Redaksiku.com – Mari kita kembali sejenak ke tahun 2000, atau setidaknya dalam konteks perjalanan musik band asal Sheffield, Pulp, yang secara tidak terduga kembali bersatu pada tahun 2011. Hampir satu dekade setelah merilis album studio terakhir mereka yang bertajuk We Love Life, grup musik legendaris ini menemukan jalan untuk kembali berkumpul di atas panggung. Apa yang awalnya tampak seperti reuni singkat lewat konser kampung halaman pada tahun 2012 justru berkembang menjadi fenomena yang jauh lebih besar dari perkiraan semula.
Lima belas tahun berselang, Pulp tetap berdiri kokoh sebagai salah satu band paling dicintai di Inggris dengan kemampuan konsisten memenuhi arena indoor dan festival besar di seluruh dunia. Penampilan masif mereka di O2 Arena London di hadapan hampir 20.000 penggemar pada tahun 2025 membuktikan bahwa kembalinya mereka ke industri musik sama sekali bukan sekadar nostalgia sesaat. Daya tarik abadi inilah yang menjadi fondasi utama dalam film dokumenter terbaru mereka.
Sebuah Perpaduan Unik Konser dan Kenangan
Perjalanan panjang yang penuh kejutan tersebut dirangkum dengan apik dalam Pulp: What Do You Do for an Encore? yang disutradarai oleh kolaborator lama mereka, Garth Jennings. Proyek audiovisual ini memadukan rekaman dari konser megah di London dengan cuplikan intim masa lalu band, menghasilkan tontonan yang berada di garis tengah antara film konser dan dokumenter sejarah musik. Berkat sentuhan kreatif Jennings, film ini kerap terasa seperti video musik Pulp yang megah namun tetap mempertahankan sisi personal yang kuat melalui arsip foto lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gaya narasi khas dari sang vokalis, Jarvis Cocker, menjadi salah satu daya tarik terbesar yang menuntun penonton menyelami masa lalu dan masa kini band ini. Alih-alih menyajikan kisah perjuangan artistik yang terlalu serius dan berat, Cocker membawakan narasi dengan tingkat kehangatan dan humor yang menyegarkan. Sifat rendah hati ini terlihat jelas dari bagaimana mereka memandang kesuksesan global yang telah diraih selama beberapa dekade terakhir.
Pulp: What Do You Do for an Encore? menyajikan durasi sekitar 100 menit yang memadukan sejarah panjang band dengan kemegahan tur konser terbaru mereka.
Meskipun lagu-lagu ikonik seperti Babies, Disco 2000, dan Common People telah lama menjadi anthem wajib di berbagai lantai dansa indie, para personelnya tidak pernah menganggap pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Sebuah sekuens emosional yang melibatkan trofi tangga lagu nomor satu mereka memperlihatkan ketulusan reaksi para musisi senior ini. Jennings berhasil menyeimbangkan kerendahan hati tersebut dengan skala konser O2 Arena yang luar biasa megah.
Menghormati Kenangan dan Kehilangan
Jennings dengan cermat memanfaatkan masa lalu bukan sekadar untuk membangkitkan rasa rindu penonton, melainkan untuk menunjukkan seberapa banyak hal telah berubah sejak band ini dibentuk pada tahun 1978. Perubahan tersebut tentu melampaui batasan musik semata, terutama ketika menyangkut dinamika internal personel yang telah melalui berbagai fase kehidupan. Kehilangan sang bassist, Steve Mackey, pada tahun 2023 menjadi salah satu momen paling emosional yang diberi ruang khusus dalam film ini untuk mengenang kontribusinya.
Dalam bagian tersebut, produksi megah konser sengaja dilucuti untuk menciptakan suasana yang jauh lebih syahdu dan personal di antara para anggota band yang tersisa. Kedekatan emosional antara penonton dan musisi di atas panggung terasa semakin kuat setelah penonton sebelumnya disuguhkan kemegahan tata panggung berskala besar. Hubungan saling menghormati antara Pulp dan para penggemar setianya terbingkai secara jujur tanpa rekayasa dramatis yang berlebihan.
- Disutradarai oleh Garth Jennings yang dikenal sebagai kolaborator jangka panjang band.
- Menampilkan arsip foto lama dan rekaman audio eksklusif dari era awal pembentukan Pulp.
- Memuat penghormatan mendalam untuk mendiang bassist Steve Mackey yang wafat pada tahun 2023.
Courtesy of MUBI
Meskipun memiliki durasi sekitar 100 menit, satu-satunya kritik kecil yang mungkin muncul adalah bagaimana merangkum puluhan tahun perjalanan karier dalam satu film terasa begitu padat. Ada banyak materi suntingan yang sebenarnya menarik untuk dieksplorasi lebih dalam, mengingat rekam jejak mereka yang begitu kaya warna. Kendati demikian, karya ini tetap berhasil menyampaikan esensi dari kebangkitan sebuah band legendaris.
Kelanjutan Perjalanan Musik di Panggung Dunia
Ketika tirai merah penutup panggung mulai ditarik pada adegan akhir film, menjadi sangat jelas bahwa Pulp tidak sekadar bernostalgia dengan membawakan lagu-lagu hits masa lalu. Mereka terus membuktikan relevansi artistik dengan energi yang membuat penonton merasa seolah-olah berada di sebuah klub bawah tanah yang intim. Perjalanan mereka membuktikan bahwa babak baru dalam karier band ini masih terus berjalan tanpa tanda-tanda akan segera berhenti.
Bagi para penggemar di Amerika Serikat, pemutaran khusus film dokumenter konser ini dijadwalkan hadir di bioskop untuk satu malam saja pada 24 September, sebelum akhirnya tersedia secara global untuk disaksikan melalui platform streaming MUBI mulai 25 September 2026. Kehadiran film ini mempertegas posisi Pulp sebagai entitas musikal yang tidak lekang oleh zaman.
Pertanyaan Umum
Kapan Pulp: What Do You Do for an Encore? dirilis di bioskop?
Film dokumenter konser ini dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat untuk satu malam saja pada 24 September 2026.
Di mana penonton bisa menyaksikan film ini secara streaming?
Setelah penayangan terbatas di bioskop, film tersebut akan mulai tayang secara streaming melalui platform MUBI mulai 25 September 2026.
Siapa sutradara di balik pembuatan dokumenter ini?
Proyek audiovisual ini disutradarai oleh Garth Jennings, yang sebelumnya telah lama menjadi kolaborator visual bagi band Pulp.
Ringkasan
Artikel ini mengulas film dokumenter konser bertajuk Pulp: What Do You Do for an Encore? yang disutradarai oleh Garth Jennings. Karya audiovisual berdurasi sekitar 100 menit ini merangkum perjalanan reuni band rok legendaris asal Inggris, Pulp, menyoroti penampilan masif mereka di O2 Arena London di hadapan hampir 20.000 penggemar pada tahun 2025, serta konsistensi mereka setelah kembali aktif di industri musik.
Film ini memadukan rekaman konser megah dengan arsip foto lama dan narasi khas yang dibawakan oleh sang vokalis, Jarvis Cocker. Selain merayakan lagu-lagu hits ikonik seperti Babies, Disco 2000, and Common People, dokumenter ini juga menyajikan momen emosional untuk mengenang mendiang bassist Steve Mackey yang wafat pada tahun 2023. Proyek ini dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada 24 September sebelum rilis secara global di platform streaming MUBI mulai 25 September 2026.






