Redaksiku.com – Para pedagang di Pasar Buah Tanjungsari, Surabaya, kini tengah menyuarakan keberatan mereka terkait kebijakan pembatasan jam operasional yang mulai diterapkan di kawasan tersebut. Bagi para pelaku usaha yang menggantungkan hidup dari distribusi komoditas hortikultura, aturan ini dianggap tidak sejalan dengan ritme logistik buah yang bersifat musiman dan sangat bergantung pada waktu pengiriman dari daerah sentra produksi.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas bongkar muat buah segar di Tanjungsari memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan pasar ritel pada umumnya. Truk-truk besar pengangkut buah dari berbagai daerah biasanya baru tiba di lokasi pada jam-jam dini hari atau larut malam untuk menghindari kemacetan dan menjaga kualitas kesegaran produk sebelum dipasarkan ke pengecer kecil di seluruh penjuru kota.
Pembatasan jam operasional yang terlalu ketat dikhawatirkan akan memicu penumpukan kendaraan di bahu jalan, yang justru berpotensi menimbulkan kemacetan baru. Selain itu, para pedagang khawatir durasi waktu yang terbatas akan membuat kualitas buah menurun karena terlalu lama berada di dalam armada pengangkut sebelum sempat diturunkan dan disortir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinamika Distribusi dan Kebutuhan Fleksibilitas
Para pedagang berharap pemerintah kota dapat mempertimbangkan skema khusus yang lebih adaptif terhadap pola distribusi buah. Mereka tidak menolak penataan kawasan, namun menekankan pentingnya ruang fleksibilitas agar rantai pasok pangan tidak terganggu oleh aturan administratif yang kaku.
Kawasan Tanjungsari selama ini dikenal sebagai salah satu pusat distribusi buah utama di Surabaya yang melayani ribuan transaksi setiap harinya dengan volume mencapai puluhan ton komoditas.
Beberapa poin yang menjadi tuntutan para pedagang dalam menghadapi aturan baru ini antara lain:
- Pemberian izin khusus untuk aktivitas bongkar muat di luar jam operasional normal bagi kendaraan logistik yang membawa buah segar.
- Penyediaan area transit yang lebih memadai agar truk pengangkut tidak perlu memarkir kendaraan di sepanjang jalan utama saat menunggu giliran bongkar.
- Dialog berkelanjutan antara pengelola pasar, dinas perhubungan, dan perwakilan pedagang untuk mencari solusi teknis yang tidak merugikan salah satu pihak.
- Penyesuaian jam operasional yang didasarkan pada data puncak kedatangan armada pengangkut dari luar kota.
Pemerintah diharapkan mampu melihat fenomena ini bukan sekadar masalah ketertiban umum, melainkan urusan logistik yang krusial bagi ketersediaan pangan di masyarakat. Jika distribusi buah terhambat, dampaknya bisa merembet pada kenaikan harga di tingkat konsumen akhir akibat biaya operasional yang membengkak selama proses distribusi.
Keberatan pedagang berakar pada kekhawatiran bahwa pembatasan operasional akan merusak kualitas kesegaran buah yang menjadi aset utama bagi keberlangsungan usaha mereka.
Sejauh ini, komunikasi antara pihak pedagang dan otoritas setempat masih terus dilakukan guna mencari titik temu. Para pedagang menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan sekitar pasar, asalkan mereka tetap diberikan ruang untuk menjalankan roda ekonomi yang sudah berjalan selama bertahun-tahun.
Pedagang disarankan untuk mendokumentasikan jadwal kedatangan armada secara rutin sebagai data pendukung dalam negosiasi dengan pemerintah terkait penyesuaian jam operasional.
Pertanyaan Umum
Mengapa pedagang keberatan dengan pembatasan jam operasional di Pasar Tanjungsari?
Pedagang merasa pembatasan tersebut tidak sinkron dengan pola pengiriman buah yang umumnya dilakukan pada malam atau dini hari untuk menjaga kesegaran produk dan menghindari kemacetan lalu lintas.
Apa dampak langsung jika jam operasional dibatasi secara ketat?
Potensi dampak yang dikhawatirkan meliputi penurunan kualitas buah akibat tertahan di truk, penumpukan kendaraan logistik di jalan raya, serta potensi kenaikan harga jual akibat terhambatnya arus distribusi barang.
Apakah ada solusi yang ditawarkan oleh para pedagang?
Para pedagang mengusulkan adanya skema khusus atau izin fleksibel bagi kendaraan logistik, penyediaan area transit yang lebih baik, serta pelibatan perwakilan pedagang dalam setiap kebijakan baru yang menyangkut operasional pasar.
Ringkasan
Pedagang Pasar Buah Tanjungsari Surabaya menolak pembatasan jam operasional karena dinilai tidak sesuai dengan pola logistik pengiriman buah yang dilakukan pada dini hari demi menjaga kesegaran produk. Aturan yang kaku dikhawatirkan memicu kemacetan, penurunan kualitas buah, dan kenaikan harga.












