Nasib tragis dialami tiga balita yang tak sempat diselamatkan saat kebakaran melanda dan rumah mereka dilalap api.
Kejadian memilukan ini terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Selasa siang yang seharusnya menjadi hari biasa.
Ketiganya terjebak di dalam rumah yang terkunci saat api dengan cepat melahap seluruh bangunan.
Kronologi Kebakaran yang Merenggut Nyawa Tiga Balita

Kebakaran tragis ini terjadi pada Selasa siang, 6 Mei 2025, tepatnya pukul 14.21 WITA di Jalan Suprapto, Kelurahan Punggolaka, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat itu, warga sekitar melihat kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dari salah satu rumah di kawasan padat penduduk tersebut.
Kebakaran diduga bermula dari bagian tengah rumah, yang kemudian menjalar cepat ke seluruh ruangan karena material bangunan yang mudah terbakar.
Para saksi mengatakan api menyebar dalam hitungan menit, sehingga warga hanya bisa menyaksikan dengan panik tanpa sempat menyelamatkan para balita.
Saat api mulai membesar, warga berteriak memanggil pemilik rumah dan berusaha memadamkan api dengan alat seadanya sebelum mobil pemadam tiba.
Namun usaha warga tidak mampu membendung kobaran api yang telah mengurung bagian dalam rumah.
Dua unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Damkar Kendari dikerahkan ke lokasi dan butuh waktu lebih dari 30 menit untuk menguasai api.
Setelah api berhasil dipadamkan, tim penyelamat masuk ke dalam rumah dan menemukan dua balita dalam kondisi meninggal dunia di kamar belakang.
Korban berinisial ZK dan NJ sudah tidak bernyawa dan tubuhnya mengalami luka bakar parah.
Sementara dua balita lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Sayangnya, satu di antaranya yaitu NW, akhirnya meninggal dunia akibat luka bakar hingga 70 persen.
Kakaknya yang selamat, berinisial SN, kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat luka bakar cukup serius.
Menurut keterangan tetangga, keempat balita tersebut memang sering ditinggal di rumah oleh ibunya.
Hari itu, sang ibu diketahui pergi membeli makanan bersama kekasihnya, meninggalkan keempat balita sendirian tanpa pengawasan.
Rumah juga dalam keadaan terkunci, membuat balita tidak punya jalan keluar saat api mulai menjalar.
Warga sekitar lokasi kebakaran mengaku syok dan sedih atas peristiwa yang menimpa keempat balita itu.
Mereka mengenal anak-anak tersebut sebagai sosok ceria dan sering bermain di halaman rumah.
Kesedihan berubah menjadi kemarahan ketika mengetahui ibu kandung para balita tengah keluar bersama pacarnya saat musibah terjadi.
Banyak warga mendesak agar pihak berwenang menyelidiki tuntas apakah ada unsur kelalaian atau pidana dalam insiden tersebut.
Kanit Reskrim Polsek Mandonga, Ipda Andry Irwanto, mengatakan pihaknya telah memulai penyelidikan untuk mendalami penyebab dan siapa yang harus bertanggung jawab.
Polisi juga memeriksa keterangan sejumlah saksi, termasuk warga yang melihat langsung kebakaran dan aktivitas ibu balita sebelum kejadian.
Jika terbukti lalai, ibu kandung korban bisa dijerat dengan pasal terkait perlindungan anak dan kelalaian yang menyebabkan kematian.
Perlindungan Balita Harus Jadi Prioritas
Peristiwa ini membuka kembali diskusi soal perlindungan terhadap balita dalam lingkungan keluarga.
Balita merupakan kelompok rentan yang tidak mampu melindungi dirinya saat menghadapi kondisi darurat seperti kebakaran.
Para ahli menekankan bahwa meninggalkan balita sendirian tanpa pengawasan orang dewasa adalah bentuk kelalaian berat.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memastikan keselamatan balita setiap saat.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua orang tua bahwa keselamatan anak adalah tanggung jawab utama yang tidak boleh diabaikan.
Apalagi dalam kondisi seperti rumah semi permanen dengan instalasi listrik yang rawan korsleting.
Tewasnya tiga balita di Kendari bukan hanya musibah, tapi juga tragedi yang mencerminkan rendahnya kesadaran akan tanggung jawab sebagai orang tua.
Balita yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan perhatian justru menjadi korban dari kelalaian dan ketidakpedulian.
Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga dan mendorong semua pihak untuk lebih peka terhadap nasib anak-anak, terutama mereka yang masih balita.
Pihak berwajib diharapkan menindak tegas pelaku yang bertanggung jawab agar keadilan bagi balita yang telah tiada bisa ditegakkan.
Tragedi ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Kendari yang turut berduka atas kepergian tiga balita tak berdosa.
Perhatian dan pengawasan terhadap balita harus terus ditingkatkan agar kejadian serupa tak lagi terulang di masa depan.
Kini, masyarakat menanti langkah tegas dari aparat hukum untuk memberi keadilan atas musibah yang merenggut nyawa para balita tersebut.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






