Kegelisahannya makin memuncak. Suara-suara yang menyuruhnya pergi menemui Erlika terus bergaung di telinga dan terus berputar di benaknya. Akhirnya dia tidak tahan lagi menanggung kerinduan. Toni menghubungi mantan tunangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Erlika mempermainkan hatinya. Beberapa kali sambungan Toni diabaikan. Saking ngebetnya ingin berjumpa wanita yang sudah merampas hatinya, Toni pulang ke Purwokerto.
Akhirnya kau tak bisa melupakanku, kan? gumamnya lirih sambil mencibir.
Kelakuan sok jual mahal Erlika dipicu oleh kebanggaan mampu membuat Dirut blingsatan. Keberhasilannya kali ini terasa lebih bermakna daripada saat pertama kali Toni terpikat padanya. Hal ini membuatnya kembali menjadi orang yang tinggi hati. Erlika memakai lagi cincin pertunangannya. Bisik-bisik miring mulai terdengar. Erlika menyapa melalui WA.
[Assalamualaikum, Mas. Maaf HP baru saja pulang opname. Lumayan lama. Ada apa, Mas?]
Tidak makan waktu lama, pesan dibalas. Erlika tersenyum puas.
[Nanti kamu pulang ke vila, ya. Mas tunggu di sana! Ini lagi otw dari Semarang!]
Huh! Selalu saja ngatur! Gak papalah yang penting sudah ditangan. Bener kata Mboke, gumamnya senang.
Toni kembali tergila-gila pada Erlika. Dia bahkan sering mengabaikan pekerjaannya. Rencana membuat usaha baru berskala internasional tidak lagi dìgarap. Peningkatan standar beberapa hotel juga terbengkalai. Wakil Dirut melapor kepada Komisaris Utama.
Kenapa baru lapor? Keadaan sudah parah begini. Hampir dua bulanan? Kupikir dia stay di sini.
Tadinya, mau rapat direksi, tapi ditunda-tunda terus. Akhirnya kami kewalahan, terutama untuk proyek-proyek yang sudah terlanjur dibangun. Beruntung belum ada pengecoran!
Baik, besok kita rapat intern! perintah Barman, untuk Toni, aku yang atur!
Barman segera menghubungi Toni. Berkali-kali sambungannya tertolak. Dia menghubungi Linda, Sekretaris Kantor, menanyakan keberadaan Toni.
Maaf pak Komisaris, menurut selentingan, Pak Toni berada di vila bersama seorang perempuan.
Mendengar berita ini, Barman naik pitam. Dia segera menghubungi penjaga vila yang membenarkan berita itu.
Kebetulan Mas Toni ada, Pak. Biasanya pergi pagi pulang malem. Terkadang malah sampai tiga hari baru pulang, lapor penjaga vila. Barman menyuruh memberikan HP kepada Toni.
Halo, Pah.
Besok rapat intern! Kau harus datang! titahnya tegas.
Di mana, Pah?
Di Semarang lah, Papah akan kesana. Siapkan semuanya!
Sementara di Jakarta, Rendi mendapat laporan dari adiknya, kalau Toni sedang bersama perempuan yang postingannya viral dulu.
Malah temanku melihat perempuan itu tinggal di vila keluarga Sumbogo. Dia juga bilang kalau CEO Grup ANCALA sudah sebulan lebih tinggal di situ.
Rendi gemas dengan kelakuan Toni, dia langsung mengajukan cuti untuk pulang kampung. Dia berniat akan menyerahkan sendiri rekaman CCTV kepada Barman. Bergegas Rendi membereskan pekerjaannya, mengadakan pertemuan dengan kelompok desainernya.
Barman sangat terkesima, menyaksikan rekaman CCTV dari Rendi. Dia sampai tidak mampu bicara apa-apa. Malam itu Ninit sedang ke mal ditemani Ratih. Setelah menenangkan hati, Barman memperbaiki duduknya.
Jadi itu perbuatan perempuan itu? Perempuan yang berulah di medsos! Apa Toni sudah melihatnya?
Sudah Om, Toni juga sudah membatalkan pertunangan dan putus hubungan dengan perempuan itu. Saat itu Rendi turut gembira, akhirnya Toni sadar dan mulai menerima istrinya.
Saya sempat senang, Om, melihat kemesraan Toni dan istrinya di Turki. Setelah pulang juga masih suka posting kebahagiaan mereka. Jeda sebentar untuk menenangkan gejolak hatinya. Setelah tenang, Rendi melanjutkan.
Sebenarnya Adik saya sudah sering lapor kalau Toni lebih sering berkantor di Semarang. Jika pulang ke Purwokerto dia tidur di vila. Ternyata sudah hampir dua bulan mereka berada di vila. Sepertinya perempuan itu juga sudah tidak bekerja lagi.
Barman termangu-mangu. Memang dia sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Baru dua mingguan sejak kepulangan mereka dari Turki, Ratih terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia sering melamun jika sendirian. Isah pernah memergokinya sedang menangis nelangsa, di balkon kamarnya.
Aah saat itu, kami pikir masalah biasa. Sekarang sudah hampir dua bulan. Kami terlalu memanjakan Toni. Andai tidak ada masalah kantor ¦, gumamnya dalam hati. Barman merasa bersalah. Dia merasa telah mengabaikan pasangan muda itu. Melupakan masalah besar yang pernah menimpa keduanya.
Nak Rendi pernah menegurnya?
HP-nya sering tidak aktif. Saya pikir karena kesibukan kerja pasca ditinggal ke Turki. Saya sendiri juga sibuk. Begitu mendengar dia tinggal di vila dengan perempuan itu, saya harus bertindak. Lalu apa yang harus kita lakukan, Om? Cuti saya hanya tiga hari. Apa yang bisa saya lakukan besok dan lusa sebelum kembali ke Jakarta. Saya naik kereta malam.
Om tau siapa perempuan itu dan keluarganya. Uang Toni terkuras untuk merenovasi rumah mereka dan memberi modal usaha. Dia membelikan kios tempat jualan. Perempuan itu karyawan hotel kami.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






