Tarian Ratoh Jaroe asal Aceh kembali mencuri perhatian dunia lewat penampilan apik dalam kampanye global Apple bertajuk Music Moves Tradition.
Video tersebut dipublikasikan pada 1 Juli 2025 melalui akun Instagram resmi Apple, dan menjadi sorotan karena menggabungkan budaya tradisional Indonesia dengan pendekatan visual modern.
Di tengah instalasi cahaya artistik, puluhan pelajar perempuan menari secara serempak dengan gerakan khas yang begitu tegas, selaras, dan estetis.
Tarian Ratoh Jaroe Asal Aceh dan Kolaborasi Apple

Dalam proyek ini, Apple secara khusus menampilkan Tarian Ratoh Jaroe asal Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Video ini direkam sepenuhnya menggunakan iPhone 16 Pro Max dan menjadi bagian dari kampanye #ShotOniPhone yang berfokus pada keindahan budaya dunia.
Kolaborasi apik terjadi antara elemen tradisi dan sentuhan modern melalui perpaduan gerak khas Ratoh Jaroe dengan musik elektronik hasil garapan musisi eksperimental, Kasimyn.
Musisi asal Indonesia ini dikenal luas di dunia internasional dan pernah bekerja sama dengan penyanyi ikonik Björk.
Dengan sentuhan uniknya, Kasimyn berhasil memberi warna baru tanpa menghilangkan identitas kuat budaya Aceh.
Dalam tayangan berdurasi singkat tersebut, tampak 150 penari perempuan dari Tangerang Selatan menampilkan formasi simetris yang memukau.
Busana khas seperti baju kurung, songket, jilbab, serta ikat kepala menambah kekayaan visual video yang disorot Apple ini.
Visual disutradarai oleh Agung Pambudi, kreator visual Indonesia yang dikenal dengan pendekatan estetika tinggi dan narasi budaya yang kuat.
Tariannya sendiri dikoreografi oleh Dek Gam atau Yusri Saleh, sosok pelatih tari yang juga merupakan pencipta dari Ratoh Jaroe modern.
Fotografi tambahan ditangani oleh Mas Gatut, yang turut memperkuat detail visual dalam video berdurasi satu menit tersebut.
Lewat kampanye global bertema Commissioned by Apple, tarian ini tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang pelestarian budaya lokal melalui teknologi.
Sejarah dan Asal-Usul Tarian Ratoh Jaroe Asal Aceh
Tarian Ratoh Jaroe asal Aceh diciptakan oleh Yusri Saleh alias Dek Gam, seniman asal Aceh yang merantau ke Jakarta pada awal 2000-an.
Ia aktif mengembangkan tari ini sejak dipercaya sebagai koreografer dalam berbagai acara tingkat nasional, termasuk parade budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ratoh Jaroe merupakan hasil akulturasi dari beberapa tarian tradisional Aceh, seperti Rapai Geleng, Likok Pulo, Rateb Meusekat, dan Ratoh Duek.
Gabungan ini menghasilkan tarian baru yang memadukan kekompakan gerak tangan dengan iringan musik dan syair Islami.
Biasanya, tarian ini dibawakan oleh penari perempuan dalam jumlah genap dengan pakaian adat khas Aceh, seperti baju kurung, kain songket, jilbab, dan ikat kepala.
Gerakannya cepat, tegas, dan sangat serempak, sehingga membutuhkan latihan dan kekompakan tinggi dari seluruh penari.
Syair yang dinyanyikan biasanya menggunakan bahasa Aceh dengan pesan religius dan spiritual yang kuat.
Sejak tahun 2011, tarian ini diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, menambah legitimasi serta menjadikan Aceh semakin diperhitungkan dalam peta budaya dunia.
Perbedaan Ratoh Jaroe dengan Tari Saman
Meskipun sering disamakan, tarian Ratoh Jaroe asal Aceh memiliki sejumlah perbedaan mencolok dibandingkan tari Saman.
Tari Saman berasal dari Gayo dan biasa dibawakan oleh pria, sementara Ratoh Jaroe berasal dari Aceh dan dibawakan oleh perempuan.
Gerakan pada Ratoh Jaroe lebih mengedepankan ekspresi keberanian dan kebersamaan perempuan Aceh dalam menghadapi tantangan.
Tari Saman lebih ritmis dan memiliki pola gerakan berlapis, sedangkan Ratoh Jaroe lebih linear dengan dominasi gerak tangan yang tegas dan harmonis.
Perbedaan juga terlihat pada jenis musik dan syair yang digunakan, di mana Ratoh Jaroe menonjolkan tabuhan rapai yang lebih kontemporer.
Meskipun demikian, keduanya sama-sama mengedepankan nilai spiritual, kebersamaan, serta semangat kolektif masyarakat Aceh.
Baik Ratoh Jaroe maupun Saman memiliki nilai filosofis yang dalam dan menjadi representasi kekuatan budaya lokal dalam bentuk seni pertunjukan.
Filosofi dan Pesan di Balik Gerakan Tarian Ratoh Jaroe Asal Aceh
Tarian Ratoh Jaroe asal Aceh tidak hanya menampilkan keindahan gerakan tetapi juga sarat makna filosofis.
Syair-syair yang dinyanyikan mengandung pesan religius, moral, dan semangat perjuangan perempuan Aceh dalam menjaga kehormatan dan nilai budaya mereka.
Gerakan serempak dari para penari mencerminkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan kekuatan dalam persatuan.
Dalam setiap pertunjukan, terlihat bahwa tarian ini bukan hanya seni visual, tetapi juga bentuk komunikasi sosial dan spiritual.
Melalui Ratoh Jaroe, masyarakat Aceh menyampaikan pesan kepada dunia bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan tradisi luhur.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






