Redaksiku.com – Gereja-gereja di Tanah Papua mengambil langkah konkret untuk menghentikan siklus kekerasan bersenjata yang berkepanjangan dengan mendirikan inisiatif kemanusiaan lintas denominasi. Upaya penyelamatan warga sipil ini diwujudkan melalui pembentukan wadah bersama bernama Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI) atau yang juga dikenal sebagai West Papua Humanitarian Crisis Centre.
Inisiatif strategis ini lahir dari keprihatinan mendalam para pemimpin umat terhadap keselamatan warga sipil yang kerap menjadi korban terjepit di tengah konflik. Deklarasi pembentukan lembaga ini berlangsung di Graha Sara, Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Kota Jayapura.
Latar Belakang Pembentukan HONAI
Pembentukan wadah kemanusiaan ini didorong oleh situasi keamanan di berbagai wilayah Papua yang tak kunjung mereda dan berdampak langsung pada keselamatan masyarakat adat. Konflik bersenjata yang melibatkan berbagai pihak telah memicu gelombang pengungsian masif di banyak kabupaten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pimpinan gereja menilai pendekatan keamanan konvensional saja tidak cukup untuk memulihkan kondisi sosial di tanah Papua. Oleh karena itu, kehadiran lembaga keagamaan dipandang krusial untuk mengisi ruang kosong dalam pelayanan kemanusiaan dan advokasi korban.
HONAI didirikan untuk merespons krisis kemanusiaan dan menghentikan penderitaan warga sipil yang terus berulang di berbagai pelosok Papua.
Langkah Nyata Menangani Krisis Kemanusiaan
Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan bahwa lembaganya berkomitmen agar kehadiran wadah ini tidak sekadar berhenti pada seremoni deklarasi atau pernyataan normatif belaka. Para pengurus langsung merancang agenda strategis untuk menyasar akar persoalan di lapangan.
Beberapa fokus utama penanganan yang akan segera direalisasikan meliputi:
- Menyelenggarakan rapat perdana pengurus untuk menetapkan program kerja prioritas.
- Memberikan bantuan darurat dan pemulihan trauma bagi warga terdampak konflik.
- Melakukan koordinasi intensif lintas wilayah untuk menjangkau titik-titik pengungsian terpencil.
Langkah awal ini didasarkan pada temuan langsung di lapangan oleh para tokoh agama yang turun tangan memantau kondisi para pengungsi secara langsung.
Menjangkau Titik Pengungsian Terpencil
Persoalan kemanusiaan di wilayah timur Indonesia ini dinilai sudah berada pada tingkat yang memerlukan perhatian luar biasa dari berbagai pihak. Pemimpin gereja mencatat bahwa skala krisis ini terlihat dari sebaran pengungsi yang meluas di berbagai kabupaten.
Berdasarkan pantauan langsung para pengurus ke sejumlah daerah seperti Kabupaten Nabire dan Kabupaten Yahukimo, ribuan warga masih bertahan di tempat pengungsian sementara. Kondisi mereka memerlukan uluran tangan yang cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan dari pemerintah maupun organisasi masyarakat.
Lebih dari 100.000 jiwa pengungsi saat ini tersebar di berbagai wilayah terpencil dan membutuhkan penanganan kemanusiaan yang nyata.
Pihak gereja berharap kehadiran lembaga ini dapat membuka akses bantuan yang selama ini sulit menjangkau para korban akibat faktor keamanan dan geografis. Kolaborasi dengan berbagai pihak terus dibuka agar penanganan pengungsi dapat berjalan lebih efektif.
Pertanyaan Umum
Apa itu HONAI di Papua?
HONAI atau Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative adalah wadah bersama yang dibentuk oleh gereja-gereja di Tanah Papua untuk menangani krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata.
Siapa yang memimpin inisiatif kemanusiaan ini?
Inisiatif ini dipimpin oleh Pdt. Andrikus Mofu yang juga menjabat sebagai Ketua Sinode GKI di Tanah Papua.
Berapa banyak pengungsi yang membutuhkan bantuan?
Terdapat lebih dari 100 ribu pengungsi yang tersebar di berbagai wilayah seperti Nabire dan Yahukimo dan memerlukan perhatian kemanusiaan secara intensif.
Ringkasan
Gereja-gereja di Tanah Papua resmi membentuk Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI), sebuah wadah kemanusiaan lintas denominasi yang bertujuan untuk menangani dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil. Inisiatif yang dideklarasikan di Graha Sara, Kota Jayapura ini dipimpin oleh Pdt. Andrikus Mofu sebagai langkah konkret lembaga keagamaan dalam memutus siklus kekerasan melalui pelayanan kemanusiaan dan advokasi bagi korban yang terjepit di tengah konflik.
Lembaga ini memfokuskan kinerjanya pada penanganan krisis yang menimpa lebih dari 100.000 jiwa pengungsi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Nabire dan Yahukimo. Agenda strategis yang ditetapkan meliputi penyaluran bantuan darurat, program pemulihan trauma, serta penguatan koordinasi lintas wilayah untuk menjangkau titik-titik pengungsian terpencil yang selama ini sulit diakses akibat kendala keamanan dan geografis.
Kehadiran HONAI didorong oleh pengamatan langsung para tokoh agama mengenai ketidakefektifan pendekatan keamanan konvensional dalam memulihkan kondisi sosial di Papua. Dengan mengisi ruang kosong dalam pelayanan kemanusiaan, inisiatif ini berupaya memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat adat yang terdampak krisis serta membuka jalur komunikasi dan bantuan yang lebih efektif antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan para korban.






