Redaksiku.com – Menteri Keuangan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa membagikan kisah menarik di balik upayanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam sebuah pernyataan terbuka, ia mengaku pernah dimarahi sejumlah pihak, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, lantaran dianggap terlalu banyak ikut campur dalam urusan yang bukan ranahnya secara langsung.
Purbaya mengungkapkan bahwa reaksi keras itu muncul saat dirinya tengah berupaya mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia agar bisa menembus angka 5,5 persen secara tahunan (year-on-year) dalam jangka pendek dan menengah.
Dalam jangka pendek-menengah, saya mencoba menggerakkan sektor swasta dan sektor pemerintahan secara bersamaan. Pemerintah sudah saya dorong sedikit lebih cepat, meski ada yang marah di sana-sini, tapi biarkan saja, ujar Purbaya saat berbicara dalam sebuah forum ekonomi, Senin (27 Oktober 2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika Dorongan Ekonomi Dianggap Terlalu Agresif
Menurut Purbaya, sebagian kalangan menilai langkahnya terlalu jauh dalam mendorong percepatan ekonomi nasional. Ia disebut-sebut terlalu aktif memengaruhi berbagai kebijakan lintas sektor, termasuk di ranah yang bukan langsung berada di bawah kewenangannya.
Ya, ada beberapa orang yang marah. Ada yang dari parlemen juga, katanya saya ikut campur sana-sini. Tapi saya tidak ikut campur, kok, ujarnya dengan nada tegas, disambut tawa audiens yang hadir.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa semua langkah yang ia lakukan semata-mata demi kepentingan pertumbuhan ekonomi nasional, bukan untuk mencampuri urusan lembaga lain. Saya hanya ingin ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5,5 persen. Itu saja, tambahnya.
Fokus pada Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Purbaya menjelaskan, target pertumbuhan 5,5 persen yang ia tetapkan bukan sekadar ambisi politik atau pencitraan ekonomi, melainkan tujuan realistis berdasarkan indikator makroekonomi terkini.
Menurutnya, untuk mencapai pertumbuhan tersebut, Indonesia harus mampu menyeimbangkan peran sektor publik (pemerintah) dan sektor swasta. Pemerintah diharapkan mendorong stimulus fiskal yang tepat, sementara sektor swasta perlu diberikan ruang untuk berinovasi dan ekspansi tanpa hambatan birokrasi.
Kalau dua-duanya bergerak bersama, pertumbuhan bisa lebih cepat. Tapi kalau salah satu mandek, hasilnya tidak maksimal, katanya.
Purbaya juga menegaskan pentingnya koordinasi lintas kementerian dalam mendorong aktivitas ekonomi, terutama di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Ia menilai, kebijakan fiskal dan moneter harus saling mendukung agar daya dorong ekonomi tidak melemah.

Menjawab Kritik DPR: Saya Tidak Ikut Campur, Hanya Bekerja Cepat
Menanggapi tudingan terlalu ikut campur dari beberapa anggota DPR, Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan yang ia ambil tetap sesuai dengan mandat konstitusional dan prinsip tata kelola keuangan negara.
Kadang kalau kita kerja cepat, dianggap ikut campur. Tapi sebenarnya saya hanya memastikan semua berjalan sesuai target. Jangan sampai sektor pemerintah lambat karena alasan prosedural, ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks ekonomi nasional, kolaborasi antarlembaga justru menjadi kunci. Ketika satu kebijakan fiskal tidak diikuti dengan langkah koordinatif di bidang lain, dampaknya bisa meluas terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi.
Saya percaya, ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi kalau kita semua bergerak seirama. Jadi, bukan ikut campur, tapi mempercepat sinergi, jelasnya.
Kebijakan Moneter dan Fiskal Jadi Andalan
Purbaya menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas kebijakan fiskal dan moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, kebijakan fiskal akan difokuskan pada penguatan belanja produktif, seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan program perlindungan sosial yang tepat sasaran.
Sementara dari sisi moneter, Purbaya menyoroti pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta memastikan suku bunga tetap kondusif bagi pelaku usaha.
Kebijakan fiskal dan moneter tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Harus sinergis agar dampaknya ke ekonomi riil terasa. Kita tidak ingin kebijakan hanya bagus di atas kertas, tapi tidak berdampak di masyarakat, ujarnya.
Stabilitas Sosial Lewat Program Makan Bergizi Gratis
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menyinggung pentingnya program makan bergizi gratis (MBG) sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas sosial sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, program ini bukan sekadar bantuan sosial, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat dan produktif.
Kalau anak-anak kita sehat dan gizinya cukup, mereka akan tumbuh menjadi tenaga kerja yang lebih produktif di masa depan. Itu artinya kontribusi terhadap ekonomi juga meningkat, jelasnya.
Ia menilai, keberhasilan ekonomi nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan makro, tetapi juga oleh pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






