Setelah membuat minuman segarsirup melon dinginaku segera membawanya ke luar. Pras memandang bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman.
Ibu yang rajin ngerawat tanaman. Aku menjelaskan tanpa diminta. Silakan diminum, Pras.
Pras mengambil gelas berisi sirup dan langsung meneguknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Si kembar apa kabar, Mir? tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.
Baik. Lagi pada semangat kerja, maklum baru ngerasain enaknya punya gaji sendiri, ujarku sambil tersenyum lebar.
Aku dan Pras berbincang panjang lebar sampai sore. Tak terasa, kekakuan kami akhirnya luntur setelah beberapa jam berbicara. Aku merasa menemukan sahabat yang sempat hilang. Pras banyak bercerita soal kehidupan pernikahannya, tentang Safira, pekerjaan, dan teman-teman lama kami. Bicara dengan Pras membuat aku lupa pada masalah rumah tanggaku. Bersamanya, aku bisa dengan leluasa tertawa tanpa beban.
Sejak kedatangan Pras ke rumah, kami jadi sering pergi berdua. Biasanya ke toko buku dan dilanjutkan ke kafe untuk sekedar ngobrol ringan. Kadang kami membahas buku dan film. Pras dan aku memang memiliki kegemaran yang sama: membaca dan menonton. Dulu kami sering saling tukar novel atau komik. Dua minggu berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Kalau saja Mas Bayu tidak mengirim pesan malam itu untuk mengingatkan, mungkin aku benar-benar lupa.
Karena sering pergi berdua dengan Pras, lama-lama Ibu menegurku.
Mir, Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering keluar sama Pras, kata Ibu sambil menyiram bunga-bunga kesayangannya.
Aku menutup novel yang sedang kubaca dan memandang Ibu dengan rasa bersalah.
Aku cuman jalan sama makan aja kok, Bu. Pras kan sahabatku dari kecil, nggak mungkin kami berbuat yang nggak-nggak.
Ibu nggak nuduh kamu, tapi hanya ngingetin aja. Kamu punya suami, nggak baik kalau pergi berduaan sama laki-laki. Apalagi suamimu nggak di sini, tutur Ibu lembut. Perempuan terkasih itu merapikan peralatan menyiram dan menyimpannya di lemarin kayu yang ada di taman, lalu duduk di sampingku.
Aku tercenung. Ibu benar, aku sudah terlena dan melanggar aturan. Kupandang langit yang mulai memerah, mengantarkan anganku jauh ke seberang lautan, kepada seorang lelaki yang tengah berjuang mengais rezeki.
Kamu nggak kasihan sama Bayu? Dia sendirian di negeri orang, bekerja demi kamu, sementara kamu di sini malah pergi dengan laki-laki lain. Ibu percaya kamu nggak akan macam-macam sama Pras, tapi tetap itu ndak benar, Nduk.
Iya, Bu, aku tahu. Nanti kalau sudah kembali ke Riyadh, aku nggak akan ketemu sama Pras lagi. Aku hanya butuh teman untuk ngobrol, lagipula kami perginya ke toko buku, atau makan di restoran, jawabku lirih.
Ibu tersenyum lembut.
Kalau Bayu sampai tahu, gimana menurut kamu, Nak? Apa dia akan diam saja melihat istrinya pergi berduaan sama lelaki lain? Ibu memandangku, lalu melanjutkan, Sekarang, kalau Bayu yang pergi sama perempuan lain, apa kamu nggak marah?
Aku terhenyak. Pertanyaan Ibu begitu menohok hatiku.
Kamu sudah dewasa, Ibu percaya kamu bisa menjaga nama baik suami dan keluarga. Sudah magrib, ayo masuk! Ibu berdiri dan mengajakku masuk ketika terdengar suara azan dari masjid di dekat rumah.
Iya, Bu. Sebentar lagi aku masuk, sahutku.
Aku menyadari kalau perbuatanku jalan dengan Pras itu tidak pantas karena Pras duda dan aku istri orang. Namun, kami hanya bicara masalah umum dan tidak pernah menyinggung masalah cinta. Meskipun aku tidak bisa membohongi perasaanku pada Pras, kesadaranku masih utuh untuk tidak bermain api. Aku hanya butuh teman ngobrol, teman bertukar pikiran tanpa harus takut dikecam atau direndahkan.
Hatiku diliputi kebimbangan. Aku tahu kalau kami berusaha menyembunyikan benih-benih cinta yang mulai tumbuh lagi. Akan tetapi, karena sering pergi berdua, lama-kelamaan cinta itu semakin terlihat. Sikap Pras yang lembut dan penuh perhatian membuat perasaanku seperti terbang ke awan. Ia selalu mengirimkan pesan menanyakan kabarku, mengingatkan untuk makan, dan menghibur ketika perasaanku sedang tidak karuan. Semua yang kudambakan ada pada diri Pras, sesuatu yang tidak pernah kudapat dari Mas Bayu.
Aku mulai dilanda kebimbangan dan berpikir untuk tidak kembali ke Riyadh. Mungkinkah?
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






