak Bola Norwegia mengirimkan surat kepada Komite Etik FIFA agar mempertimbangkan laporan yang telah diajukan FairSquare.
Dukungan terhadap penyelidikan juga datang dari lima puluh anggota Parlemen Eropa. Mereka meminta Komite Etik FIFA segera memberikan tanggapan atas berbagai dugaan yang telah disampaikan.
Baik FIFA maupun IOC telah dimintai komentar terkait laporan tersebut. Hingga kini, kedua organisasi belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai langkah yang akan diambil.
Kontroversi penangguhan hukuman Balogun semakin menjadi sorotan setelah dibandingkan dengan sejumlah keputusan disipliner lain selama Piala Dunia.
Bek Inggris Jarell Quansah, misalnya, dijatuhi larangan bermain dua pertandingan setelah menerima kartu merah saat menghadapi Meksiko. Hukuman itu membuatnya baru bisa kembali bermain apabila Inggris mencapai partai final.
Di sisi lain, Prancis sempat mengajukan banding atas kartu kuning yang diterima Michael Olise ketika menghadapi Paraguay pada babak 16 besar. Permohonan tersebut ditolak sehingga keputusan awal tetap berlaku.
Perbedaan hasil dalam berbagai kasus disipliner itu memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penerapan regulasi FIFA. Sejumlah pihak menilai setiap keputusan seharusnya dijelaskan secara terbuka agar tidak memunculkan spekulasi.
Bagi IOC, laporan FairSquare akan menjadi bahan untuk menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap kode etik yang berlaku bagi anggotanya. Proses tersebut akan dilakukan sesuai mekanisme yang dimiliki organisasi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya












