Redaksiku.com — Gempa M6,7 Sulawesi Tengah yang terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026, masih menjadi perhatian hingga hari ini, Kamis 18 Juni 2026.
Gempa kuat tersebut mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya, tidak berpotensi tsunami, tetapi warga tetap diminta berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.
BMKG mencatat gempa bumi magnitudo 6,7 terjadi pada 16 Juni 2026 pukul 10.27.44 WIB, berlokasi 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami dan mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi.
Kronologi Gempa M6,7 Sulawesi Tengah
Gempa terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026, sekitar pukul 10.27 WIB. Berdasarkan siaran pers BMKG, hasil analisis menunjukkan parameter update magnitudo M6,7. Episenter gempa terletak pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, tepatnya berlokasi di darat sekitar 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, pada kedalaman 10 kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena pusat gempa berada di darat dan kedalamannya relatif dangkal, guncangan dapat terasa kuat di sejumlah wilayah. Gempa dangkal biasanya lebih terasa di permukaan, terutama di area yang dekat dengan pusat gempa.
BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Meski begitu, warga tetap perlu waspada terhadap gempa susulan, kerusakan bangunan, longsor di daerah rawan, dan potensi dampak lain akibat guncangan kuat.
Status Tanggap Darurat Ditetapkan
Pemerintah daerah di Sulawesi Tengah menetapkan status tanggap darurat setelah gempa M6,7. CNN Indonesia melaporkan bahwa Gubernur Sulawesi Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari, terhitung sejak 17 Juni 2026 sampai 23 Juni 2026.
Selain itu, Kabupaten Sigi juga menetapkan tanggap darurat bencana hingga 30 Juni 2026. Laporan Metro TV menyebut status tanggap darurat di Sigi ditetapkan setelah gempa yang berdampak pada wilayah tersebut.
Penetapan status tanggap darurat penting untuk mempercepat penanganan bencana. Dengan status tersebut, pemerintah daerah, BPBD, BNPB, aparat, relawan, dan lembaga terkait dapat bergerak lebih cepat dalam pendataan, evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan awal.

Kenapa Warga Harus Waspada Gempa Susulan?
Gempa susulan dapat terjadi setelah gempa utama. Intensitasnya bisa lebih kecil, tetapi tetap berpotensi membahayakan jika bangunan sudah mengalami kerusakan. Karena itu, warga yang tinggal di rumah retak, bangunan tua, atau area rawan longsor perlu lebih berhati-hati.
BMKG secara khusus mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi setelah gempa M6,7 tersebut.
Jika merasakan gempa susulan, warga disarankan segera menjauh dari bangunan yang tampak rusak, kaca besar, tiang listrik, papan reklame, dan area yang berpotensi roboh. Jangan memaksakan diri masuk ke rumah yang sudah retak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Gempa?
Setelah gempa, warga perlu memeriksa kondisi sekitar dengan hati-hati. Pastikan anggota keluarga dalam keadaan aman. Jika ada yang terluka, segera cari bantuan medis.
Periksa kondisi rumah dari luar terlebih dahulu. Jika terlihat retakan besar, dinding miring, plafon runtuh, atau struktur bangunan tidak stabil, jangan masuk. Tunggu petugas atau pihak yang berkompeten memeriksa keamanan bangunan.
Matikan kompor, listrik, dan sumber api jika memungkinkan. Kebocoran gas atau korsleting listrik dapat menimbulkan bahaya tambahan setelah gempa.
Siapkan tas darurat berisi dokumen penting, obat-obatan, air minum, makanan ringan, pakaian, senter, power bank, peluit, dan kebutuhan anak atau lansia jika ada. Tas darurat berguna jika warga harus mengungsi sementara.
Jangan Percaya Informasi Hoaks
Setelah bencana, informasi hoaks sering menyebar dengan cepat. Misalnya kabar akan terjadi gempa besar susulan pada jam tertentu, prediksi tsunami tanpa sumber resmi, atau informasi palsu tentang bantuan.
Masyarakat perlu memastikan informasi hanya berasal dari kanal resmi BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, atau lembaga terpercaya. Jangan menyebarkan pesan berantai yang tidak jelas sumbernya karena dapat menimbulkan kepanikan.
Jika menemukan informasi mencurigakan, cek kembali melalui situs resmi BMKG atau kanal resmi pemerintah. Dalam kondisi bencana, informasi yang akurat sangat penting untuk keselamatan warga.
Daerah yang Perlu Lebih Waspada
Wilayah yang dekat dengan pusat gempa, termasuk Palu, Sigi, dan daerah sekitarnya, perlu meningkatkan kewaspadaan. Warga di daerah perbukitan atau lereng juga harus memperhatikan potensi longsor, terutama jika setelah gempa terjadi hujan.
Bangunan sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, kantor, dan rumah warga perlu dicek kondisinya. Jika ada kerusakan, aktivitas di bangunan tersebut sebaiknya ditunda sampai dipastikan aman.
Warga yang berada di pengungsian juga perlu menjaga kesehatan. Pastikan air minum bersih, makanan aman, anak-anak terlindungi, dan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, bayi, serta penyandang disabilitas mendapat perhatian khusus.
Pelajaran Mitigasi dari Gempa Sulteng
Sulawesi Tengah merupakan wilayah yang memiliki risiko gempa. Karena itu, mitigasi bencana perlu terus diperkuat. Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul, dan cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi.
Sekolah, kantor, dan fasilitas umum sebaiknya rutin melakukan simulasi evakuasi. Simulasi dapat membantu warga bergerak lebih tenang saat gempa benar-benar terjadi.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan bangunan publik memenuhi standar keamanan. Infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, jembatan, dan kantor layanan publik harus dievaluasi agar lebih tahan terhadap risiko bencana.
Kesimpulan
Gempa M6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami, tetapi warga diminta tetap waspada terhadap gempa susulan. Pemerintah daerah juga menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan.
Warga di wilayah terdampak perlu mengikuti informasi resmi, menghindari bangunan rusak, menyiapkan tas darurat, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
FAQ
Kapan gempa M6,7 Sulawesi Tengah terjadi?
Gempa terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.27 WIB.
Di mana pusat gempa M6,7 Sulawesi Tengah?
BMKG mencatat pusat gempa berada 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah.
Apakah gempa M6,7 Sulawesi Tengah berpotensi tsunami?
BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Apakah warga perlu waspada gempa susulan?
Ya, BMKG mengimbau warga berhati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi.
Berapa lama status tanggap darurat Sulteng?
Gubernur Sulawesi Tengah menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari, 17–23 Juni 2026.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : redaksiku
Editor : redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






