Redaksiku.com – Musim kemarau panjang yang melanda pada tahun 2015 meninggalkan memori pahit bagi warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hutan dan kebun sawit di wilayah tersebut mengalami kekeringan parah hingga sebagiannya terbakar, memicu krisis air bersih yang menyulitkan aktivitas sehari-hari warga. Menyikapi ancaman ekologis tersebut, sebagian warga mulai mengambil langkah pemulihan lingkungan secara mandiri dengan mengembalikan fungsi lahan ke bentuk asalnya.
Peristiwa krisis air itu mendorong Asmadi (60) bersama anaknya, Andre (30), untuk mengambil keputusan besar dalam mengelola lahan milik keluarga mereka. Mereka secara bertahap menebangi puluhan pohon sawit berusia lima tahun yang dianggap menyerap terlalu banyak air di dalam tanah. Keputusan ini diambil agar sumur, sungai kecil, serta paya atau rawa di sekitar kebun mereka tidak kembali mengering saat kemarau datang.
Transformasi Lahan dari Sawit Menuju Hutan Adat
Sebelum beralih menjadi perkebunan sawit, lahan seluas satu hektar milik keluarga Asmadi merupakan sebuah kelekak berusia ratusan tahun yang dirintis oleh buyut mereka. Lahan tersebut dulunya ditumbuhi berbagai macam tanaman buah tradisional khas daerah seperti durian, rambutan, manggis, puren, ketapi, pelen, tampui, duku, windu, nyatoh, cempedak, hingga ketep. Sayangnya, ketika alih fungsi lahan menjadi kebun sawit masif terjadi, sebagian besar pohon buah warisan leluhur itu sempat ditebang habis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya restorasi yang dilakukan keluarga ini tidak berhenti hanya dengan menyingkirkan tanaman sawit. Mereka mulai menanam kembali berbagai bibit pohon lokal bernilai ekologis tinggi untuk memulihkan ekosistem tanah dan ketersediaan air. Beberapa jenis pohon yang ditanam meliputi nyatoh, pelawan, aren, puren, durian, mentaon, binjai puspa, dan langsat.
Kelekak merupakan bentuk agroforestry atau hutan adat masyarakat Melayu di Kepulauan Bangka Belitung yang diwariskan secara turun-temurun kepada setiap klan atau keluarga.
Mengenal Tradisi Kelekak di Bangka Belitung
Secara tradisional, keberadaan kelekak biasanya terletak di sekitar area kebun lada dan karet masyarakat setempat. Selama ratusan tahun, tatanan ekologis ini terjaga dengan baik tanpa pernah mengalami alih fungsi menjadi komoditas lain. Namun, dinamika zaman membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan tradisi lokal ini di tengah masyarakat.
Tekanan ekonomi dan perubahan bentang alam secara besar-besaran mulai mengancam eksistensi hutan adat tersebut. Faktor utama yang menyebabkan hilangnya banyak kelekak di wilayah ini meliputi:
- Perkembangan pesat perkebunan sawit skala luas di berbagai wilayah.
- Aktivitas penambangan timah liar yang merusak struktur tanah dan vegetasi.
- Kurangnya regenerasi pengelolaan lahan tradisional oleh generasi muda.
Meskipun menghadapi berbagai tekanan lingkungan, upaya pelestarian terus berjalan melalui inisiatif kolektif warga. Saat ini, sejumlah kelekak yang dikelola secara khusus oleh Komunitas Kelekak Bangka bahkan telah bertransformasi kembali menjadi tempat perlindungan yang aman bagi berbagai jenis satwa liar.
Harapan Baru Pemulihan Ekosistem Lokal
Langkah pemulihan yang dilakukan oleh Asmadi dan Andre mencerminkan kesadaran masyarakat adat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan alam demi keberlanjutan hidup jangka panjang. Kembalinya kelekak di Desa Zed membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki peran vital dalam mitigasi krisis iklim dan pemulihan sumber daya air bersih.
Keluarga Asmadi merestorasi kembali kelekak seluas 1 hektar yang sebelumnya sempat menjadi perkebunan sawit monokultur.
Transformasi ini juga memberikan harapan baru bagi keanekaragaman hayati lokal yang sempat kehilangan ruang hidup akibat fragmentasi habitat. Dengan pulihnya tutupan pohon buah dan tanaman hutan asli, fungsi hidrologis tanah perlahan-lahan mulai membaik.
Pertanyaan Umum
Apa yang dimaksud dengan kelekak?
Kelekak adalah sistem agroforestry atau hutan adat milik masyarakat Melayu di Kepulauan Bangka Belitung yang diwariskan turun-temurun dari satu klan ke klan berikutnya, biasanya ditanami berbagai jenis pohon buah dan tanaman keras.
Mengapa keluarga Asmadi menebang pohon sawit di kebun mereka?
Mereka menebang pohon sawit karena khawatir tanaman tersebut menyerap terlalu banyak air tanah, yang memicu kekeringan parah seperti yang terjadi pada kemarau panjang tahun 2015.
Bagaimana kondisi kelekak saat ini di Bangka Belitung?
Sebagian kelekak mengalami alih fungsi akibat perkebunan sawit dan tambang timah liar, tetapi sebagian lainnya kini mulai dilestarikan kembali oleh komunitas lokal sebagai ruang hidup satwa liar dan sumber air bersih.
Ringkasan
Krisis air bersih akibat kemarau panjang pada tahun 2015 mendorong warga Desa Zed, Asmadi (60) bersama anaknya Andre (30), untuk merestorasi lahan seluas satu hektar dengan menebang pohon sawit dan mengembalikannya menjadi kelekak, yaitu sistem hutan adat atau agroforestry tradisional khas Bangka Belitung.
Sebelumnya, lahan keluarga tersebut merupakan kelekak berusia ratusan tahun warisan leluhur yang dipenuhi tanaman buah lokal sebelum sempat beralih fungsi menjadi perkebunan sawit monokultur. Melalui inisiatif pemulihan ini, mereka menanam kembali berbagai pohon lokal bernilai ekologis tinggi seperti nyatoh, pelawan, dan aren demi memulihkan ketersediaan air tanah serta fungsi hidrologis.
Keberadaan kelekak di Bangka Belitung kini menghadapi ancaman alih fungsi akibat perkebunan sawit skala luas dan penambangan timah liar. Kendati demikian, upaya restorasi mandiri yang dilakukan warga membuktikan bahwa kearifan lokal berperan penting dalam menjaga cadangan air bersih serta memulihkan ruang hidup bagi satwa liar.






