Aku melihat sekilas perubahan wajah suamiku.
Kalau kamu memang mau tinggal di Depok dan nggak mau aku ikut, silakan, Mas! Aku tetap di sini sampai kamu minta, lanjutku berusaha tegar. Selalu begini, aku selalu tidak bisa bersikap tegas pada suamiku. Selalu cengeng dan lemah. Cepat kuseka setitik air yang muncul di sudut mata. Aku telah siap untuk pergi dan tidur di kamar Ibu ketika kudengar Mas Bayu memanggil.
Nggak usah tidur di kamar Ibu. Nanti ngundang pertanyaan. Tidur aja di sini, biar aku di sofa, ujarnya tanpa memandangku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hatiku terasa sakit, tapi aku bersyukur Mas Bayu sudah mau bicara. Biarlah, untuk saat ini aku akan mengalah. Aku memang salah, pergi berduaan dengan laki-laki lain. Aku segera berwudu untuk menunaikan salat Isya. Selesai salat, aku membersihkan wajah dan siap untuk tidur. Tubuh dan hatiku sangat lelah. Jadi, aku berharap malam ini tidur bisa menyembuhkan sakit hatiku.
Kulihat Mas Bayu masih berkutat dengan laptopnya.
Aku mau tidur, Mas. Kamu mau dibikinkan apa buat nemenin kerja? tanyaku pelan.
Nggak usah! Kamu tidur aja, pasti capek kan seharian pergi, sindirnya.
Tanpa menjawab, aku naik dan membaringkan tubuh di tempat tidur. Biarlah malam ini Mas Bayu mendiamkanku, yang penting aku sudah menjelaskan bahwa antara aku dan Pras tidak ada hubungan apa-apa. Aku sangat mengerti kemarahan suamiku. Di saat ia tengah berusaha keras untuk menyelamatkan pernikahan kami, aku malah berhubungan dengan lelaki yang dulu pernah mencintaiku.
Akankah hubunganku dengan Mas Bayu akan membaik? Atau bahkan akan semakin buruk dan akhirnya kami berpisah? Bukankah memang berpisah adalah keinginanku? Karena lelah hati dan pikiran, begitu selesai membaca doa, aku langsung terlelap dengan nyenyak. Terlelap dengan harapan esok hari keadaan akan segera membaik.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






