Redaksiku.com – Kekerasan bersenjata kembali merenggut nyawa di wilayah pegunungan Papua, di mana seorang sopir lajuran bernama Aris Sanda ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi terbakar bersama kendaraan operasionalnya di kawasan Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya.
Insiden tragis ini terjadi hanya berselang seminggu setelah peristiwa penyerangan terhadap tiga aparatur sipil negara di Muliama, Wamena. Eskalasi keamanan di wilayah Papua Pegunungan terus menunjukkan peningkatan ancaman yang menyasar para pekerja sipil dan penyedia layanan transportasi publik.
Kronologi Penghadangan dan Paksaan Testimoni
Sebelum dieksekusi oleh Kelompok Kriminal Bersenjata, Aris Sanda sempat disekap dan dipaksa untuk merekam sebuah pernyataan dukungan. Berdasarkan video yang beredar luas, korban dipaksa memegang bendera Bintang Kejora sembari menyampaikan pernyataan agar Papua merdeka di bawah tekanan fisik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun korban telah menuruti tuntutan tersebut, kelompok bersenjata tetap menghabisi nyawanya dengan cara menembak bagian kepala korban. Setelah melakukan eksekusi keji tersebut, para pelaku membakar kendaraan double gardan milik korban hingga hangus tak tersisa.
Peristiwa ini bermula ketika Aris tengah membawa sejumlah penumpang dalam perjalanan rutinnya melintasi jalur pegunungan. Di tengah jalan, kendaraan yang ia kemudikan dihentikan oleh kelompok bersenjata yang kemudian memaksa seluruh penumpang berstatus orang asli Papua untuk turun.
Hanya Aris seorang diri yang dibawa menjauh dari lokasi penghadangan oleh kelompok tersebut. Para penumpang lokal yang selamat dan mengetahui kejadian ini dilaporkan merasa sangat terpukul dan bersalah atas nasib tragis yang menimpa pengemudi tersebut.
Profil Korban dan Peran Sosial di Pegunungan
Aris Sanda bukanlah sosok asing bagi masyarakat di kawasan pegunungan Papua karena ia sudah cukup lama menetap dan mencari penghidupan di wilayah tersebut. Ia bahkan telah menganggap daerah penugasan dan tempat kerjanya itu sebagai tanah kelahirannya sendiri.
Dalam kesehariannya, korban dikenal luas sebagai sopir yang kerap membantu mobilitas warga lokal serta mendistribusikan berbagai kebutuhan logistik penting. Kehilangan sosok Aris dirasakan langsung oleh masyarakat setempat yang selama ini bergantung pada jasanya untuk transportasi dan pasokan barang.
Langkah Evakuasi oleh Aparat Keamanan
Aparat gabungan TNI dari Komando Operasi Habema bergerak cepat setelah menerima laporan mengenai penemuan bangkai kendaraan yang terbakar di sekitar Danau Habema. Operasi pencarian dan penyelamatan dipimpin langsung untuk memastikan lokasi kejadian steril sebelum proses evakuasi jenazah dilakukan.
Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, segera menginstruksikan jajarannya untuk menjalankan prosedur evakuasi yang ketat. Proses tersebut tetap mengutamakan faktor keamanan personel mengingat risiko tinggi di wilayah operasi serta bentuk penghormatan terakhir kepada korban.
Jenazah Aris Sanda berhasil dievakuasi oleh personel Koops TNI Habema pada Rabu, 16 September 2026, setelah ditemukan dalam kondisi hangus bersama mobilnya.
Pihak militer menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Aris Sanda yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan. Korban dinilai murni sebagai pekerja sipil yang mendedikasikan waktunya untuk melayani transportasi dan membawa logistik bagi masyarakat Papua.
Pertanyaan Umum
Siapa korban yang tewas dibakar di Danau Habema?
Korban adalah Aris Sanda, seorang sopir lajuran yang sehari-hari bekerja mengangkut penumpang lokal dan mendistribusikan logistik di wilayah pegunungan Papua.
Kapan jenazah korban ditemukan oleh aparat?
Jenazah korban beserta mobilnya yang hangus terbakar ditemukan oleh personel Koops TNI Habema pada hari Rabu, 16 September 2026.
Apa tindakan yang diambil oleh aparat keamanan?
Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, memerintahkan jajarannya untuk segera mengevakuasi jenazah korban sesuai prosedur yang mengutamakan keamanan dan penghormatan.
Ringkasan
Seorang sopir sipil bernama Aris Sanda ditemukan tewas mengenaskan setelah disandera, dipaksa memegang bendera Bintang Kejora, dan ditembak di kepala oleh Kelompok Kriminal Bersenjata di kawasan Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya, pada 16 September 2026. Selain merenggut nyawa korban yang dikenal berjasa dalam distribusi logistik warga lokal, para pelaku juga membakar habis kendaraan operasionalnya di lokasi kejadian.
Insiden ini menambah daftar panjang eskalasi kekerasan bersenjata di wilayah Papua Pegunungan yang menyasar para pekerja transportasi publik dan penyedia layanan logistik sipil. Sebelum dieksekusi, korban sempat dipaksa merekam testimoni dukungan kemerdekaan Papua di bawah tekanan fisik, sementara para penumpang asli Papua yang bersama korban sempat diturunkan di tengah jalan.
Menanggapi peristiwa tersebut, aparat gabungan TNI dari Komando Operasi Habema yang dipimpin oleh Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, bergerak cepat untuk mensterilkan area dan mengevakuasi jenazah korban. Pihak militer memastikan bahwa Aris Sanda murni merupakan pekerja sipil yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu mobilitas dan kebutuhan masyarakat di pegunungan Papua.






