Ratih terjatuh, lumpur hitam mengikat kakinya, menariknya ke bawah. Dari balik kegelapan, suara tawa Erlika menggema memantul-mantul, menciptakan rasa takut yang menusuk hingga ke tulang.
Kau tak akan bisa merebutnya dariku, Ratih. Toni sudah menjadi milikku ¦ milikku! Ha ha ha ha¦. Tawanya bergulung-gulung menyakitkan telinga.
Seketika, Ratih terbangun dengan napas terengah-engah. Matanya terbuka lebar, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia berusaha duduk, tetapi tubuhnya masih terasa berat. Segala pemandangan mengerikan dari mimpinya terasa begitu nyata, dan ia belum sepenuhnya sadar bahwa ia sudah terbangun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Arum dan Ninit yang menunggui sambil membaca Quran, melihat Ratih mulai bergerak segera mendekat. “Ratih? Kamu sudah bangun, Sayang?” suara keduanya penuh harap.
Ratih menatap bundanya dengan mata berkaca-kaca, masih berusaha memahami apa yang baru saja dialaminya. “Bunda ¦ Ratih ¦ Ratih melihat Mas Toni. Dia terjebak di tempat yang sangat gelap. Ada yang menariknya. Ratih takut, Bunda ¦ Ratih takut.”
Arum segera memeluk putrinya erat-erat, menenangkan Ratih yang masih diliputi ketakutan. Hatinya sakit melihat penderitaan putrinya. Dia sangat ingin membawa putrinya pulang.
Kita akan selamat, Sayang. Mpek An Cong sedang membantu. Kau harus kuat, demi Toni, demi kita semua, kata Ninit menenangkan.
Namun, di dalam hatinya, Ninit tak bisa mengabaikan kekhawatiran yang semakin membesar. Ia tahu, selama putranya masih di bawah kendali Erlika, hidup keduanya tak akan pernah kembali normal.
Ratih sendiri menyadari semuanya ada hubungannya dengan Erlika, perempuan tunangan suaminya. Toni sudah membatalkan pertunangannya, namun akhirnya dia kembali kepada perempuan itu. Ratih mulai yakin mantan tunangan suaminya yang sudah dinikah siri oleh suaminya itu memakai kekuatan black magic. Dan sekarang, Ratih sudah mulai merasakan dampak paling buruk dari sihir yang ditebar Erlika.
Sementara di tempat Toni disekap, Mpek An Cong akhirnya berhasil memukul mundur dukun wanita jahat dengan sebuah mantra yang kuat, namun bukan tanpa pengorbanan. Tubuhnya lunglai kehabisan energi. Dia sangat kelelahan. Dukun itu hanya tersingkir lenyap dalam kerimbunan lembah yang gelap sambil meninggalkan tawa mengerikan dan ancaman pembalasan dendam. Suara ancaman dan tawa mengintimidasi bergaung memantul-mantul lalu lenyap di lembah yang gelap. Mpek An Cong sadar, jika itu hanya kemenangan sementara. Setelah memandang keadaan sekeliling, dia mengenali tempat itu.
Ternyata, semua masih di dalam vila, gumamnya lirih terkulai duduk bersandar pagar teras. Di tatapnya lembah gelap dari balik pagar teras, lembah yang dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan. Dia berjengit menyadari kemungkinan Erlika juga berada di situ, Toni! panggilnya.
Setelah pertarungan dimenangkan oleh Mpek An Cong, Erlika mendengar suara lawan dari nenek dukun saktinya memanggil Toni. Begitu melihat air baskom yang bergolak mengerikan dan bayangan dukun saktinya menghilang di lembah, dia buru-buru kabur meninggalkan vila.
Aku di sini, teriak Toni lemah, namun cukup jelas terdengar.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






