Fadli memutuskan untuk lembur malam itu. Ia mengirimkan pesan pada istrinya untuk memberitahukan hal itu dan juga bertanya apakah istrinya itu membutuhkan barang-barang yang dipesannya segera. Istrinya menjawab bahwa Fadli bisa mengantarkan barang pesanannya setelah selesai mengerjakan tugasnya saja. Faik juga berpesan agar Fadli tidak lupa untuk makan malam.
Malam itu, Fadli mengerjakan semua pekerjaannya sampai benar-benar selesai. Laporan yang diminta atasannya sudah tertata rapi. Ia membuat versi terperinci dan versi ringkasannya juga.
Saking asyik mengerjakan tugasnya, Fadli sampai lupa pesan istrinya untuk tidak melupakan makan malam. Ia baru tersadar kalau ia lapar saat telah menyelesaikan tugasnya. Ia akhirnya memutuskan pulang saja. Di dekat rumahnya, ia menemukan seorang penjual nasi goreng keliling. Ia akhirnya memarkirkan mobilnya di dekat penjual itu dan memesan seporsi nasi goreng untuk dimakan di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suapan pertama nasi goreng itu langsung membuat Fadli mengingat kembali masa-masa ia berkuliah. Ia sangat sering membeli nasi goreng bersama Robi dan Randi dulu. Ada satu warung dekat kampusnya dulu yang menjual nasi goreng dengan rasa yang sangat mirip dengan nasi goreng yang ia makan sekarang.
Warung itu merupakan warung favorit para mahasiswa yang memiliki uang saku pas-pasan. Namun, saat akhir bulan, warung tersebut juga dipadati oleh mahasiswa yang sebenarnya memiliki uang saku yang lumayan, namun tidak bisa mengatur keuangannya sampai ia kehabisan uang sebelum waktunya.
Penjual warung tersebut sangat baik sekali. Fadli pernah mendengar cerita bahwa panjual itu sering sekali ditipu oleh para mahasiswa dan mahasiswi langganannya. Mereka makan di sana dengan cara berutang. Namun, sampai mereka lulus, dan menghilang, mereka tidak juga melunasi utang-utang mereka.
Walaupun begitu, pemilik warung tersebut selalu tidak tega dengan para pelajar yang kelaparan. Ia selalu memberikan kelonggaran pada mereka untuk berutang. Fadli sendiri tidak habis pikir bagaimana warung tersebut bisa bertahan cukup lama dengan banyaknya oknum yang kabur dari utang mereka pada warung itu.
Warung itu menyediakan berbagai macam menu seperti warung-warung makan pada umumnya. Namun yang spesial, warung tersebut menyediakan makanan mereka dalam porsi besar dengan ongkos yang cukup terjangkau.
Namun, jangan berharap banyak pada makanan yang disajikan. Rasa makanan di sana memang lumayan, namun proporsi nasi dan lauk serta sayur mayurnya sangat tidak ideal. Itulah mengapa warung tersebut jadi tujuan para mahasiswa yang hanya berpikir bagaimana caranya bisa mengenyangkan perut mereka tanpa peduli gizi makanan yang mereka makan.
Fadli sendiri bukan termasuk mahasiswa pas-pasan yang harus selalu berhemat. Namun, ia tidak enak dengan teman-temannya jika ia menghambur-hamburkan uang sementara temannya harus makan seadanya. Temannya itu juga selalu bersikeras untuk tidak ingin dibantu secara finansial oleh orang lain.
Waktu nostalgia Fadli habis seiring dengan habisnya nasi goreng di hadapannya. Fadli sadar ia harus segera menyerahkan barang pesanan istrinya. Ia beranjak untuk menyiapkan semua barang pesanan tersebut dengan melihat memonya. Ia langsung memacukan mobilnya kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan barang-barang tersebut.
Sementara itu, Faik sudah setengah tertidur saat telepon genggamnya yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Saat itu sudah hampir tengah malam. Ternyata itu Fadli yang mengabarkan bahwa ia sudah di depan gedung.
Faik perlahan turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan anaknya yang sudah tertidur pulas. Dengan cepat dan suara seminimal mungkin ia keluar dari kamar. Ia lanjut berjalan cepat untuk menemui suaminya.
Malam sekali, Sayang. Kukira kamu akan mengantarkan barang ini besok pagi sebelum ke kantor. Kamu pasti sudah lelah sekali, kata Faik begitu bertemu suaminya.
Kamu pasti sangat membutuhkan barang-barang ini, jawab Fadli sambil memberikan sebuah kantong belanja kain besar berisi berbagai barang.
Terima kasih banyak, Sayang. Aku langsung kembali ya. Ihsan sendirian di kamar. Faik mencium pipi suaminya sebelum berjalan cepat kembali ke kamar Ihsan.
Fadli menunggu sampai istrinya tak terlihat sebelum berjalan ke tempat mobilnya terparkir. Ia langsung memacu kendaraan menuju rumahnya. Jalanan masih saja agak ramai padahal ini sudah tengah malam.
~Bersambung~
Halaman : 1 2






