Redaksiku.com – Kisah Judy Heumann adalah benang merah yang menjahit sejarah gerakan hak-hak disabilitas di Amerika Serikat. Film terbaru garapan Siân Heder, Being Heumann, yang baru saja tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026, mencoba memotret fragmen paling krusial dalam hidup Judy. Fokus utamanya tertuju pada peristiwa pendudukan Gedung Federal di San Francisco pada tahun 1977, sebuah aksi duduk selama 28 hari yang menuntut pemerintah untuk memberlakukan Pasal 504 dari Undang-Undang Rehabilitasi.
Peristiwa ini bukan sekadar protes biasa, melainkan momen penentu yang mengubah wajah inklusivitas di dunia modern. Setelah kesuksesannya memenangkan Oscar melalui CODA pada tahun 2022, Siân Heder kembali dengan kepekaan yang sama, meskipun kali ini ia harus berhadapan dengan pakem-pakem drama sejarah inspirasional yang terkadang terasa membatasi ruang geraknya sebagai sutradara.
Dalam film ini, Ruth Madeley memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Judith Heumann. Ada ketangguhan yang terasa sangat nyata dalam pembawaannya—jenis tekad baja yang Anda bayangkan harus dimiliki oleh seorang wanita yang berani menduduki gedung pemerintah selama hampir sebulan. Namun, Madeley tidak terjebak dalam stereotip pahlawan yang kaku. Di balik ketegasan itu, ia berhasil menyisipkan sisi humor, kehangatan, dan kerentanan yang membuat sosok Judy terasa sangat manusiawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi protes yang dipimpin Judy Heumann ini berlangsung selama 28 hari dan melibatkan lebih dari 100 aktivis disabilitas di San Francisco.
Potret Keras Kepala yang Memikat dari Ruth Madeley
Salah satu aspek yang paling menarik dari akting Madeley adalah penolakannya untuk menjadikan Judy sebagai sosok yang “suci”. Judy dalam film ini bisa menjadi sangat kasar, tidak sabar, dan terkadang sulit diajak kompromi, terutama saat berhadapan dengan orang-orang yang tidak memahami urgensi perjuangannya. Sisi-sisi tajam ini justru memberikan tekstur pada karakter tersebut.
Madeley memahami bahwa keberanian jauh lebih menarik ketika datang dari seseorang yang rumit, bukan dari sebuah monumen inspiratif yang tanpa cela. Judy versinya adalah seorang wanita dengan emosi yang meluap-luap, selera humor yang cerdas, dan banyak ketidaksempurnaan. Jika Heder memilih untuk menjadikannya sosok yang sempurna, film ini mungkin akan kehilangan jiwanya.
Pendekatan ini sangat krusial karena Being Heumann mencapai puncaknya saat gerakan hak disabilitas tidak lagi terasa seperti paduan suara yang hanya mendukung satu suara pahlawan. Sebaliknya, film ini memperlihatkan gerakan tersebut sebagaimana adanya: kumpulan individu dengan kepribadian berbeda, perselisihan, persahabatan, rasa frustrasi, dan ide-ide yang saling bertentangan namun dipersatukan oleh satu tuntutan akan martabat.
Film ini melibatkan ansambel besar aktor disabilitas asli, termasuk pengguna kursi roda dan aktor tuli, untuk memberikan tekstur sejarah yang otentik.
Representasi Otentik di Balik Layar dan di Depan Kamera
Heder mengisi film ini dengan ansambel besar aktor disabilitas, termasuk pengguna kursi roda dan aktor tuli. Kehadiran mereka memberikan tekstur pada adegan protes yang sulit untuk direkayasa. Mereka bukan sekadar latar belakang, mereka adalah cerita itu sendiri. Heder memahami bahwa representasi di sini bukan sekadar tambahan estetika, melainkan fondasi utama dari konsep sejarah yang ingin ia sampaikan.
Film ini juga berani memperlihatkan bahwa di dalam sebuah gerakan, perpecahan adalah hal yang lumrah. Karakter Kitty Cone, yang dimainkan oleh Madeline Delp, berulang kali berselisih pendapat dengan Judy. Gesekan di antara mereka memberikan materi drama yang sangat menarik. Kitty memiliki idenya sendiri tentang strategi dan apa yang harus diprioritaskan oleh gerakan tersebut.
