Maaf, Bu! Mas Bayunya sibuk banget. Nanti kalau semua udah selesai, dia pasti ke sini. Waktu Mas Bayu datang, Ibu pas nggak ada, jawabku berusaha menutupi kegugupan.
Udah lama banget, loh, Mir. Hampir dua bulan. Kalian baik-baik aja, kan? Nggak bertengkar? Ingat ya, Mir. Istri itu harus nurut dan bakti pada suami. Nggak boleh ngelawan. Kalau nggak suka, lebih baik diam. Jangan lupa ajak Bayu main ke sini!
Iya, nanti aku kasih tahu. Pamit, ya, Bu! Itu Sasha udah siap. Aku bergegas menyusul Sasha ke luar sebelum Ibu bertanya lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sha! Kok nggak pamit? Ibu menyusulku.
Lho, kamu belum pamit Ibu? tegurku pada Sasha.
Adikku itu nyengir, lalu mengambil tangan Ibu dan menciumnya.
Tadi mau pakai sepatu dulu. Sha berangkat, ya, Bu.
Tak lama, mobil pun melaju.
Gimana kabar Mbak sama Mas Bayu? tanya Sasha sambil menoleh dan menatapku.
Baik. Mas Bayu kan sibuk mau buka restoran. Aku menjawab sambil memandang jalan raya.
Beneran sibuk? Bukan karena alasan lain? Mas sama Mbak udah baikan dan nggak jadi pisah, kan?
Aku tersentak.
Yang mau pisah siapa? Kami baik-baik aja, kok. Emang Mas Bayu sibuk banget karena dua bulan lagi restorannya harus selesai.
Mbak, aku udah dewasa, udah mau nikah, lho! Jangan bohong terus, dong!
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya.
Baiklah, Mbak akan cerita. Aku memutuskan untuk bercerita sedikit supaya Sasha tidak terus bertanya.
Dalam rumah tangga, pertengkaran suami dan istri itu biasa. Namanya juga dua orang yang berbeda. Kamu juga nanti akan merasakan banyak sekali hal yang baru dan berbeda dari kebiasaan di rumah. Kalau ada masalah, langsung diomongin baik-baik, jangan dipendam. Jangan berpikir suami kamu bisa baca pikiranmu. Omongin pelan-pelan, cari jalan keluarnya. Aku menoleh sekilas. Sasha tampak termenung mendengar kata-kataku.
Mbak sama Mas Bayu udah saling bicara, kok. Jadi sekarang kita udah baik-baik aja, lagi saling memperbaiki diri, ujarku melanjutkan.
Ibu tahu nggak?
Nggak. Mbak pikir Ibu nggak perlu tahu. Ini urusan rumah tangga Mbak, dan kami udah sama-sama dewasa, jadi lebih baik diselesaikan sendiri.
Sepanjang perjalanan, aku banyak memberikan Sasha nasihat, sekaligus ingin mengingatkan diriku sendiri agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Adikku itu terlihat serius menyimak. Karena asyik ngobrol, tak terasa kami telah sampai di tujuan.
Menjelang siang, setelah semua urusan Sasha selesai, ia minta diantar ke kantor. Aku menyanggupi. Dari kantor Sasha, aku menuju restoran tempat aku dan Marisa janjian untuk makan siang.
Mir! Lo kelihatan ceria banget! Senang deh ngelihatnya. Marisa segera memeluk dan mencium kedua pipiku.
Lo juga makin cantik, aja! Kangen, Sa, ujarku sambil balas memeluknya. Marisa memang terlihat cantik dengan gamis hitam dan pashmina merah muda. Wajah timur tengahnya sengaja hanya dirias tipis dan natural.
Ada kabar apa, nih? Gue harap kabar menyenangkan, ya? Ia segera mengajakku duduk di tempat favorit kami, dekat jendela kaca yang besar.
Alhamdulillah, kabar baik semua. Aku duduk dan mengambil buku menu.
Hubungan lo sama Bayu? Marisa ikut duduk di depanku.
Aku meletakkan buku menu dan menatap Marisa sambil tersenyum simpul.
Gue sama Mas Bayu udah bicara, saling bentak, saling teriak, sampai gue nangis-nangis ¦.
Terus?
Ya udah, akhirnya kita sepakat mau nyoba saling mengerti dan memperbaiki diri.
Nggak jadi pisah, kan? Marisa tak sabar menunggu reaksiku.
Aku sengaja tidak menjawab.
Amira! seru Marisa gemas.
Doakan aja, ya? Semoga semuanya berjalan lancar. Dah, makan, yuk! Cacing perut gue udah nyanyi dari tadi.
Lo tuh, ya! Masa cerita gitu doang. Gue mau yang lengkap, gerutunya cemberut.
Sabar, dong! Kan semuanya butuh proses, ntar kalau udah damai, gue cerita. Eh, lo dah tahu kan, kalau Sasha mau nikah? Bantuin gue ngurus acaranya, ya?
Bantuin nggak, ya? Marisa menggodaku. “Berani bayar gue berapa?” lanjutnya terkekeh.
Please, Sa ¦.
Lihat ntar, ya. Gue sempat apa nggak.
Jahat!
Lebih jahat mana sama lo? Masa cerita aja dicicil, kayak kreditan, celetuk Marisa dongkol.
Iya ¦ iya, gue cerita sambil makan. Puas?
Marisa terbahak. Siang itu aku merasa sangat bahagia karena bisa bercerita dan tertawa bersama perempuan cantik dan ramah ini. Aku merasa beban di hatiku terangkat sedikit demi sedikit, meninggalkan rasa nyaman yang belum pernah kurasakan. Sudah lama aku tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Kuharap bahagiaku akan bertambah karena nanti malam Mas Bayu berjanji akan mengajak makan malam.
Tanpa terasa, waktu beranjak sore. Kami menyudahi obrolan karena aku harus pulang dan menjemput Sasha. Aku berjanji pada Marisa akan bercerita lagi nanti. Setelah mengantar Sasha pulang, aku memacu mobil dengan kencang karena ingin cepat sampai rumah. Tiba di rumah, ternyata Mas Bayu belum pulang. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Sengaja kupilih gamis motif bunga merah jambu yang sangat halus, kupadu dengan jilbab lebar segiempat warna soft pink. Setelah itu, aku merias wajah dengan riasan natural, sehingga tampak lebih segar.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






