Hiii, takut. Kami kan cewek-cewek!
Bersama pengunjung lainlah. Ada pemandunya juga kok!
Asyik, terima kasih, Mas. Matanya langsung berbinar-binar, wajahnya berseri gembira. Kecantikannya memancar penuh pesona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa sadar Toni menelan saliva. Tatapannya tak hendak dialihkan. Rasa nyaman mengelus lembut kalbunya. Bibirnya menyungging senyum tipis. Rasa yang tidak dia rasakan saat bersama Erlika.
Sontak wajah Toni memerah saat Erlika hadir dalam benaknya. Wanita yang telah membius dengan kecantikannya. Toni menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan Erlika. Amarahnya pada kelakuan Erika belum sirna.
Sekarang Toni mulai bingung menghadapi ancaman kesehatan mamahnya. Dokter memberitahu, jika mamahnya mengalami kekecewaan berat, kondisi jantungnya tidak bisa menanggungnya. Toni merasa bersalah, bagaimana pun mamahnya bermaksud baik, namun hatinya sudah terjerat cinta wanita pilihan hatinya. Dia lalu mengajak Ratih untuk tinggal di kediaman Sumbogo.
Mamah akan tenang melihat kita bersama di rumah. Untuk keperluan kegiatanmu, akan kubelikan mobil. Ada sopir khusus untukmu! bujuknya.
Tapi ¦, kata Ratih gamang.
Nggak usah takut, aku tidur di sofa ruang kerjaku! Aku juga lebih sering tinggal di vila. Yang penting, kamu ada di sisinya, sahut Toni. Ada rencana akan berkantor di Semarang untuk memudahkan mobilitas. Aku merasa lebih tenang jika kau bersama Mamah dan Papah, lanjutnya.
Kau ¦ mengkhawatirkanku? tanya Ratih sambil membelalakkan mata karena terkejut.
Mmmmaksudku eee, Toni tergagap bingung. Dia keceplosan, wajahnya memerah malu.
Maaf, maksudku Mamah, tidak tahan jika ada yang berkunjung ke rumah, sedang kamu tidak ada. Orang lain akan memberikan penilaian negatif. Aku mohon, tinggallah di rumahku.
Nantilah, kupikirkan dulu. Lagian, aku kan, tinggal di rumah orang tuaku.
Iya, tapi istri kan, harusnya tinggal di rumah suami.
HP di genggaman Toni tiba-tiba bergetar mengejutkannya. Hampir saja HP-nya terlepas dari genggaman. Nama Bagas muncul di layar. Segera sambungan diterima. Melihat suaminya seperti gagap menerima telepon, Ratih memilih untuk menjauh. Dia ingin melihat hasil foto-foto hari itu.
Ton, dimana, kau? tanya Bagas tanpa basa basi dalam nada tinggi.
Di Jogja, Gas. Ada sesi foto ¦
Prewed? teriak Bagas.
Toni gelagapan. Belum lagi sempat menjawab, Bagas langsung menyemprotnya bak rambo yang menembakkan senapan mitraliur.
Bener-bener, kamu Ton! Gak ada basa-basinya! Aku mau bicara denganmu, atur waktu dan tempat secepatnya. Ketemu di Semarang! kata Bagas lugas.
Gas, kenapa nggak di Purwokerto aja?
Lama, perjalanannya. Cutiku habis buat ngurusin pernikahanmu. Sekarang, kau malah meledek kami! Nggak mengapresiasi blas, semua kesibukan dan kerepotan kami. Adikku kau buang begitu saja! Kutunggu beritanya! Bagas langsung menutup sambungan secara sepihak.
Toni duduk terlongong sambil menatap nanar gadgetnya. Bagas, teman masa kecil sampai SMA. Teman satu tim Panjat Tebing tingkat provinsi. Masalah baru, muncul lagi menambah keruwetan hidupnya.
Mendengar kabar entah dari mana, ditunjang bukti postingan Erlika, Ninit dirawat lagi. Memang tidak sampai masuk ICCU, tapi cukup mengkhawatirkan. Dia dirawat intensif di HCU. Toni sungguh tidak bisa memaafkan tindakan tunangannya itu.
***
Hasil foto dan video setelah dibuat kolase dengan teknik tinggi dan artistik, mulai diunggah di seluruh medsos milik Toni. Foto dan video dengan background spot-spot cantik Hotel grup ANCALA juga diunggah di medsos milik kantor. Respon netizen sangat positif. Medsos Toni dibanjiri pertanyaan lokasi pengambilan gambar. Hotel ANCALA di semua tempat kebanjiran permintaan ijin pengambilan gambar untuk Prewed.
Keinginan Toni menyunting gadis pujaannya mulai sedikit mengendur, meskipun di dalam hatinya masih bersemayam cinta yang dalam kepada Erlika. Seandainya pernikahannya dengan Ratih tetap harus dipertahankan, dia tetap tidak bisa mencintai Ratih. Ada trauma masa kecil, kecemburuan pada Ratih.
Erlikalah wanita yang mampu menggetarkan jiwanya. Sayang unggahan di sosmed membakar kemarahan dan melemahkan niatnya untuk segera memilikinya. Toni menjadi risau dan bingung, hatinya pun gundah gulana.
Peristiwa medsos sudah mereda, persiapan kepindahan kantor pusat makin menguras waktu dan tenaga. Toni makin sering ke luar kota. Meskipun belum pindah sepenuhnya, Toni makin jarang berkantor di Purwokerto. Jika sedang di Purwokerto, dia memilih tinggal di vila yang tenang, sangat nyaman untuk menjernihkan pikirannya.
Ratih sendiri tidak memikirkan suaminya akan tinggal di mana. Dia tidak peduli suaminya ada atau tidak ada di rumah. Setelah tinggal di keluarga Sumbogo, dia mengurangi kesibukannya, menyisakan kegiatan yang benar-benar mendukung perkuliahannya. Dia merasa kurang leluasa pergi pagi pulang malam. Sejak Ratih tinggal bersamanya, kesehatan Ninit kembali pulih dengan cepat. Keberadaan Ratih bagi Ninit, seperti kembalinya putri yang hilang.
Menurunnya hasrat Toni untuk menikahi Erlika ditambah kesibukan kepindahan kantor pusat ke Semarang, membuat Toni belum juga membicarakan rencana pernikahannya dengan Erlika. Apalagi, Perjanjian no. 4, ikut menentukan kapan Toni baru bisa menikahi kekasihnya. Akibatnya dia mendapat tekanan dari keluarga Erlika yang menuntut janjinya untuk menikahi putri mereka.
Halaman : 1 2