Perselisihan ini penting karena aktivisme jarang sekali berjalan rapi seperti yang sering digambarkan dalam buku sejarah. Orang-orang bisa saja memiliki tujuan akhir yang sama, namun tetap bertengkar hebat mengenai jalan mana yang harus diambil untuk sampai ke sana. Dengan membiarkan ketegangan ini terlihat, Heder membuat gerakan ini terasa kurang seperti mitos dan lebih terasa hidup serta spontan.
Dinamika Internal dalam Gerakan Aktivisme
Sayangnya, naskah film ini terkadang tidak cukup percaya pada karakternya untuk sekadar membiarkan mereka “ada”. Beberapa dialog dan humor yang disajikan terasa agak kaku atau terlalu dipaksakan. Dorongan untuk menghadirkan adegan yang lebih ringan memang bisa dipahami, mengingat para aktivis ini adalah manusia biasa yang juga bisa bercanda, jatuh cinta, dan bertengkar, bukan sekadar tokoh sejarah yang memberikan pidato inspiratif setiap saat.
- Pemeran utama Ruth Madeley memberikan performa yang berlapis dan manusiawi tanpa kesan menggurui.
- Penggunaan aktor disabilitas asli memberikan tingkat otentisitas yang tinggi pada setiap adegan protes.
- Film ini menyoroti konflik internal gerakan yang menunjukkan bahwa perjuangan hak sipil tidaklah monolitik.
Namun, seringkali humor yang muncul terasa seperti pengingat yang sengaja disisipkan. Anda seolah bisa merasakan naskahnya sedang menyikut rusuk Anda, mengingatkan bahwa tokoh-tokoh serius ini juga orang yang menyenangkan. Hasilnya adalah ketidakteraturan nada yang sesekali menarik film ini kembali ke konvensi biopik inspirasional yang sebenarnya ingin dihindari oleh Heder.
Masalah ini menjadi lebih nyata saat urutan pendudukan Gedung Federal dimulai. Meskipun ada materi yang sangat kuat di sana, menonton para pengunjuk rasa menetap dan mempertahankan tekad mereka selama berhari-hari memberikan kedekatan emosional yang tidak bisa diberikan oleh rekaman arsip saja. Namun, di bagian inilah tempo film mulai terasa goyah. Mengkomunikasikan ketahanan protes selama 28 hari dalam durasi film layar lebar adalah tantangan besar.
Meskipun memiliki momen emosional yang kuat, beberapa bagian dalam film ini terasa berulang karena durasi pendudukan gedung yang panjang.
Tantangan Narasi dalam Bingkai Biopik Tradisional
Beberapa adegan hanya mengulangi perasaan yang sudah dipahami penonton tanpa benar-benar memperluas karakter atau taruhan yang ada. Alih-alih akumulasi emosi, yang terjadi terkadang hanyalah pengulangan. Jajaran pemain pendukung juga mengalami masalah serupa. Mark Ruffalo memberikan kehadiran yang kuat sebagai Joseph A. Califano Jr., sementara Dylan O’Brien, Rob Delaney, dan Ray Fisher turut memperluas dunia di sekitar Judy.
Secara kolektif, mereka membantu membuat dunia film terasa luas, diisi oleh orang-orang yang keputusannya memiliki konsekuensi besar. Namun, secara individual, beberapa dari mereka terasa kurang tereksplorasi. Ansambel ini meyakinkan sebagai satu kesatuan, tetapi beberapa anggotanya terasa lebih seperti bidak yang dibutuhkan naskah untuk berpindah dari satu tonggak sejarah ke tonggak sejarah lainnya.
Heder tetap membuktikan dirinya sebagai pembuat film yang sangat empatik. Karya-karyanya selalu menunjukkan ketertarikan pada mereka yang dianggap “orang luar” dan karakter yang menolak kategori rapi yang dipaksakan pada mereka. Ia mendekati aktivisme Judy dengan kekaguman tanpa harus mengkultuskannya. Perbedaan ini sangat penting. Momen paling efektif dalam film bukanlah saat Judy menang, melainkan saat kita melihat kegigihan murni yang dibutuhkan untuk terus menuntut hak dasar dari institusi yang selama bertahun-tahun menganggap tuntutan itu tidak masuk akal.
