Redaksiku.com – Harga sejumlah komoditas energi dunia tercatat kompak menguat dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya risiko geopolitik, kekhawatiran pasokan, serta kebutuhan pengamanan energi global pada Jumat, 4 September 2026. Lonjakan harga ini dipicu oleh aktivitas kilang di China dan India yang gencar meningkatkan pembelian minyak mentah dari kawasan Timur Tengah di tengah eskalasi tensi antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan Bloomberg, aksi borong di pasar spot tersebut membuat pembeli dari kawasan Teluk harus bersaing ketat dengan negara konsumen lain seperti Korea Selatan dan Jepang. Kondisi itu diperparah oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan lalu lintas kapal tanker di titik sumbat logistik vital Selat Hormuz.
Pergerakan harga komoditas energi pun merespons cepat situasi tersebut di pasar berjangka internasional. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (4/9/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate berada di level US$ 90,45 per barel atau melesat 20,23% dalam sebulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$ 94,96 per barel, mencatatkan penguatan sekitar 19,49% dalam kurun waktu sebulan terakhir.
Selain minyak mentah, komoditas energi sekunder seperti gas alam dan batubara turut mengalami tren kenaikan yang signifikan. Harga gas alam tercatat naik 8,79% dalam sebulan menjadi US$ 2,92 per MMBtu, sementara batubara menguat 12,34% ke posisi US$ 147 per ton.
Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa penguatan serempak ini mencerminkan kombinasi antara friksi geopolitik dan siklus penumpukan stok menjelang musim dingin. Pelaku pasar kini semakin waspada terhadap ketersediaan pasokan energi primer untuk menghadapi lonjakan permintaan musiman.
Penguatan serempak pada kompleks komoditas energi mencerminkan kombinasi antara eskalasi friksi geopolitik di titik sumbat logistik vital serta dimulainya siklus penumpukan stok menjelang musim dingin.
Dinamika Pasar Gas Alam dan Batubara
Menurut Wahyu, faktor pendorong kenaikan harga bervariasi pada masing-masing komoditas energi di pasar global. Pada minyak mentah, risiko gangguan rantai pasok menjadi fokus utama, sementara gas alam dan batubara mendapat tambahan katalis dari kebutuhan musiman.

Produksi gas serpih di Amerika Serikat dilaporkan mulai melambat, sementara arus pasokan ke terminal ekspor LNG kembali menunjukkan peningkatan. Utilitas di belahan bumi utara kini mulai berlomba mengisi fasilitas penyimpanan bawah tanah demi mengantisipasi cuaca dingin.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa karakteristik gas alam memang memiliki tingkat volatilitas yang cenderung sangat tinggi. Pergerakan harga komoditas tersebut dapat berubah secara dramatis dalam waktu singkat sebelum akhirnya kembali normal.
“LNG kadang memang bisa bergerak sangat dramatis, harganya bisa naik atau turun yang sangat besar pada suatu waktu sebelum akhirnya kembali normal dan konsolidasi.”
— Lukman Leong
Kenaikan harga minyak dan gas secara tidak langsung turut mengubah keekonomian penggunaan sumber energi alternatif di berbagai negara. Batubara kembali dilirik karena memiliki daya saing yang lebih kompetitif sebagai bahan bakar pembangkit listrik di sejumlah kawasan Asia.
Proyeksi Harga Energi Akhir 2026
Memasuki periode akhir tahun 2026, Wahyu Laksono memproyeksikan harga minyak WTI akan bergerak di kisaran US$ 86 hingga US$ 98 per barel. Adapun Brent diperkirakan berada pada rentang US$ 91 sampai US$ 104 per barel.
Sementara itu, Lukman Leong memperkirakan harga Brent tertahan di kisaran US$ 90 sampai US$ 105 per barel hingga tutup tahun. Proyeksi ini tetap dibayangi oleh berbagai sentimen eksternal yang bergerak dinamis.
Pergerakan harga komoditas energi ke depan masih sangat bergantung pada dinamika geopolitik, pemulihan pasokan global, serta faktor cuaca ekstrem.
Pertanyaan Umum
Mengapa harga komoditas energi dunia kompak mengalami kenaikan?
Kenaikan dipicu oleh peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran gangguan pasokan minyak, serta siklus penumpukan stok energi menjelang musim dingin oleh negara-negara konsumen utama.
Bagaimana proyeksi harga minyak hingga akhir tahun 2026?
Para analis memperkirakan harga minyak mentah Brent akan berada di kisaran US$ 90 hingga US$ 105 per barel, sedangkan WTI diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 85 sampai US$ 100 per barel.
Faktor apa saja yang dapat meredakan tekanan harga energi saat ini?
De-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta kondisi musim dingin yang lebih hangat dari perkiraan dapat membantu meredakan lonjakan harga.
Ringkasan
Harga komoditas energi dunia kompak menguat dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya risiko geopolitik, kekhawatiran pasokan, dan persiapan musim dingin.






