“Saking seringnya ngobrol sama dia tentang rencana bisnisnya, sampai aku harus membuat janji tambahan di luar jam kerja. Karena ini juga, kamu kembali termakan gosip. Memintaku untuk resign dan membangun perusahaan sendiri.”
Abyan menyeka ujung-ujung matanya yang terasa basah. Dia kemudian memutar badannya kembali menghadap sang istri. “Sejak hari itu, aku nggak bertemu lagi dengan Lidya. Makanya waktu kita sewa ruko untuk kantor, aku minta kamu buat buka butik sendiri di lantai satu. Kupikir, mungkin saja dengan begitu, kamu mau ngobrol sama aku untuk urusan butiknya, tapi ternyata kamu tetap nolak.”
Ayyara bergeming, suara isakan tangisnya pun masih terdengar jelas. Dia tak mampu berkata-kata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sungguh, aku tak pernah bermaksud untuk mengkhianati cinta kita,” ucap Abyan yang perlahan berjalan mendekati istrinya.
“Lalu kenapa kamu terima wanita lain untuk mengontrak di lantai satu, padahal dia bukan Lidya?” tanya Ayyara dengan suara pelan. Dia masih tertunduk, belum berani menatap suaminya.
“Tadinya, asalkan bidang yang sama, mungkin aku akan menemukan keseruan seperti saat ngobrol bersama Lidya, tapi ternyata tidak semua orang bisa dijadikan tempat untuk bertukar pikiran. Karena itu, aku pun tak keberatan ketika harus pindah kantor lagi,” ungkap Abyan seraya meraih bahu sang istri, lalu memeluknya erat untuk beberapa saat. “Maafkan, jika aku sudah nyakitin perasaanmu.”
Tangis Ayyara kembali pecah. Dia sesenggukan di pelukan suaminya. Setelah puas dan merasakan hati lebih tenang, ibu dua anak ini memberanikan diri untuk kembali bertanya. “Jadi, sejak kapan kamu bertemu kembali dengan Lidya?”
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