“Kita tidak meminta izin untuk ada. Kita menuntut hak untuk hidup dengan martabat yang sama seperti orang lain.”
— Karakter Judy Heumann dalam film
Hal itulah yang memberikan urgensi pada Being Heumann. Gerakan hak-hak disabilitas seringkali menjadi bab yang disanitasi dalam sejarah hak sipil Amerika, sekadar kumpulan tanggal dan kemenangan legislatif yang jauh dari amarah yang membuat kemenangan itu mungkin terjadi. Film Heder berhasil mengembalikan kemarahan itu. Orang-orang ini tidak sedang meminta inklusi dengan sopan; mereka menduduki gedung federal karena permintaan sopan telah gagal.
Bagi yang ingin mendalami perspektif Judy lebih jauh, sangat disarankan untuk membaca memoar aslinya, Being Heumann: An Unrepentant Memoir of a Disability Rights Activist.
Ada sesuatu yang mendebarkan tentang keterusterangan tindakan tersebut, dan performa Madeley memberikan Judy kekuatan kepribadian yang diperlukan untuk membuatnya terasa nyata. Namun, setelah film berakhir, muncul keinginan agar film ini bisa seberani sejarah yang digambarkannya. Struktur ceritanya terasa terlalu akrab, dan puncak-puncak emosional datang tepat di saat yang kita duga.
Terlepas dari kekurangannya, keberadaan film ini tetap sangat berharga. Heder dan para pemerannya merebut kembali potongan sejarah yang telah terpinggirkan terlalu lama. Ruth Madeley memberikan karisma, ketegaran, humor, dan kemanusiaan yang diperlukan untuk membawa sejarah itu ke layar lebar. Ini mungkin bukan film definitif yang sepenuhnya layak didapatkan oleh kisah Judy Heumann, karena terkadang terlalu rapi dan terlalu bersemangat untuk memberitahu kita betapa inspiratifnya segala sesuatunya.
Namun, ada sesuatu yang sangat mengharukan saat menyaksikan sekelompok orang menolak meninggalkan sebuah gedung karena mereka akhirnya memutuskan bahwa diabaikan bukan lagi kondisi yang bisa diterima dalam keberadaan mereka. Jika film ini tidak selalu menemukan bahasa sinematik yang sepadan dengan pembangkangan itu, setidaknya ia memahami bahwa pembangkangan itu sendiri layak untuk diingat.
Pertanyaan Umum
Siapa sutradara film Being Heumann?
Film ini disutradarai oleh Siân Heder, yang sebelumnya dikenal lewat film pemenang Oscar, CODA. Ia juga ikut menulis naskahnya bersama Rebekah Taussig.
Kapan peristiwa nyata dalam film ini terjadi?
Film ini berfokus pada aksi duduk (sit-in) Section 504 yang terjadi pada tahun 1977 di San Francisco, di mana para aktivis menduduki gedung federal selama 28 hari.
Apakah pemeran dalam film ini benar-benar penyandang disabilitas?
Ya, sutradara Siân Heder berkomitmen pada otentisitas dengan melibatkan banyak aktor disabilitas asli, termasuk Ruth Madeley yang memerankan Judy Heumann.
Ringkasan
Film Being Heumann mengisahkan perjuangan Judy Heumann memimpin aksi protes pendudukan Gedung Federal tahun 1977 demi hak disabilitas. Disutradarai Siân Heder, film ini dipuji karena akting Ruth Madeley dan representasi aktor disabilitas yang otentik, meski memiliki alur biopik yang konvensional.
Cerita ini menyoroti keteguhan para aktivis selama 28 hari dalam menuntut pemberlakuan Pasal 504. Walau tempo narasinya terkadang melambat, film ini berhasil menggambarkan sisi manusiawi dan dinamika internal gerakan aktivisme yang mengubah wajah inklusivitas dunia modern secara mendalam.












